Strategi Pemkab Bantaeng Hadapi Kemarau Panjang di Tengah Anjloknya Panen Jagung

Dok: Istimewa

MENITNEWS.CO.ID, BANTAENG — Dampak fenomena iklim El Nino mulai menekan sektor pangan di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Meski kinerja ekonomi pertanian setempat masih mencatat pertumbuhan positif pada Triwulan II 2026, hasil panen dua komoditas pangan utama—padi dan jagung—mengalami penurunan drastis akibat menyusutnya ketersediaan air.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bantaeng menunjukkan produksi padi merosot hingga 26 persen seiring berkurangnya luas lahan panen. Penurunan lebih tajam terjadi pada tanaman jagung yang anjlok mencapai 42 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Ketua Tim Statistik Produksi BPS Kabupaten Bantaeng, Hikmawati, mengonfirmasi bahwa pemicu utama penurunan pasokan pangan ini berkaitan erat dengan anomaly iklim yang mulai menerjang wilayah tersebut.

“Penurunan produksi komoditas pertanian ini disebabkan oleh fenomena El Nino yang telah mulai terjadi pada triwulan II 2026,” ujar Hikmawati dalam keterangan tertulisnya.

Ancaman Kekeringan dan Pergeseran Komoditas

Tekanan terhadap pasokan pangan berpotensi berlanjut seiring proyeksi cuaca ekstrem. BMKG Sulawesi Selatan memperkirakan curah hujan terus menurun pasca-Mei hingga Juli 2026, dengan puncak musim kemarau menerjang Bantaeng pada Agustus hingga September 2026.

Menanggapi situasi ini, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bantaeng, Mahyuddin, menjelaskan bahwa terbatasnya pasokan air memaksa terjadinya perubahan pola tanam di tingkat petani. Sebagian petani mulai meninggalkan tanaman pangan berbasis air tinggi dan beralih ke tanaman hortikultura yang lebih toleran.

Eskalasi ini terlihat dari produksi cabai besar dan cabai keriting yang justru melonjak lebih dari 50 persen. Sebaliknya, komoditas hortikultura lain seperti bawang merah, cabai rawit, dan kentang turut mencatatkan penurunan.

“Pertanian kita tetap tumbuh 1,97 persen dan memberikan kontribusi 25,13 persen terhadap PDRB Bantaeng. Namun kita juga menghadapi penurunan produksi padi dan jagung. Salah satu kondisi yang kita hadapi adalah berkurangnya ketersediaan air pada sejumlah wilayah pertanian,” ungkap Mahyuddin dalam keterangannya.

Menurut Mahyuddin, petani di kawasan beririgasi masih sanggup mempertahankan pengolahan lahan. Namun, risiko kegagalan panen mengintai kawasan pertanian tadah hujan yang sangat bergantung pada intensitas hujan harian.

“Petani menyesuaikan kegiatan budidayanya dengan kondisi air, musim dan komoditas yang memungkinkan dikembangkan. Tetapi produksi tanaman pangan, khususnya padi dan jagung, tetap harus kita jaga,” tambah Mahyuddin.

Langkah Mitigasi dan Percepatan Tanam

Untuk menekan laju penurunan produksi pada musim tanam berikutnya, Pemerintah Kabupaten Bantaeng memetakan kembali zonasi lahan berbasis ketersediaan air. Petani di kawasan berpasokan air cukup diimbau melakukan percepatan tanam dengan mengandalkan varietas benih genjah atau berumur pendek.

Sementara itu, untuk kawasan kritis air, pemerintah melarang pemaksaan penanaman guna menghindari gagal panen total (puso). Dinas Pertanian juga memperketat pengawasan organisme pengganggu tanaman, pendampingan penyuluh, serta menyiapkan penangkaran benih lokal melalui UPT Balai Benih Tanaman Pangan (BBTP).

“Yang kita jaga bukan hanya bagaimana petani bisa menanam, tetapi bagaimana mereka menanam pada waktu yang tepat, dengan komoditas yang tepat dan dukungan yang tepat. Produksi tanaman pangan harus kita amankan, produktivitas kita tingkatkan, dan kesejahteraan petani tetap menjadi tujuan utama,” pungkas Mahyuddin.

Dampak penurunan produksi pangan di Bantaeng ini berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan komoditas beras dan pakan di kawasan tetangga, termasuk distribusi menuju pasokan pasar induk di Kota Makassar dan sekitarnya. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan