MENITNEWS.CO.ID, PAPUA – Aparat TNI terus mengintensifkan upaya pencarian terhadap sembilan warga perempuan asal Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Para korban hingga saat ini masih disandera oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sejak pertengahan Agustus lalu.
Komandan Korem (Danrem) 173/PVB Brigjen TNI Vivin Alivianto menyatakan bahwa jajarannya fokus menyisir wilayah terdampak. Langkah ini diambil guna menyelamatkan seluruh korban dan mengembalikan mereka ke pangkuan keluarga.
“Kami terus berupaya mencari agar dapat memulangkan mereka dan kembali ke tengah keluarganya,” ujar Brigjen TNI Vivin Alivianto saat dihubungi dari Jayapura, Minggu.
Insiden penculikan tersebut sejatinya melibatkan 11 orang warga sipil pada periode 16 hingga 17 Agustus. Namun, dari total korban yang dibawa, dua di antaranya ditembak oleh anggota KKB.
Penembakan tersebut mengakibatkan seorang ibu rumah tangga meninggal dunia di lokasi kejadian. Satu korban lainnya sempat jatuh ke dalam jurang sebelum akhirnya berhasil diselamatkan aparat.
Baca juga: Satu Calon Mahasiswa dalam Penyidikan KPK Tak Jadi Masuk Unsoed
Proses evakuasi terhadap korban yang selamat telah rampung dilaksanakan pada Jumat (21/8). Saat ini, korban tengah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit wilayah Timika.
Kelompok yang bertanggung jawab atas penyerangan dan penyelewengan warga ini disinyalir merupakan bagian dari KKB Kodap III Ndugama. Dugaan tersebut menguat mengingat akses geografis markas kelompok tersebut hanya berjarak sekitar dua hari perjalanan kaki dari lokasi kejadian.
Para warga yang disandera tidak hanya terdiri dari kaum ibu, tetapi juga mencakup anak-anak perempuan. Danrem berharap seluruh korban dapat segera dibebaskan tanpa ancaman keselamatan.
Selain berfokus pada operasi pencarian, TNI bersama pemerintah daerah setempat mulai menstabilkan kondisi keamanan di Distrik Jila. Kehadiran aparat diharapkan mampu mengikis ketakutan warga yang terdampak insiden tersebut.
Upaya pendampingan sosial juga disalurkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Bantuan bahan makanan mulai didistribusikan karena sebagian besar warga masih takut beraktivitas atau pergi berkebun akibat trauma penyerangan. (*)

