Program MAGOTTA di Kecamatan Wajo: Sampah Organik Ditukar Telur, Jadi Solusi Pakan Ayam dan Urban Farming

MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Inovasi pengelolaan sampah organik terus dikembangkan masyarakat di Kecamatan Wajo, Kota Makassar. Salah satunya melalui program MAGOTTA (Maggot Tukar Telur Ayam) yang dirintis warga RW 4, Kelurahan Butung, sebagai upaya mengurangi sampah sekaligus mendukung budidaya ayam kampung dan pertanian perkotaan.

Program MAGOTTA diinisiasi Ketua RW 4, Triman, bersama Ketua RT 004 dan RT 003, Sri dan Wahyu Syamsul Kabir, SH, serta didukung oleh Pemerintah Kelurahan Butung.

Program tersebut menjadi model siklus budidaya maggot dan ayam kampung yang dikembangkan lintas kelurahan di Kecamatan Wajo. Sampah organik yang sebelumnya menjadi limbah dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Selanjutnya, maggot digunakan sebagai salah satu sumber pakan berprotein tinggi untuk ayam kampung jenis Joper.

Siklus tersebut tidak berhenti pada pemanfaatan maggot sebagai pakan. Kotoran maggot atau yang dikenal sebagai gasgot dimanfaatkan sebagai media tanam, sementara cangkang maggot dapat diolah menjadi pupuk organik.

Dengan pola tersebut, pengelolaan sampah, peternakan, perikanan, dan urban farming dapat saling terhubung dalam satu ekosistem yang lebih berkelanjutan.

RW 4, khususnya RT 003, saat ini mampu memanfaatkan dan mereduksi sekitar 50 kilogram sampah organik setiap hari melalui budidaya maggot.

Bahkan, karena kebutuhan pakan maggot cukup besar dan pasokan sampah organik dari lingkungan sekitar tidak selalu mencukupi, pengelola mulai menjangkau wilayah Kelurahan Melayu Baru, khususnya kawasan Pasar Bacan.

Sisa sayuran dan sampah organik lainnya dari kawasan tersebut dimanfaatkan sebagai pakan maggot sehingga memiliki nilai guna dan tidak langsung berakhir sebagai sampah.

Saat ini, populasi maggot pada fase rakus dan baby maggot yang dibudidayakan di RW 4 Kelurahan Butung mencapai sekitar 15 hingga 20 kilogram.

Pengembangan MAGOTTA juga terhubung dengan program urban farming yang telah dikembangkan di Kelurahan Butung.

Kelurahan Butung diketahui telah mengembangkan peternakan ayam kampung Joper sebanyak 20 ekor. Selain peternakan ayam, warga juga mengembangkan budidaya ikan, termasuk ikan nila dan lele.

Konsep tersebut memungkinkan terjadinya siklus pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan. Maggot yang dihasilkan dari pengolahan sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan hasil samping budidaya maggot dapat dikembalikan ke sektor pertanian sebagai bahan pendukung media tanam dan pupuk organik.

Di sisi lain, pemanfaatan lahan sempit juga terus dilakukan warga RW 4 dengan menanam berbagai jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar. Kegiatan ini berjalan berdampingan dengan program urban farming Kelurahan Butung.

Camat Wajo, Ivan Kala’lembang, mengapresiasi inisiatif warga yang mampu menghubungkan pengurangan sampah dengan kegiatan produktif seperti peternakan, perikanan, dan urban farming.

Menurut Ivan, MAGOTTA merupakan contoh bahwa persoalan sampah dapat diubah menjadi peluang yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“MAGOTTA ini merupakan inovasi yang sangat baik karena sampah organik tidak hanya dikurangi, tetapi diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai manfaat. Maggot bisa menjadi pakan berprotein untuk ayam, sementara hasil sampingnya dapat dimanfaatkan untuk pertanian,” ujar Ivan, Sabtu (5/9/2026).

Ia menilai model tersebut dapat terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak lingkungan di Kecamatan Wajo, terutama dalam membangun kesadaran masyarakat untuk memilah dan memanfaatkan sampah dari sumbernya.

Ivan juga mendorong agar kolaborasi antara warga, RT/RW, kelurahan, dan berbagai pihak terus diperkuat sehingga pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada pengurangan volume sampah, tetapi juga menghasilkan manfaat ekonomi dan pangan bagi masyarakat.

MAGOTTA pada dasarnya menjadi rintisan penerapan konsep ekonomi sirkular di tingkat lingkungan. Sampah organik yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi diolah menjadi pakan maggot.

Maggot kemudian dimanfaatkan untuk mendukung peternakan ayam kampung Joper yang menghasilkan telur dan daging. Sementara hasil samping budidaya maggot dapat dikembalikan untuk mendukung kegiatan pertanian perkotaan.

Melalui sistem tersebut, satu jenis limbah dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung sektor lain. Pola ini sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan kegiatan produktif berbasis lingkungan di tengah keterbatasan lahan perkotaan.

Program MAGOTTA di RW 4 Kelurahan Butung menjadi contoh bahwa pengelolaan sampah dapat dilakukan dari tingkat paling dekat dengan masyarakat.

Dengan pemanfaatan sampah organik secara konsisten, lingkungan menjadi lebih bersih sekaligus mampu menghasilkan pakan, pangan, dan bahan pendukung urban farming.

Inisiatif tersebut diharapkan dapat terus berkembang dan direplikasi di lingkungan lain di Kecamatan Wajo sebagai bagian dari upaya membangun pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang produktif dan berkelanjutan. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan