MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama Kedutaan Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia membahas penguatan kemitraan multilateral di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Pembahasan tersebut mengemuka dalam kuliah umum bertajuk “Indonesia, the Netherlands and the EU: Stable, Reliable and Predictable Partnerships in Turbulent Times” yang digelar di Arsjad Rasjid Lecture Theater Unhas, Rabu (19/8/2026).
Wakil Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia (Deputy Head of Mission, Embassy of the Netherlands, Jakarta), Mr. Adriaan Palm, hadir sebagai narasumber utama dalam kegiatan yang diikuti sivitas akademika Unhas tersebut.
Kepala Subdirektorat Pengelolaan Informasi dan Pemantauan Unhas, Rakhmat Nurul Prima Nugraha, S.E., M.Sc., saat membuka kegiatan mengatakan, berbagai tantangan global membutuhkan pola kemitraan internasional yang kuat, adaptif, dan berkelanjutan.
“Dunia telah melalui berbagai tantangan eksternal yang kompleks, mulai dari pandemi Covid-19 pada tahun 2020 hingga dinamika geopolitik terkini. Melalui forum ini, kita berharap dapat mendiskusikan peluang kolaborasi yang kuat dan adaptif,” ujar Rakhmat.
Menurutnya, pemahaman terhadap perkembangan global menjadi penting bagi sivitas akademika. Selain memperluas wawasan internasional, pemahaman tersebut juga diperlukan untuk meningkatkan kesiapan menghadapi perubahan dan tantangan global pada masa mendatang.
Dalam paparannya, Mr. Adriaan Palm mengulas perubahan pola diplomasi internasional sejak era 1990-an. Ia menilai perkembangan teknologi informasi dan media sosial telah mengubah praktik diplomasi yang sebelumnya banyak berlangsung secara tertutup menjadi semakin terbuka dan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan.

“Dahulu diplomasi banyak dilakukan di ruang tertutup. Saat ini, diplomasi berada di ruang publik yang menuntut respons cepat. Namun, kita harus berhati-hati agar pragmatisme tidak mengorbankan penegakan aturan hukum internasional,” jelas Mr. Palm.
Diplomat yang memiliki pengalaman panjang di bidang hubungan internasional itu juga menekankan pentingnya revitalisasi sistem multilateral agar mampu menjembatani perbedaan kepentingan antarnegara.
Menurutnya, kerja sama internasional tidak dapat dibangun secara instan. Kemitraan perlu dikembangkan secara bertahap melalui dialog serta penguatan sektor-sektor yang memiliki kepentingan bersama.
“Kunci menghadapi tantangan ini merupakan upaya membangun jembatan dialog antara belahan dunia Utara dan Selatan serta Barat dan Timur. Kita perlu memperkuat kerja sama pada bidang-bidang kepentingan bersama secara konsisten,” katanya.
Kuliah umum tersebut berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab antara Mr. Adriaan Palm dengan peserta yang didominasi sivitas akademika Unhas.
Forum ini tidak hanya menjadi ruang untuk memahami perkembangan geopolitik dan diplomasi internasional, tetapi juga membuka peluang penguatan jejaring kerja sama antara Unhas, Belanda, dan mitra-mitra internasional lainnya.
Melalui forum tersebut, Unhas dan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda menunjukkan pentingnya dialog akademik dan diplomasi dalam membangun kemitraan yang stabil, dapat diandalkan, serta mampu merespons perubahan global. (*)

