MENITNEWS.CO.ID, LONDON — Sebuah fasilitas pembangkit listrik di Inggris dilaporkan lumpuh selama empat hari akibat serangan siber yang dilancarkan oleh peretas yang terafiliasi dengan Iran. Insiden ini disebut-sebut sebagai kali pertama kelompok peretas terkait Tehran berhasil menembus dan menghentikan operasional infrastruktur energi di wilayah Inggris.
Laporan yang pertama kali diungkap oleh media Sunday Telegraph tersebut menyoroti meningkatnya ancaman kejahatan siber terhadap fasilitas vital negara. Demi alasan keamanan nasional, para pejabat berwenang di Inggris menolak membeberkan lokasi maupun nama pasti dari fasilitas pembangkit listrik yang menjadi target pembobolan tersebut.
Merespons kabar ini, juru bicara Departemen Keamanan Energi dan Net Zero Inggris mengonfirmasi bahwa insiden siber itu menyasar fasilitas pembangkit energi berskala kecil. Pemerintah memastikan bahwa serangan tidak mengancam stabilitas atau pasokan sistem energi nasional secara keseluruhan.
Baca juga: Konflik FIFA dan UEFA Memanas, Tim Eropa Terancam Absen di Lima Turnamen Internasional
Lembaga yang menangani ancaman terhadap infrastruktur vital Inggris, National Cyber Security Centre (NCSC), juga menegaskan bahwa tidak ada laporan mengenai gangguan layanan publik pasca-insiden. Meski demikian, Pemerintah Inggris bergerak cepat dengan memberikan pengarahan khusus kepada para pimpinan perusahaan listrik, serta mendistribusikan surat panduan berisi arahan teknis dan langkah mitigasi lanjutan.
Aksi pembobolan sistem di Inggris ini terjadi bersamaan dengan maraknya gelombang serangan siber terhadap fasilitas infrastruktur air di Amerika Serikat. Setidaknya 12 negara bagian di AS terdampak oleh peretasan bulan lalu, hingga memicu kekhawatiran serius di lingkup Gedung Putih.
Peristiwa ini menandai eskalasi ketegangan baru di ruang siber, menyusul kebijakan politik luar negeri Pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Keir Starmer. Pada Maret lalu, London mengizinkan militer Amerika Serikat memanfaatkan pangkalan Royal Air Force di Fairford dan fasilitas gabungan di Diego Garcia untuk menggelar operasi defensif terbatas. Operasi itu menyasar infrastruktur rudal Iran yang dinilai mengancam keselamatan personel Inggris, sekutu regional, dan aset kedaulatan.
Izin penggunaan pangkalan militer tersebut kemudian diperluas. Washington diperbolehkan melancarkan serangan balasan terhadap basis rudal aktif Iran yang mengancam jalur pelayaran tanker minyak komersial di kawasan strategis Selat Hormuz.
Di sisi lain, intensitas peretasan oleh kelompok yang terhubung dengan Iran terus menunjukkan peningkatan. Pada Juni lalu, kelompok peretas-aktivis bernama Handala mengklaim bertanggung jawab atas peretasan sistem fasilitas air di California, AS. Mereka menyatakan tindakan itu merupakan aksi balasan atas tuduhan serangan Amerika Serikat terhadap infrastruktur air di wilayah Iran selatan.
Baca juga: Perkuat Sinergi Internasional, Wali Kota Munafri Terima Kunjungan dan Gelar Rakor Bersama Kemenlu RI
Dalam peretasan di California, Handala mengeklaim berhasil membobol data sistem internal sebagai peringatan bagi pemerintah AS. Meski memublikasikan data sebesar lima gigabita sebagai bukti intrusi, kelompok tersebut mengaku memilih tidak sampai memutus aliran air ke pemukiman karena memegang kode etik tertentu.
Sebelum insiden di Inggris dan AS, kelompok Handala juga mengeklaim telah menyusup ke ponsel pribadi mantan Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Herzi Halevi, pada April lalu. Mereka mengaku berhasil menyita setidaknya 19.000 berkas sensitif, termasuk pemetaan pusat komando, peta operasional, dan ruang krisis.
Sebagian berkas yang sempat dilihat oleh media Middle East Eye memperlihatkan rekaman kegiatan Halevi bersama sejumlah pejabat Arab. Salah satu dokumen foto tanpa tanggal menampilkan kehadiran Halevi dalam pertemuan di Qatar yang turut dihadiri oleh mantan Kepala Komando Pusat AS (Centcom), Michael Kurilla. (*)

