Lari Tanpa Alas Kaki Demi Buku Sekolah Anak, Potret Getir Buruh Tani di India

Ramabai Ranveer mengikuti lomba lari sejauh 3 km dengan harapan bisa membawa pulang hadiah uang tunai yang cukup untuk membeli buku bagi putrinya. (Sumber: Kiran Sakle/BBC)

MENITNEWS.CO.ID, BEED — Seorang ibu tunggal berusia 47 tahun di Negara Bagian Maharashtra, India, terpaksa berlari tanpa alas kaki dalam sebuah perlombaan komunitas demi mendapatkan uang hadiah untuk membiayai pendidikan kedua putrinya.

Aksi Ramabai Ranveer yang berhasil melintasi garis finis pertama di kategori usia 30–60 tahun tersebut menarik perhatian publik luas setelah rekaman videonya viral di media sosial.

Ramabai, seorang buruh tani yang menjadi satu-satunya pencari nafkah keluarga sejak suaminya meninggal pada 2012, awalnya tidak berniat menjadi atlet. Ia memutuskan ikut serta dalam lomba lari jarak tiga kilometer tersebut setelah putri bungsunya, Arati, mengalami kesulitan membeli buku pelajaran. Uang hadiah sebesar 3.000 rupee (sekitar Rp554.400) yang didapatnya langsung direncanakan untuk membeli peralatan belajar.

Saat perlombaan berlangsung, alas kaki yang digunakannya terus terlepas. Ramabai lantas melepas sandalnya, menyingkap sedikit kain sari yang dikenakan, dan terus melaju meninggalkan peserta lainnya.

Dalam wawancaranya kepada BBC News Marathi yang disadur Menitnews.co.id, Ramabai mengungkapkan keteguhan hatinya untuk memprioritaskan pendidikan anak-anaknya di tengah keterbatasan ekonomi.

“Saya percaya selama masih hidup, saya harus melakukan segala yang saya bisa agar putri-putri saya mendapatkan pendidikan yang baik,” ujar Ramabai.

Putri sulungnya, Pooja, turut meraih juara kedua dalam kategori usianya. Saat ini, Pooja sedang bersiap mengikuti seleksi rekrutmen kepolisian, sementara Arati berambisi menembus seleksi layanan sipil.

Meski nominal hadiah tersebut relatif kecil dan belum memadai untuk biaya bimbingan belajar (cram school) atau pendidikan tinggi yang sangat kompetitif di India, aksi Ramabai memicu perdebatan nasional mengenai aksesibilitas pendidikan bagi masyarakat kelas bawah.

Para pengamat menilai peristiwa ini menjadi cermin lemahnya jangkauan program bantuan pemerintah di tingkat tapak. Mantan Ketua Komisi Hibah Universitas India, Sukhadeo Thorat, menyoroti fenomena ini sebagai bentuk kegagalan penyerapan bantuan sosial.

“Jika seorang perempuan harus berjuang sekeras ini demi pendidikan putri-putrinya, itu menunjukkan bahwa program pendidikan pemerintah belum menjangkau masyarakat secara memadai,” tegas Sukhadeo Thorat.

Kisah tersebut juga memicu respons dari otoritas yudisial. Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, memerintahkan pejabat setempat untuk menyerahkan bantuan keuangan sebesar 50.000 rupee (sekitar Rp9,24 juta) kepada keluarga Ramabai.

Gisik perjuangan Ramabai mencerminkan tantangan berat yang dihadapi jutaan keluarga kelas pekerja—baik di India maupun di negara berkembang lain termasuk Indonesia—dalam mengarungi ketatnya persaingan seleksi kerja sektor publik serta mahalnya akses penunjang pendidikan. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan