MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA – Anggapan bahwa pemilik paha besar memiliki peluang hidup lebih panjang tidak sepenuhnya tepat. Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Yunita Aryani, menegaskan bahwa indikator kesehatan mendasar terletak pada komposisi penyusun serta fungsi otot paha tersebut, bukan sekadar ukuran fisiknya semata.
Penjelasan ini merespons sejumlah temuan ilmiah yang mengaitkan lingkar paha dengan risiko kesehatan. Yunita memaparkan bahwa lingkar paha yang terlalu kecil memang kerap dihubungkan dengan tingginya risiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini, sebab kondisi tersebut umumnya menjadi penanda rendahnya massa otot, penurunan status gizi, atau masalah kesehatan tertentu.
Riset ilmiah terbitan British Medical Journal (BMJ) turut menguatkan hal itu. Penelitian kohort tersebut mencatat adanya keterkaitan antara lingkar paha yang kecil dengan tingginya risiko penyakit jantung koroner serta kematian dini, baik pada pria maupun wanita.
Baca juga: Iuran BPJS Kesehatan 2027 Tak Naik, Pemerintah Siap Suntik Dana Jika Defisit
Meski demikian, studi dalam BMJ tersebut juga mengungkapkan adanya efek ambang batas. Artinya, ukuran paha yang terus membesar melampaui batas tertentu tidak secara otomatis memberikan manfaat kesehatan tambahan bagi tubuh.
Ukuran paha pada dasarnya terbentuk dari kombinasi tulang, massa otot, lemak subkutan, cairan, hingga jaringan pendukung lainnya. Menurut Yunita, dua individu dengan ukuran lingkar paha yang identik bisa memiliki status kesehatan yang sangat berbeda tergantung dari jaringan dominan di dalamnya.
Penilaian kesehatan fisik, terang Yunita, tidak dapat dilakukan hanya dengan mengukur besarnya massa otot. Kekuatan mekanis serta fungsi optimal dari otot sering kali menyajikan data medis yang lebih relevan dibandingkan ukuran luar semata.
Peran otot rangka—termasuk otot paha—sangat vital bagi metabolik tubuh. Otot ini berfungsi mengoptimalkan penggunaan glukosa, meningkatkan sensitivitas insulin, mengontrol kadar gula darah, menjaga mobilitas dan keseimbangan, hingga menyediakan cadangan protein darurat saat tubuh diserang penyakit atau stres metabolik.
Di sisi lain, terdapat perbedaan karakteristik yang mendasar antara lemak di area paha dan bokong dengan lemak visceral. Lemak visceral dinilai lebih aktif secara metabolik sehingga berpotensi memicu resistensi insulin, perlemakan hati, diabetes tipe 2, gangguan kolesterol, hipertensi, hingga penyakit kardiovaskular.
Baca juga: Mengenal Prosedur Transplantasi Ginjal: Pakar Tegaskan Organ Tubuh Tak Bisa Dijualbelikan
Melihat kompleksitas jaringan tersebut, Yunita menegaskan bahwa ukuran paha tidak bisa dijadikan sebagai tolok ukur kesehatan yang berdiri sendiri. Kesehatan seseorang secara menyeluruh tetap ditentukan oleh konsistensi pola hidup sehat, seperti aktivitas fisik, asupan gizi, kualitas tidur, kesehatan mental, faktor genetik, lingkungan, serta rutin melakukan pemeriksaan medis secara berkala.
Masyarakat pun diimbau untuk tidak cepat merasa aman atau sehat hanya karena memiliki paha yang berukuran besar. Kunci utamanya berada pada pemeliharaan massa dan fungsi otot yang terbiasa dilatih secara optimal. (*)

