PSM Makassar Ditantang Arema FC, Momen Juku Eja Putus Rekor Buruk

MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — PSM Makassar menghadapi ujian penting saat menjamu Arema FC pada lanjutan Super League 2026/27. Duel yang berlangsung di Stadion Gelora B.J. Habibie, Parepare, Minggu (13/9/2026), menjadi kesempatan bagi Juku Eja untuk bangkit sekaligus memutus dominasi Singo Edan dalam lima pertemuan terakhir.

Arema FC datang dengan catatan yang lebih baik. Dalam lima duel terakhir kedua tim, PSM belum sekalipun meraih kemenangan. Arema mencatat empat kemenangan dan satu hasil imbang.

Pertemuan terakhir kedua tim berlangsung pada 9 Mei 2026. Saat itu, Arema FC menang telak 3-0 atas PSM Makassar di Stadion Kanjuruhan.

Sebelumnya, Arema juga berhasil mencuri kemenangan saat bertandang ke Parepare. Pada 19 Oktober 2025, Singo Edan mengalahkan PSM dengan skor 2-1.

Dua hasil tersebut membuat PSM belum mampu mengalahkan Arema dalam dua pertemuan terakhir di kompetisi liga.

Rangkaian hasil negatif itu berlanjut sejak Februari 2025 ketika kedua tim bermain imbang 1-1. Setelah itu, Arema menang 1-0 atas PSM pada September 2024 dan kembali menang 3-2 pada musim sebelumnya.

Catatan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi PSM. Juku Eja tidak hanya membutuhkan tiga poin, tetapi juga harus mengakhiri tren hasil yang terus menguntungkan Arema.

Meski demikian, sejarah pertemuan kedua tim dalam periode yang lebih panjang menunjukkan bahwa PSM tetap memiliki peluang. Data resmi ILeague mencatat sembilan pertemuan dalam rangkaian kompetisi terbaru dengan masing-masing tim mengoleksi empat kemenangan dan satu laga berakhir imbang.

PSM bahkan pernah mencatat kemenangan meyakinkan atas Arema. Pada Oktober 2023, Juku Eja menang 3-0 di Parepare. PSM juga menang 1-0 saat bertandang ke markas Arema pada Februari 2023 dan kembali menang dengan skor yang sama ketika menjamu Singo Edan pada Agustus 2022.

Artinya, Arema bukan lawan yang tidak bisa ditaklukkan. Persoalannya, PSM harus kembali menemukan konsistensi permainan yang pernah membawa mereka meraih kemenangan atas tim asal Malang tersebut.

Salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian PSM adalah efektivitas dalam memanfaatkan peluang.

Pada pertemuan terakhir di Kanjuruhan, PSM sebenarnya mampu menguasai bola hingga 58 persen dan melepaskan 20 tembakan. Namun, Arema tetap mampu menang 3-0 karena lebih efektif dalam memanfaatkan peluang.

Sebaliknya, Arema hanya mencatat 42 persen penguasaan bola, tetapi mampu menghasilkan 11 tembakan dengan tujuh di antaranya mengarah ke gawang. PSM memang memiliki jumlah tembakan lebih banyak, tetapi hanya enam yang tepat sasaran.

Statistik tersebut menunjukkan bahwa dominasi penguasaan bola belum cukup untuk menghasilkan kemenangan. PSM harus mampu mengubah kontrol permainan menjadi peluang berkualitas dan kemudian menyelesaikannya dengan efektif.

Selain penyelesaian akhir, transisi permainan juga menjadi perhatian. PSM harus mampu mengantisipasi serangan cepat Arema, terutama ketika kehilangan bola dan meninggalkan ruang di area pertahanan.

Lini belakang Juku Eja dituntut menjaga konsentrasi sepanjang pertandingan. Kesalahan kecil dapat dimanfaatkan Arema, yang sudah beberapa kali menunjukkan kemampuan menghukum PSM dalam pertemuan sebelumnya.

Pertandingan kali ini memberikan keuntungan bagi PSM karena berlangsung di Stadion Gelora B.J. Habibie, Parepare. Dukungan suporter diharapkan mampu meningkatkan motivasi pemain sekaligus menciptakan tekanan bagi tim tamu.

Namun, keuntungan sebagai tuan rumah tidak otomatis menjamin kemenangan. Arema bahkan pernah meraih kemenangan di Parepare ketika mengalahkan PSM 2-1 pada Oktober 2025.

Karena itu, PSM harus mampu memanfaatkan dukungan suporter tanpa kehilangan keseimbangan permainan.

Gol cepat juga dapat menjadi faktor penting. Jika mampu membuka keunggulan lebih dahulu, PSM berpeluang mengontrol jalannya pertandingan dan memaksa Arema bermain lebih terbuka.

Sebaliknya, kegagalan memanfaatkan peluang dapat membuat tekanan semakin besar seiring berjalannya waktu. Pemain PSM harus tetap tenang dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.

Laga melawan Arema memiliki arti lebih besar bagi PSM karena Juku Eja masih berusaha membangun fondasi yang lebih stabil pada Super League 2026/27.

Musim sebelumnya menjadi periode sulit bagi PSM. Juku Eja mengakhiri Super League 2025/26 di posisi ke-15 dan hanya berjarak satu tingkat dari zona degradasi.

PSM akhirnya bertahan di kasta tertinggi setelah unggul dalam catatan head-to-head atas Persis Solo.

Pengalaman tersebut menjadi peringatan agar PSM tidak kembali terjebak dalam persaingan papan bawah. Karena itu, setiap pertandingan pada awal musim memiliki arti penting untuk membangun momentum.

Kemenangan atas Arema akan memberikan tambahan tiga poin sekaligus meningkatkan kepercayaan diri tim. Sebaliknya, hasil negatif berpotensi memperpanjang tekanan, terutama karena Arema memiliki keunggulan psikologis dari hasil beberapa pertemuan terakhir.

Meski demikian, rekor masa lalu tidak menentukan hasil pertandingan. PSM memiliki sejarah kemenangan atas Arema dan kini memiliki kesempatan untuk mengubah tren tersebut.

Kunci pertandingan terletak pada kemampuan Juku Eja memanfaatkan peluang, menjaga organisasi pertahanan, serta mengendalikan transisi permainan.

PSM harus mampu menggabungkan agresivitas saat menyerang dengan disiplin ketika bertahan. Jika mampu menjalankan hal tersebut, peluang untuk mengakhiri rekor buruk atas Arema terbuka.

Pertandingan 13 September 2026 pun menjadi lebih dari sekadar perebutan tiga poin. Bagi PSM Makassar, duel tersebut merupakan kesempatan untuk menunjukkan bahwa Juku Eja siap bangkit dan membangun momentum baru di Super League 2026/27. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan