MENITNEWS.CO.ID, BERLIN — Kanselir Jerman Friedrich Merz mengecam keras pernyataan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir yang menyerukan pembunuhan puluhan warga Palestina di Jalur Gaza setiap malam. Pemerintah Jerman menilai sikap politisi sayap kanan Israel tersebut sangat tidak manusiawi dan melanggar hukum internasional.
Teguran keras itu disampaikan oleh Wakil Juru Bicara Pemerintah Jerman, Sebastian Hille, saat menggelar konferensi pers di Berlin. Hille menegaskan bahwa seruan yang diutarakan Ben-Gvir sama sekali tidak dapat diterima oleh pihak kepemimpinan Jerman.
Atas pelanggaran martabat manusia dan hukum internasional tersebut, Uni Eropa kini tengah bersiap menjatuhkan sanksi. Hille mengungkapkan bahwa para kepala negara dan pemerintah Uni Eropa pada Juni lalu telah sepakat untuk menyiapkan tindakan tegas terhadap Ben-Gvir.
Baca juga: Singapura Waspada Kabut Asap Imbas Kebakaran Hutan di Sumatra dan Kalimantan
Tindak lanjut mengenai sanksi ini dijadwalkan masuk dalam agenda pembahasan menteri luar negeri Uni Eropa pada pertemuan informal Gymnich. Perwakilan Tinggi Uni Eropa Kaja Kallas akan hadir mengajukan proposal resmi terkait langkah tersebut.
Kecaman senada sebelumnya dilayangkan oleh Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot. Dalam wawancaranya bersama media Prancis, La Montagne, Barrot menilai pernyataan Ben-Gvir sangat tidak tertahankan dan mencederai nilai-nilai kemanusiaan.
Sikap tegas telah diambil Pemerintah Prancis dengan melarang Ben-Gvir memasuki wilayah mereka. Langkah serupa juga diberlakukan oleh lebih dari sepuluh negara, di antaranya Inggris, Kanada, Australia, Belgia, dan Spanyol.
Selain Ben-Gvir, Prancis sejak 9 Juni 2026 juga melarang kedatangan Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich. Smotrich dinilai gencar mendorong aneksasi di Tepi Barat serta menyuarakan pemukiman kembali di Gaza.
Barrot menegaskan bahwa Prancis membuka peluang untuk menerapkan sanksi tambahan kepada Israel terkait eskalasi kekerasan di Tepi Barat. Prancis mencatat telah tiga kali menjatuhkan sanksi Eropa terhadap para pemukim Israel, dengan tindakan terbaru diberlakukan pada 28 Mei.
Pernyataan kontroversial Ben-Gvir sendiri keluar saat dirinya menjadi narasumber dalam sebuah siaran siniar. Ia mengusulkan agar pembunuhan yang ditargetkan kepada 30 hingga 40 warga Palestina di Gaza dilakukan setiap malam, sembari menyebut masyarakat Gaza sebagai ancaman yang tidak layak hidup.
Baca juga: Tujuh Personel AL AS Dilaporkan Tewas dalam Bentrokan di Atas Kapal Induk USS Abraham Lincoln
Dalam siaran yang sama, ia turut menganjurkan pemindahan massal penduduk Palestina serta pembangunan kembali permukiman ilegal Israel. Ia mengklaim bahwa seluruh wilayah Jalur Gaza merupakan milik Israel.
Meski gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah disepakati sejak Oktober 2025, serangan di kawasan Gaza masih terus terjadi. Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat setidaknya 1.273 warga tewas dan lebih dari 4.200 orang luka-luka akibat pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Israel.
Sejak dimulainya agresi militer pada Oktober 2023, akumulasi korban jiwa di Jalur Gaza telah menembus lebih dari 73.400 orang, sementara korban luka-luka melampaui angka 174 ribu orang. (*)

