Pimpin PERDOSRI Sulawesi-Papua, Dokter Husnul Mubarak Fokus Perluas Layanan Rehabilitasi Untuk Penyandang Disabilitas

MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Dr. dr. Husnul Mubarak, Sp.K.F.R., N.M (K)., FEMG, resmi menjabat Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) Cabang Sulawesi-Papua periode 2026-2029.

Husnul dilantik menggantikan Ketua PERDOSRI Cabang Sulawesi-Papua sebelumnya, Dr. dr. Nilla Mayasari, M.Kes., Sp.K.F.R., Ped. (K), dalam acara yang digelar di Ballroom Mahony Hotel Claro, Makassar, Sabtu (8/8/2026).

Pelantikan dilakukan oleh Wakil Ketua II Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Sulawesi Selatan, Dr. dr. Bachtiar Baso. Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, dr. Evy Mustikawati, yang mewakili Gubernur Sulsel, serta Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr. Nursaidah Sirajuddin, yang mewakili Wali Kota Makassar.

PERDOSRI Cabang Sulawesi-Papua merupakan organisasi profesi yang mewadahi dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi (Sp.K.F.R.) atau dokter rehabilitasi medik di wilayah Sulawesi dan Papua.

Organisasi tersebut memiliki peran strategis dalam memperluas dan meningkatkan pemerataan layanan rehabilitasi medik, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan layanan kedokteran fisik dan rehabilitasi, termasuk penyandang disabilitas.

Hadapi Tantangan Distribusi Dokter Spesialis

Usai dilantik, Husnul Mubarak mengatakan kepengurusan baru menghadapi tantangan yang cukup kompleks.

Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan dan belum meratanya distribusi dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi di wilayah kerja yang sangat luas.

Menurut dia, kondisi geografis Sulawesi dan Papua menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan masyarakat di berbagai daerah memperoleh akses layanan rehabilitasi medik yang berkualitas.

“Tantangan lebih kompleks di wilayah kerja, terutama distribusi dokter spesialis yang sangat terbatas dalam melayani para penyandang disabilitas,” kata Husnul.

Karena itu, Husnul menekankan pentingnya kebersamaan seluruh jajaran pengurus untuk menjawab berbagai persoalan tersebut. Ia menegaskan, kepengurusan PERDOSRI tidak boleh berhenti pada struktur organisasi, tetapi harus diwujudkan melalui kerja nyata.

“Layanan mutu medis yang baik bisa berjalan kalau semua bisa bersatu. Pengurus bukan sekadar struktur, tetapi harus kerja nyata dan bersatu,” ujarnya.

Husnul juga memastikan penyandang disabilitas menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian besar dalam program kerja kepengurusan PERDOSRI Sulawesi-Papua selama tiga tahun ke depan.

Selain memperkuat layanan medis, pihaknya akan mendorong edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya rehabilitasi medik. Edukasi tersebut akan dilakukan melalui berbagai saluran, termasuk media sosial.

“Kita memberikan perhatian besar terhadap para penyandang disabilitas dan memberikan edukasi bagi masyarakat melalui media sosial,” katanya.

Husnul menyebut terdapat sejumlah tantangan utama yang akan menjadi perhatian selama masa kepemimpinannya. Di antaranya perkembangan teknologi, kondisi geografis wilayah kerja, serta keterbatasan sumber daya dokter spesialis KFR.

Menurutnya, perkembangan teknologi harus diikuti dengan peningkatan kapasitas dan kemampuan tenaga medis agar pelayanan rehabilitasi dapat terus berkembang sesuai kebutuhan masyarakat.

Di sisi lain, luasnya wilayah Sulawesi-Papua membutuhkan strategi khusus agar pelayanan tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar, tetapi juga dapat menjangkau daerah terpencil, kepulauan, dan wilayah dengan akses kesehatan yang masih terbatas.

Cabang Termuda Membawahi 10 Provinsi

Ketua Pengurus Pusat PERDOSRI, Dr. dr. Rumaisah Hasan, Sp.K.F.R., N.M (K)., FEMG., AIFO-K, mengatakan status sebagai cabang yang relatif muda bukan menjadi alasan untuk tidak berprestasi.

PERDOSRI Cabang Sulawesi-Papua saat ini membawahi 10 provinsi, terdiri atas empat provinsi di Sulawesi dan enam provinsi di wilayah Papua.

Rumaisah juga menilai keberadaan Program Studi Kedokteran Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi di Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi modal penting untuk memperkuat ketersediaan dokter spesialis KFR, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

Menurut dia, keberadaan program pendidikan tersebut diharapkan mampu mencetak dokter spesialis unggulan yang nantinya dapat memperkuat pelayanan rehabilitasi medik di berbagai daerah.

Ia mendorong pengurus baru menjadikan filosofi dan semangat Bugis-Makassar sebagai energi dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat.

“Jangan menyerah apa pun tantangannya,” pesannya.

Rumaisah berharap kepengurusan baru mampu meningkatkan komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pasien sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

“Selamat bekerja dan mengabdi untuk negeri kepada pengurus baru,” ujarnya.

Dengan dilantiknya kepengurusan baru, PERDOSRI Cabang Sulawesi-Papua diharapkan semakin aktif memperkuat kolaborasi antarprofesi, meningkatkan kompetensi dokter spesialis KFR, serta memperluas akses rehabilitasi medik bagi masyarakat.

Kepengurusan periode 2026-2029 juga diharapkan mampu menjawab tantangan geografis dan keterbatasan sumber daya manusia kesehatan sehingga layanan kedokteran fisik dan rehabilitasi dapat dirasakan secara lebih merata di kawasan Indonesia Timur.

​Pada kesempatan ini, ​PERDOSRI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia) Sulawesi-Papua, juga menggelar ​Seminar Robotic Rehabilitation dengan tema “Optimizing Functional Recovery after Stroke : Clinical Pathway”, dengan menampilkan Pembicara ​dr. Rosiana Pradanasari Wirawan, Sp.K.F.R., N.M(K). (*)

Banner Sponsor

Iklan