Pria Usia 40 Tahun ke Atas Rentan Alami Nokturia, Ahli Ingatkan Risiko Penyakit Kronis

Ilustrasi Buang Air Kecil (Sumber: Obor Keadilan)

MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA – Fenomena sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil mulai marak dialami kelompok pria berusia 40 tahun ke atas. Meski kerap dianggap sekadar dampak alamiah dari penuaan, para pakar kesehatan mengingatkan bahwa kondisi medis yang dikenal sebagai nokturia ini dapat menjadi penanda awal adanya gangguan kesehatan yang lebih serius.

Nokturia yang terjadi lebih dari satu kali dalam semalam tidak boleh dipandang sepele. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pria yang kualitas tidurnya terganggu akibat frekuensi berkemih yang tinggi memiliki risiko lebih besar terserang penyakit jangka panjang, seperti diabetes dan gangguan kardiovaskular.

Sejumlah profesional medis dari berbagai institusi kesehatan terkemuka di Indonesia menegaskan krusialnya edukasi mengenai kondisi ini. Pasalnya, mayoritas pria masih menganggap nokturia sebagai hal lumrah yang tidak membutuhkan penanganan medis khusus.

Baca juga: Peneliti Australia Temukan Metode Baru Hambat Penyebaran Kanker Payudara Paling Agresif

Saat seseorang terbangun dua kali atau lebih setiap malam hanya untuk buang air kecil, dampak buruknya langsung mengincar kualitas istirahat, produktivitas harian, hingga kesehatan mental. Kurang tidur secara kronis akibat nokturia terbukti berkaitan erat dengan timbulnya hipertensi, penurunan fungsi kognitif, serta gangguan suasana hati (mood disorders). Data epidemiologi mencatat prevalensi nokturia melonjak tajam setelah memasuki usia empat puluh tahun, dengan tingkat kasus tertinggi berada pada kelompok pria rentang usia 60 tahun ke atas.

Terdapat beragam pemicu yang mendasari munculnya nokturia pada pria paruh baya, di antaranya pembesaran prostat jinak (benign prostatic hyperplasia), infeksi saluran kemih, ketidakseimbangan hormon, serta pola konsumsi cairan yang tidak teratur. Pembesaran prostat akibat faktor usia menjadi salah satu penyebab utama karena desakannya pada uretra yang memicu dorongan berkemih lebih sering.

Faktor pendukung lain seperti riwayat medis keluarga, gaya hidup kurang sehat, obesitas, hingga penyakit penyerta seperti tekanan darah tinggi dan diabetes ikut memperbesar risiko serangan. Atas dasar itu, para ahli urologi menyarankan pria yang bergejala untuk segera menjalani pemeriksaan menyeluruh guna menemukan akar masalah dan mendapatkan penanganan yang presisi.

Baca juga: Bulukumba Raih Juara 1 Kader dan Posyandu Berprestasi Tingkat Sulawesi Selatan 2026

Langkah penanganan nokturia wajib disesuaikan dengan hasil diagnosis pemicu utamanya. Oleh sebab itu, intervensi medis melalui konsultasi dengan dokter spesialis urologi maupun dokter spesialis penyakit dalam (internist) sangat dianjurkan.

Sebagai langkah awal pengelolaan mandiri, pria paruh baya dapat membatasi asupan cairan menjelang waktu tidur serta menghindari minuman diuretik seperti kopi dan alkohol pada malam hari. Menjaga pola hidup aktif melalui olahraga teratur dan mengontrol berat badan juga memegang peranan penting.

Jika nokturia sudah telanjur mengganggu kualitas hidup, dokter dapat memberikan opsi terapi farmakologis yang teruji efektif, seperti penggunaan alpha-blocker atau 5-alpha reductase inhibitor sesuai kondisi klinis pasien. Melalui penanganan yang tepat sejak dini, frekuensi terbangun di malam hari dapat ditekan sehingga kualitas tidur kembali optimal. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan