MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk menegaskan bahwa, keberlanjutan industri nikel nasional tidak hanya bergantung pada volume cadangan mineral yang besar.
Melainkan juga pada kredibilitas data, perencanaan tambang yang matang, serta tata kelola sumber daya yang bertanggung jawab demi menciptakan nilai jangka panjang.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Head of Exploration, Geoscience, and Study PT Vale Indonesia Tbk, Tyas Rabudianto, saat hadir sebagai panelis dalam Competent Person Indonesia (CPI) Forum 2026 di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Mengusung topik “From Reserves Sustainability to Indonesia’s Energy Transition”, Tyas memaparkan bagaimana pengelolaan sektor pertambangan mineral harus terintegrasi langsung dengan agenda transisi energi global.
Head of Exploration, Geoscience, and Study PT Vale Indonesia Tbk, Tyas Rabudianto, menungkapkan berdasarkan data perusahaan per akhir 2025, PT Vale mencatatkan cadangan terbukti dan terkira (proven and probable mineral reserves) yang kuat, yakni sebesar 695,57 juta Wet Metric Ton (WMT) untuk komoditas limonit dan 480,40 juta WMT untuk saprolit.
”Melalui portofolio tersebut, perusahaan terus memperkuat keberlanjutan sumber daya lewat eksplorasi lanjutan serta inovasi teknologi pengolahan,” terang Head of Exploration, Geoscience, and Study PT Vale Indonesia Tbk, Tyas Rabudianto.

Pemanfaatan bijih saprolit diarahkan untuk menghasilkan nikel matte, sementara pengolahan limonit dioptimalkan melalui penerapan teknologi High-Pressure Acid Leaching (HPAL).
Strategi ini dinilai krusial untuk mengoptimalkan nilai tambah setiap sumber daya, memperkuat hilirisasi mineral, serta mengamankan rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik (electric vehicle).
Kendati demikian, PT Vale menekankan bahwa hilirisasi yang berkelanjutan harus senantiasa berjalan beriringan dengan praktik pertambangan yang bertanggung jawab, efisiensi energi, serta perlindungan lingkungan hidup guna menekan emisi karbon dalam fondasi produksi.
Dalam forum yang sama, PT Vale Indonesia juga menyoroti pentingnya peran Competent Person Indonesia (CPI) serta penerapan Kode Komite Cadangan Mineral Indonesia (KCMI).
Keduanya dinilai sebagai pilar fundamental dalam memastikan transparansi, akuntabilitas, dan kredibilitas pelaporan sumber daya.
“Serta cadangan mineral yang menjadi landasan utama bagi investasi, percepatan hilirisasi, dan kesuksesan transisi energi di Indonesia,” pungkas Head of Exploration, Geoscience, and Study PT Vale Indonesia Tbk, Tyas Rabudianto. (Adv)



