MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Warga Perumahan Royal Sentraland BTP, Makassar, mengeluhkan kualitas air yang didistribusikan ke rumah-rumah warga dalam beberapa pekan terakhir.
Selain aliran air yang kerap terhenti hingga berjam-jam, warga mengaku mendapati air berbau menyengat, keruh, serta berubah warna.
Penghentian aliran air disebut dapat berlangsung sekitar 8 hingga 10 jam, mulai pagi hingga sore hari. Kondisi tersebut dinilai mengganggu aktivitas warga, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Salah seorang warga, Popy, yang merupakan pengusaha galeri wedding di kawasan Royal Sentraland BTP, mengatakan persoalan kualitas air tersebut bukan baru terjadi sekali. Menurutnya, kondisi air terkadang normal, tetapi pada waktu tertentu kembali keruh dan mengeluarkan bau tidak sedap.
“Kadang airnya baik, kadang buruk. Bahkan ketika keruh dan berbau, air tersebut tidak bisa kami gunakan untuk kebutuhan sanitasi,” keluhnya, Senin (7/9/2026).
Warga menyebut kondisi air secara fisik terlihat kecokelatan hingga kekuningan dan terkadang berbusa. Bau yang muncul juga disebut cukup menyengat dan menyerupai bau bangkai.
Saat pertama kali dialirkan, air disebut sudah terlihat keruh. Setelah ditampung dalam ember dan didiamkan beberapa saat, warga mengaku bau serta kekeruhan air tetap tidak hilang.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air galon dibeli untuk kebutuhan memasak, sementara air dari sumber lain digunakan untuk mandi dan mencuci.
Warga mengaku telah menyampaikan persoalan tersebut kepada pihak pengelola atau pengembang. Namun, hingga kini mereka menilai belum memperoleh penjelasan resmi mengenai penyebab gangguan maupun kualitas air yang didistribusikan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian warga adalah keterbukaan hasil pemeriksaan kualitas air. Warga mengaku telah beberapa kali meminta hasil uji laboratorium air bersih yang digunakan untuk memastikan kualitas air yang didistribusikan ke rumah-rumah.
Namun, menurut warga, hasil uji laboratorium tersebut belum disampaikan secara terbuka kepada penghuni perumahan.
“Kami meminta hasil uji laboratorium diperlihatkan kepada warga agar ada kepastian mengenai kualitas air yang kami gunakan setiap hari,” ujar warga.
Selain persoalan hasil uji laboratorium, warga juga mempertanyakan pengelolaan instalasi pengolahan air atau Water Treatment Plant (WTP) di kawasan tersebut.
Mereka berharap pihak pengelola dapat memberikan informasi mengenai sistem pengolahan air yang digunakan, sumber air baku, hingga kompetensi tenaga yang menangani fasilitas pengolahan air tersebut.
Pertanyaan tersebut muncul karena warga menginginkan adanya jaminan bahwa air yang didistribusikan telah melalui proses pengolahan dan pemeriksaan sesuai standar yang berlaku.
Warga juga mempertanyakan tagihan layanan air yang tetap dibebankan ketika air yang diterima dalam kondisi keruh atau berbau.
Menurut mereka, penghuni tetap membayar Iuran Pemeliharaan Lingkungan (IPL) yang di dalamnya mencakup sejumlah layanan, termasuk air, kebersihan, dan keamanan. Karena itu, warga berharap layanan yang diterima sebanding dengan kewajiban pembayaran yang dibebankan.
“Kami semua membayar IPL untuk air, kebersihan, dan keamanan. Kami berharap layanan yang diberikan sesuai dengan yang menjadi hak warga,” ungkapnya.
Persoalan tersebut sebelumnya sempat ramai di media sosial TikTok setelah salah seorang warga melakukan siaran langsung dan menyampaikan kondisi air di kawasan perumahan.
Warga berharap pemberitaan mengenai persoalan tersebut dapat mendorong pengembang dan pengelola Royal Sentraland BTP segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyediaan air.
Mereka meminta agar sumber persoalan dapat diketahui secara jelas dan dilakukan perbaikan permanen sehingga kualitas air yang diterima warga tidak kembali mengalami masalah serupa.
Warga juga berharap adanya komunikasi terbuka antara pengelola dan penghuni, termasuk penyampaian hasil pemeriksaan laboratorium serta penjelasan mengenai sistem pengolahan dan distribusi air.
Sementara itu, Saiful selaku Manager Estate Royal Sentraland BTP yang dikonfirmasi secara terpisah terkait keluhan warga tersebut, belum memberikan tanggapan.
Pesan yang dikirimkan melalui WhatsApp (WA), hingga berita ini ditayangkan belum mendapat respons. (*)



