MENITNEWS.CO.ID, SIRIK — Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak setelah aksi saling serang meluas di kawasan Timur Tengah pada Selasa. Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi peluncuran serangan terhadap target-target militer Iran, yang kemudian dibalas dengan gelombang tembakan rudal dan drone oleh pasukan Teheran ke sejumlah fasilitas militer AS serta wilayah sekutunya.
Dampak serangan AS dilaporkan memicu jatuhnya korban jiwa dari pihak sipil. Lembaga Bulan Sabit Merah Iran mencatat empat orang tewas, termasuk seorang anak berusia empat tahun, serta lebih dari 50 orang luka-luka di Sirik, Iran selatan. Korban berjatuhan setelah serpihan proyektil merusak sebuah rumah yang tengah menggelar acara pesta pernikahan. Media pemerintah Iran turut melaporkan hantaman proyektil di wilayah Chabahar, Konarak, dan area bandara Jiroft, disusul suara ledakan di Pulau Qeshm dan Bandar Abbas.
Baca juga: Peringatan Keras Iran ke Israel dan Langkah Hukum Turki Seret Netanyahu
Juru Bicara Centcom, Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins, menyatakan pihaknya telah menerima laporan mengenai insiden di Sirik tersebut. Ia menegaskan militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, berlainan dengan tindakan yang dilakukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Centcom menjelaskan bahwa operasi militer dimulai pukul 12.00 waktu Timur AS pada Selasa hingga rampung pada Rabu dini hari. Langkah ini diambil sebagai respons atas upaya serangan terbaru IRGC terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Respons AS ini melanjutkan operasi militer sebelumnya pada awal pekan, yang menghancurkan dua peluncur roket di Pulau Larak.
Baca juga: Asumsi Meleset, Perang Amerika Serikat dan Iran Berubah Menjadi Krisis Berkepanjangan
Di sisi lain, IRGC menyatakan pihak AS akan menerima konsekuensi atas serangan tersebut. Berdasarkan laporan kantor berita Tasnim, Iran meluncurkan rentetan rudal balistik pada Rabu dini hari ke pangkalan Marinir AS di Aqaba, Yordania, setelah sebelumnya sempat membalas serangan AS dengan menargetkan pangkalan udara Yordania dan meluncurkan drone ke Uni Emirat Arab.
Angkatan Bersenjata Yordania mengonfirmasi telah mencegat 10 rudal balistik Iran. Melalui jaringan media Al-Mamlaka, pihak militer memastikan tidak ada korban tewas maupun luka-luka. Pusat Keamanan Nasional Yordania sempat mengeluarkan peringatan bahaya puing rudal bagi warga di Provinsi Aqaba dan Mafraq sebelum akhirnya dicabut.
Baca juga: Peretas Iran Lumpuhkan Pembangkit Listrik Inggris Selama 4 Hari
Rangkaian serangan balasan Iran juga menyasar lokasi lain. Laporan ledakan terdengar di pangkalan militer AS di Erbil, Irak, serta wilayah Bahrain. Sementara itu, militer Kuwait mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara mereka merespons ancaman rudal Iran pada Rabu dini hari.
Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa operasi militer pada Selasa merupakan aksi balasan atas serangan awal Iran terhadap pangkalan AS di Yordania dan kegagalan Teheran memasang ranjau laut di Selat Hormuz. Trump memperingatkan bahwa serangan dalam skala yang jauh lebih besar dan keras telah disiapkan apabila Iran memutuskan untuk terus meningkatkan eskalasi.
Baca juga: Amnesty International Desak AS Tangkap Benjamin Netanyahu jika Masuk Wilayah Amerika
Ketegangan terbaru ini menandai kegagalan kesepakatan gencatan senjata yang sempat disepakati kedua belah pihak. Setelah AS dan Israel melancarkan serangan besar pada 28 Februari 2026 yang memicu aksi balasan Iran dan penutupan Selat Hormuz, kedua negara sempat menandatangani Memorandum of Understanding pada Juni 2026. Namun, berakhirnya masa berlaku kesepakatan tersebut kembali memicu bentrokan terbuka, termasuk blokade laut oleh AS dan penargetan kapal komersial oleh Iran.
Konflik militer ini juga diiringi pengetatan sanksi ekonomi oleh Washington sejak 24 Agustus untuk mengisolasi Teheran. Meskipun pejabat dan media pemerintah Iran sempat meremehkan sanksi tersebut sebagai kegagalan tekanan ekonomi AS, sinyal diplomasi mulai muncul. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Teheran bersedia merespons secara setara jika AS kembali berkomitmen pada perjanjian gencatan senjata sebelumnya. (*)


