MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — PT PLN (Persero), menempuh berbagai langkah percepatan untuk meningkatkan daya mampu pasok.
Sekaligus memulihkan keseimbangan antara pasokan, dan kebutuhan listrik pada Sistem Kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel).
Kondisi tersebut menjadi perhatian PLN menyusul penurunan daya mampu sejumlah pembangkit hidro yang dipengaruhi kondisi hidrologi akibat fenomena El Nino.
Penurunan produksi terjadi pada sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), di antaranya PLTA Poso, PLTA Bakaru, dan PLTA Malea, serta sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM).
General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar), Edyansyah, mengatakan kondisi tersebut berdampak terhadap kemampuan pasok Sistem Sulbagsel.
Menurutnya, daya mampu pembangkit hidro yang sebelumnya berada di kisaran 850 megawatt (MW) kini turun menjadi sekitar 250 MW. Dengan demikian, terdapat penurunan daya mampu sekitar 600 MW.
“Penurunan daya mampu pembangkit hidro menjadi salah satu tantangan yang kami hadapi dalam menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik di Sistem Sulbagsel. Kondisi hidrologi yang dipengaruhi fenomena El Nino berdampak pada produksi sejumlah pembangkit hidro, sehingga daya mampu pasok mengalami penurunan yang cukup signifikan,” ujar Edyansyah, Jumat (18/9/2026).
Menghadapi kondisi tersebut, PLN melakukan sejumlah langkah secara paralel untuk meningkatkan kembali kemampuan pasok sistem.
Salah satunya dengan mengoptimalkan pembangkit yang masih tersedia serta mempercepat proses pemulihan dan perbaikan PLTU Jeneponto yang mengalami kendala teknis.

PLN juga mendorong tambahan pasokan dari pembangkit lainnya untuk memperkuat kemampuan sistem kelistrikan Sulbagsel.
“Kami terus melakukan langkah-langkah percepatan secara paralel. Setiap tambahan megawatt sangat berarti untuk memperkuat sistem. Karena itu, seluruh potensi pembangkit yang tersedia terus kami optimalkan, sementara proses pemulihan dan perbaikan pembangkit juga terus dikawal,” kata Edyansyah.
Selain optimalisasi pembangkit, PLN melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan sebagai bagian dari upaya mitigasi terhadap kondisi hidrologi.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk meningkatkan potensi ketersediaan air yang dapat mendukung operasional pembangkit hidro.
Di sisi operasional, PLN juga terus memantau kondisi Sistem Sulbagsel secara real time. Pola operasi pembangkit disesuaikan dengan kondisi pasokan dan kebutuhan listrik untuk menjaga kestabilan sistem.
Langkah tersebut sekaligus dilakukan untuk mempercepat pemulihan kapasitas pasokan listrik di tengah penurunan daya mampu pembangkit hidro.
“Kami memahami kondisi ini berdampak kepada masyarakat. Karena itu, PLN terus berupaya mempercepat pemulihan dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia,” ujar Edyansyah.
Ia menambahkan, PLN akan terus mengevaluasi perkembangan sistem secara berkala untuk memastikan langkah pemulihan dapat dilakukan sesuai dengan kondisi pasokan dan kebutuhan listrik.
“Kami (PLN) akan terus mengevaluasi perkembangan sistem dari waktu ke waktu agar keseimbangan suplai dan kebutuhan listrik dapat segera kembali,” pungkasnya. (*)



