MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — PT PLN (Persero) tidak hanya fokus memulihkan sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel), tetapi juga menyiapkan strategi penguatan jangka panjang agar sistem kelistrikan lebih beragam, fleksibel, dan resilien.
Salah satu strategi tersebut dilakukan melalui rencana pengembangan sekitar 5,2 gigawatt peak (GWp) Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan 8,2 gigawatt hour (GWh) Battery Energy Storage System (BESS) hingga 2029.
Pengembangan PLTS dan BESS menjadi bagian dari upaya PLN memperkuat ketahanan Sistem Sulbagsel sekaligus menghadirkan sumber energi yang lebih beragam.
Langkah ini dinilai penting karena kondisi pembangkit, khususnya pembangkit berbasis hidro, sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrologi.
Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Sripeni Inten Cahyani, mengatakan kondisi kelistrikan di Sulawesi menunjukkan pentingnya kesiapan sistem dalam menghadapi perubahan kondisi alam.
Hal tersebut disampaikan Sripeni saat mengunjungi Kantor PLN Unit Pelaksana Pengatur Beban (UP2B) Sistem Makassar, baru-baru ini.
Menurut Sripeni, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) memiliki kontribusi cukup besar terhadap sistem kelistrikan Sulawesi, yakni sekitar 30 persen. Sementara pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara berkontribusi sekitar 20 persen.
“Kita semua tahu bahwa kondisi saat ini ada beberapa kombinasi, yaitu dari cuaca, karena kita mengalami masa El Nino yang panas dan kemarau cukup panjang di Sulawesi ini. PLTA itu mengambil peran sekitar 30 persen, lalu kemudian PLTU batu bara juga mengambil peran sekitar 20 persen,” kata Sripeni.
Menurut dia, kondisi kemarau membuat upaya menjaga produksi energi menjadi semakin penting. Salah satu langkah yang dilakukan adalah modifikasi cuaca dan hujan buatan untuk membantu mempertahankan ketersediaan air bagi PLTA.
Di sisi lain, PLN juga mengupayakan pembangkit batu bara yang sebelumnya menjalani pemeliharaan dapat kembali beroperasi untuk memperkuat pasokan listrik.
“Saat ini PLTU Batubara sedang diupayakan untuk masuk kembali setelah mereka melakukan pemeliharaan,” ujar Sripeni.
Sripeni juga menyebut kondisi kelistrikan Sulawesi Selatan mulai berangsur membaik. Hal itu terlihat dari semakin berkurangnya wilayah yang terdampak pengaturan pasokan listrik dalam sepekan terakhir.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pembelajaran mengenai pentingnya membangun sistem kelistrikan yang mampu beradaptasi terhadap perubahan kondisi alam dan ketersediaan sumber energi.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, PLN menyiapkan pengembangan PLTS dan BESS sebagai bagian dari strategi jangka panjang memperkuat Sistem Sulbagsel.

PLTS akan menambah pasokan listrik dari energi surya. Sementara BESS berfungsi menyimpan energi sehingga dapat mendukung fleksibilitas sistem ketika produksi pembangkit energi terbarukan mengalami perubahan.
BESS juga dapat membantu sistem ketika daya mampu pembangkit hidro mengalami penurunan akibat perubahan kondisi hidrologi.
Dengan kombinasi PLTS dan BESS, sistem kelistrikan Sulbagsel diharapkan memiliki sumber pasokan yang lebih beragam serta kemampuan lebih fleksibel dalam menyesuaikan kebutuhan listrik dengan ketersediaan pembangkit.
Pengembangan tersebut dilakukan secara bertahap. Tahap awal diarahkan pada pemulihan daya mampu pembangkit yang tersedia serta penyiapan pembangkit sementara.
Selanjutnya, PLN mendorong penguatan sistem melalui pengembangan PLTS dan BESS hingga 2029.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar), Edyansyah, mengatakan proses pemulihan sistem yang dilakukan saat ini berjalan beriringan dengan penyiapan fondasi sistem kelistrikan untuk kebutuhan jangka panjang.
“Kondisi yang kita hadapi saat ini menjadi pembelajaran bahwa sistem kelistrikan membutuhkan sumber pasokan yang beragam. Karena itu, selain melakukan pemulihan dan optimalisasi pembangkit yang ada, PLN juga menyiapkan penguatan sistem dalam jangka panjang melalui pengembangan PLTS dan BESS,” jelas Edyansyah, Rabu (23/9/2026).
Edyansyah mengatakan penguatan Sistem Sulbagsel ke depan tidak hanya berorientasi pada penambahan kapasitas pembangkitan. PLN juga memperkuat kemampuan sistem untuk beradaptasi terhadap perubahan kondisi sumber energi.
Pengembangan PLTS dan BESS menjadi bagian dari strategi tersebut untuk menghadirkan sumber pasokan yang lebih beragam sekaligus meningkatkan fleksibilitas pengelolaan sistem.
“Apa yang kami lakukan saat ini tidak berhenti pada upaya memulihkan kondisi sistem. Kami juga menyiapkan fondasi agar sistem Sulbagsel ke depan semakin beragam, fleksibel, dan resilien. Dengan sistem yang lebih kuat dan adaptif, kami berharap kebutuhan listrik masyarakat serta pertumbuhan ekonomi di Sulawesi dapat didukung secara berkelanjutan,” lanjutnya.
PLN menyiapkan penguatan Sistem Sulbagsel melalui sejumlah tahapan yang saling terintegrasi. Selain mengoptimalkan dan memulihkan pembangkit yang ada, PLN juga mendorong penambahan kapasitas pembangkitan dan pengembangan energi terbarukan.
Pengembangan PLTS dan BESS juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber pembangkitan tertentu sekaligus memberikan fleksibilitas dalam mengelola sistem ketika produksi pembangkit energi terbarukan mengalami perubahan.
PLN memastikan pemulihan sistem kelistrikan saat ini tetap menjadi prioritas. Optimalisasi pembangkit yang tersedia, percepatan pemulihan pembangkit yang mengalami kendala, serta berbagai langkah mitigasi terus dilakukan untuk menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik.
Pada saat yang sama, PLN menyiapkan penguatan jangka panjang agar Sistem Sulbagsel tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan listrik saat ini, tetapi juga memiliki ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi dinamika sumber energi dan pertumbuhan kebutuhan listrik di masa mendatang. (*)



