Sentil Komite Nobel, Trump Pamer Rekam Jejak Diplomasi Internasional

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam keterangan pers di Gedung Putih, Senin (31/8/2026). © EPA/Annabelle Gordon

MENITNEWS.CO.ID, WASHINGTON DC — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyentil komite Hadiah Nobel Perdamaian atas rekam jejak diplomasi yang diklaimnya. Trump menyatakan telah berhasil mengakhiri delapan konflik global, tetapi mempertanyakan mengapa pencapaian tersebut belum membuahkannya penghargaan internasional tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Trump di Ruang Oval pada Jumat (4/9/2026), saat menjelaskan pengiriman Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan menantunya, Jared Kushner, untuk membawa gagasan baru dalam menyelesaikan perang Rusia-Ukraina.

“Saya telah mengakhiri delapan perang. Saya harap kalian bangga kepada saya. Saya mengakhiri delapan perang. Saya tidak mendapat penghargaan atas itu. Saya mengakhiri delapan perang. Apakah saya mendapat Nobel? Tidak,” kata Trump.

Trump mengeklaim pemerintahannya memiliki formula untuk menghentikan perselisihan kedua negara. Ia menyebut Witkoff dan Kushner sebagai negosiator andal yang diutus untuk menjajaki kemungkinan kesepakatan damai.

Upaya diplomasi tingkat tinggi tersebut langsung ditindaklanjuti pada akhir pekan. Witkoff dan Kushner menggelar pertemuan selama lebih dari tiga jam dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow pada Sabtu (5/9/2026). Penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, menilai pembicaraan berlangsung terbuka dan konstruktif, meski belum ada pengumuman terobosan besar.

Sehari setelahnya, Ahad (6/9/2026), kedua utus AS meluncur ke Kyiv untuk bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Perundingan tersebut turut dihadiri penasihat keamanan nasional dari Inggris, Prancis, dan Jerman pada sesi akhir. Kunjungan ini menandai kehadiran resmi pertama Witkoff dan Kushner di Ukraina sebagai negosiator perdamaian.

Witkoff mengklaim diskusi di Moskow melahirkan sejumlah gagasan baru yang telah disampaikan kepada Kyiv. Ia berharap putaran baru perundingan langsung antara Rusia dan Ukraina dengan mediasi AS dapat diumumkan dalam waktu dekat.

Meskipun diplomasi berjalan positif, negosiasi belum membalikkan keadaan menjadi kesepakatan konkret. Kushner mengakui rumitnya persoalan yang harus diurai kedua belah pihak. Status wilayah Donbas di Ukraina timur masih menjadi batu sandungan utama, mengingat Moskow menuntut penarikan pasukan Ukraina, sedangkan Kyiv tegas menolak menyerahkan wilayahnya.

Selain isu teritorial, Zelenskyy menyoroti pentingnya jaminan keamanan jangka panjang dari AS dan negara-negara Eropa untuk mencegah invasi berulang. Pembicaraan di Kyiv juga mencakup kebutuhan sistem pertahanan udara Patriot, perlindungan infrastruktur energi menjelang musim dingin, serta rencana pemulihan ekonomi.

Di sisi lain, klaim Trump mengenai keberhasilannya mengakhiri delapan perang menuai sorotan. Trump memasukkan ketegangan Israel-Iran, Israel-Hamas, India-Pakistan, Thailand-Kamboja, Armenia-Azerbaijan, Rwanda-Kongo, Mesir-Ethiopia, hingga Serbia-Kosovo dalam daftar pencapaiannya.

Hasil pemeriksaan fakta menunjukkan klaim tersebut dinilai berlebihan. Meski Trump berperan mendorong gertakan gencatan senjata dan negosiasi diplomatik, beberapa konflik belum sepenuhnya usai secara permanen. Penghentian pertempuran sementara atau kesepakatan awal dinilai belum secara otomatis menyelesaikan akar sengketa politik dan keamanan yang ada. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan