MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Rasa lelah setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga atau aktivitas kantor kerap mendorong seseorang untuk memejamkan mata di sore hari. Namun, kebiasaan beristirahat pada rentang waktu jam 4 hingga 5 sore kerap menyisakan sensasi lemas, pusing, hingga suasana hati yang buruk saat terbangun.
Para ahli kesehatan menilai keluhan tersebut bukan tanpa alasan. Tidur di sore hari dapat mengganggu ritme sirkadian—jam biologis alami yang mengatur siklus bangun dan tidur tubuh manusia.
Berdasarkan publikasi dari Columbia Doctors, salah satu dampak paling langsung dari tidur sore adalah menurunnya tekanan tidur (sleep drive). Tekanan tidur seharusnya menumpuk secara bertahap sepanjang hari agar seseorang dapat terlelap dengan mudah di malam hari.
Ketika seseorang tidur di sore hari, otak menangkap sinyal bahwa kebutuhan istirahat telah terpenuhi. Akibatnya, jam tidur malam bergeser dan memicu insomnia. Pola tidur yang terganggu ini dalam jangka panjang menurunkan kualitas istirahat secara keseluruhan.
Sleep Inertia dan Penurunan Konsentrasi
Sensasi bingung, pusing, atau jantung berdebar saat terbangun dari tidur sore dikenal dalam dunia medis sebagai sleep inertia. Kondisi ini terjadi ketika seseorang terbangun secara mendadak dari fase tidur dalam (deep sleep).
Rasa lelah yang menumpuk di sore hari kerap membuat tubuh lelap terlalu dalam. Jika terbangun secara tiba-tiba pada fase ini, otak membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai kesadaran penuh, sehingga tubuh terasa pening selama beberapa jam.
Kondisi brain fog atau otak yang terasa berkabut akibat sleep inertia berpotensi menurunkan daya fokus dan fungsi kognitif. Hal ini dapat berisiko memicu kecerobohan saat melakukan aktivitas malam, seperti mengemudi atau menyiapkan kebutuhan keluarga.
Risiko Terhadap Metabolisme dan Kesehatan Mental
Dampak kebiasaan tidur sore tidak hanya terbatas pada gangguan jam tidur malam. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berpotensi memengaruhi fungsi metabolisme tubuh.
Tidur di sore hari—terutama setelah mengonsumsi makanan berat—dapat memengaruhi proses pengolahan gula darah dan pengaturan nafsu makan. Sejumlah penelitian medis menunjukkan bahwa gangguan pada pola tidur yang konsisten berkaitan dengan peningkatan risiko resistensi insulin dan kenaikan berat badan.
Dari sisi psikologis, beberapa individu melaporkan munculnya rasa cemas atau sedih tanpa alasan yang jelas saat terbangun di waktu magrib. Fenomena yang dikenal sebagai “Sindrom Bangun Tidur Sore” ini berikatan dengan perubahan drastis pencahayaan lingkungan dan lonjakan hormon stres (kortisol) akibat kualitas tidur malam yang terganggu.
Selain penjelasan ilmiah, pandangan budaya lokal seperti tradisi Jawa juga melarang aktivitas tidur saat transisi siang ke malam (magrib) karena dinilai membuat kondisi fisik tidak fit saat terbangun. (*)



