MENITNEWS.CO.ID, WASHINGTON — Keputusan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melancarkan operasi militer ke Iran pada akhir Februari 2026 kini menghadapi jalan buntu. Konflik yang semula diprediksi dapat diselesaikan dalam kurun waktu singkat justru membengkak menjadi perang berkepanjangan yang telah berlangsung hampir enam bulan, memicu krisis strategis, ekonomi, dan politik global.
Semula, serangan militer yang dimulai pada 28 Februari 2026 dirancang berdasarkan kalkulasi bahwa kekuatan Iran sedang melemah. AS beserta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memandang situasi tersebut sebagai peluang emas untuk menghancurkan program nuklir Iran. Pentagon menyusun skenario guna melumpuhkan peluncur rudal, sistem radar, hingga armada kapal perang Iran, dengan target penyelesaian perang hanya dalam kurun enam minggu.
Baca juga: OJK Buka Suara Soal Pemblokiran Rekening Aktivis Pati di Bank Mandiri
Namun, perhitungan di atas kertas tersebut terbukti keliru. Keputusan Trump yang mengeksekusi opsi militer itu mengabaikan peringatan dini dari sejumlah pejabat intelijen dan pimpinan militer AS. Sebelum agresi dimulai, pihak intelijen telah mengingatkan bahwa aksi militer justru akan memperkeruh instabilitas di kawasan Timur Tengah, berisiko menguras kesiapan personel serta amunisi tempur AS, dan berpotensi memicu aksi balasan Iran berupa penutupan jalur vital Selat Hormuz.
Perbedaan pandangan juga sempat mengemuka di internal pemerintahan Amerika Serikat. Wakil Presiden JD Vance dilaporkan lebih mendorong penyelesaian lewat jalur diplomasi demi menghindari potensi perang tak berkesudahan. Kendati demikian, Trump tetap mengesahkan perintah serangan militer Pentagon.
Dampak dari keputusan tersebut kini menelan biaya yang sangat mahal. Selama hampir enam bulan pertempuran, sedikitnya 18 personel militer AS dilaporkan gugur dan 756 lainnya mengalami luka-luka. Sejumlah pangkalan militer AS di kawasan tersebut juga mengalami kerusakan akibat gempuran balasan. Mengingat persediaan amunisi AS yang kian menyusut, muncul keraguan besar atas kemampuan militer Washington dalam mempertahankan operasi jangka panjang.
Baca juga: Syarat Berat Iran Buka Selat Hormuz: Tuntut Ganti Rugi Perang hingga Pencabutan Sanksi
Eskalasi konflik semakin memburuk ketika jalur perdagangan energi global di Selat Hormuz benar-benar terhenti. Penutupan terusan strategis ini tidak hanya mengganggu distribusi pasokan minyak dunia, tetapi juga memicu gejolak pasar yang berdampak langsung pada stabilitas perekonomian internasional.
Di tingkat domestik, perang yang tak kunjung usai ini menjelma menjadi tekanan politik berat bagi pemerintahan Trump, terlebih menjelang digelarnya pemilu paruh waktu pada November mendatang. Publik dan oposisi terus mempertanyakan membengkaknya anggaran perang, jatuhnya korban jiwa, serta dampak pelemahan ekonomi yang dialami masyarakat.
Hingga saat ini, serangkaian perundingan diplomasi masih menemui jalan buntu. Akibat kegagalan strategi militer yang tidak mampu menghasilkan kemenangan cepat, Trump kini kembali mengalihkan fokusnya pada penerapan tekanan ekonomi. Pergeseran taktik ini mempertegas bahwa kalkulasi awal atas perang singkat terhadap Iran telah gagal total. (*)


