MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Fenomena El Nino memicu penurunan signifikan pada produksi listrik berbasis air di wilayah Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel). PT PLN (Persero) mencatat daya mampu pembangkit hidro menyusut hingga 600 Megawatt (MW), dari yang sebelumnya sekitar 850 MW menjadi tinggal 250 MW.
Merosotnya performa sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) seperti Poso, Bakaru, dan Malea membuat sistem kelistrikan setempat harus menerapkan pengaturan beban di beberapa wilayah.
Kondisi tersebut dibahas dalam pertemuan koordinasi antara jajaran PLN Regional Sulawesi dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Makassar, Kamis (10/9/2026).

Gubernur Sulawesi Selatan menyatakan, dampak pengaturan beban saat ini sudah mulai berkurang untuk kawasan ibu kota provinsi, meski beberapa daerah lain masih harus menanti pemulihan pasokan.
“Untuk wilayah Makassar, kondisi sistem saat ini sudah semakin membaik sehingga pengaturan beban dapat diminimalkan. Namun, di beberapa wilayah lainnya masih terdapat pengaturan beban karena daya mampu pasok sistem belum sepenuhnya kembali optimal,” ujar Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman dalam keterangan resminya.
Gubernur mengimbau masyarakat untuk memahami kendala teknis dan iklim yang sedang dihadapi serta meminta warga bersabar selama proses perbaikan berlangsung.
Langkah Mitigasi dan Pemulihan Pembangkit
Untuk mengatasi defisit daya, General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar), Edyansyah, menjelaskan bahwa PLN tengah menjalankan sejumlah langkah penanganan secara berurutan.
PLN memberi perhatian khusus pada pemulihan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeneponto agar dapat segera memasok listrik kembali ke jaringan Sulbagsel secara optimal.
“Kami tidak hanya fokus pada satu langkah. Berbagai upaya kami jalankan secara paralel, mulai dari pemulihan pembangkit, optimalisasi pembangkit yang tersedia, hingga mendorong tambahan pasokan,” kata Edyansyah dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.
Selain perbaikan unit pembangkit termal, PLN bekerja sama dengan pemangku kepentingan untuk menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Langkah ini ditujukan untuk memicu hujan buatan di area tangkapan air guna mengisi kembali debit waduk dan sungai penopang PLTA.
PLN menyatakan pengoperasian sistem penyaluran listrik terus dipantau secara real-time untuk menyesuaikan dinamika beban masyarakat dengan daya yang tersedia di lapangan. (*)



