Dari Pakis Hutan ke Panggung Nasional, Simfoni Hilirisasi PT Vale Indonesia yang Merajut Ekonomi dan Tradisi

MENITNEWS.CO.ID, SOROWAKO — Pagi di Sorowako selalu memiliki cara sendiri untuk bercerita. Di antara bentang alam yang mengitari Danau Matano, kehidupan masyarakat bergerak berdampingan dengan aktivitas industri pertambangan yang telah menjadi bagian dari denyut kawasan ini.

Namun, cerita tentang hilirisasi di Sorowako tidak berhenti pada bijih nikel dan produk turunannya.

Ada cerita lain yang tumbuh dari tangan-tangan masyarakat.

Cerita itu hadir dalam bentuk anyaman. Serat pakis hutan dan pelepah pohon aren yang sebelumnya tumbuh liar di sekitar wilayah konsesi, dipilih, diolah, lalu dirangkai menjadi produk kriya bernilai ekonomi.

Di tangan para pengrajin, material sederhana itu berubah menjadi tas, kotak tisu, hingga berbagai produk kerajinan dengan desain yang mengikuti selera pasar modern.

Di sinilah PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) mencoba memainkan nada berbeda dalam orkestrasi hilirisasi.

Hilirisasi tidak hanya dimaknai sebagai proses meningkatkan nilai tambah mineral, tetapi juga bagaimana potensi masyarakat dan kekayaan budaya lokal dapat dikembangkan menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.

Melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), PT Vale mendampingi pengembangan Anyaman Teduhu dari Desa Nuha dan Sampa Konao dari Desa Matano.

Keduanya menjadi contoh bagaimana sumber daya lokal dapat diolah menjadi produk bernilai tanpa harus mengorbankan identitas budaya dan keberlanjutan lingkungan.

Ketika Tradisi Lama Mendapat Napas Baru

Anyaman Teduhu bukanlah tradisi yang baru muncul.

Di Desa Nuha, tradisi menganyam telah dikenal sejak sekitar 1970-an. Seiring waktu, masyarakat mulai memanfaatkan serat teduhu sebagai bahan utama kerajinan, terutama sejak 2006.

Tradisi tersebut kemudian menemukan bentuk baru ketika inovasi desain mulai diperkenalkan.

Yulianti, salah satu pengrajin Teduhu asal Desa Nuha, merasakan langsung perubahan tersebut.

Menurut dia, pendampingan yang dilakukan PT Vale membuka ruang bagi para pengrajin untuk mengembangkan produk sekaligus memperkenalkan kembali kerajinan tradisional kepada generasi muda.

“Bersama PT Vale Indonesia, kami bisa melakukan inovasi produk. Mulai dari kotak tisu hingga tas modern, sekaligus mengajak anak-anak muda di Desa untuk ikut menjaga tradisi ini agar tidak punah,” tutur Yulianti.

Kalimat itu memperlihatkan bahwa tantangan terbesar kerajinan tradisional bukan sekadar bagaimana menghasilkan produk.

Lebih jauh, ada pertanyaan tentang siapa yang akan meneruskan keterampilan tersebut ketika generasi lama tidak lagi mampu menganyam.

Karena itu, regenerasi menjadi bagian penting dari program pendampingan.

PT Vale kini membina Komunitas Teduhu di Desa Nuha yang terdiri atas 12 pengrajin. Sementara di Desa Matano, terdapat Komunitas Sampa Konao yang beranggotakan 10 pengrajin muda yang mengolah pelepah pohon aren menjadi produk kriya.

Para pengrajin muda tersebut berada pada rentang usia sekitar 16 hingga 23 tahun.

Mereka tidak hanya diajarkan cara membuat kerajinan, tetapi juga diperkenalkan pada aspek yang lebih luas dalam membangun sebuah usaha.

Dari Hutan ke Produk Bernilai Ekonomi

Bagi PT Vale, keberlanjutan produk lokal tidak cukup jika hanya mengandalkan keterampilan tangan.

Ada rantai proses yang harus dibangun.

Mulai dari pemilihan bahan baku, teknik produksi, desain, manajemen usaha, pemasaran, branding, hingga perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Head of External Relation Sorowako and Outer Area PT Vale Indonesia, Yusri Yunus, mengatakan perusahaan ingin memastikan produk lokal memiliki kemampuan untuk bersaing sekaligus tetap mempertahankan tradisinya.

“Prinsip kami adalah tumbuh bersama masyarakat. Kami ingin memastikan produk lokal seperti Anyaman Teduhu dan Sampa Konao memiliki daya saing tinggi dan tradisinya tetap lestari,” jelas Yusri.

Menurut dia, pendampingan dilakukan dari berbagai sisi. Pengrajin diperkenalkan pada bahan baku berkelanjutan, inovasi teknik menganyam, perlindungan HKI, manajemen usaha, hingga akses pasar.

Pendekatan tersebut membuat kerajinan tidak lagi diposisikan sekadar sebagai produk budaya.

Ia diarahkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat.

Sebab, ketika sebuah produk mampu memiliki pasar, maka keterampilan yang berada di belakangnya juga memiliki alasan untuk terus dipertahankan.

Ketika Anyaman Sorowako Menembus Panggung Nasional

Cerita dari Desa Nuha dan Desa Matano kemudian bergerak lebih jauh.

Pada HKG PKK Nasional ke-54 dan HUT Dekranas ke-46 di Kota Makassar, 9–11 Juli 2026, produk anyaman binaan PT Vale tampil di panggung pameran berskala nasional.

Anyaman yang lahir dari tangan masyarakat Sorowako itu mendapat perhatian dari Ketua Harian Dekranas, Tri Tito Karnavian, dan Wakil Ketua II Dekranas, Sri Suparni Bahlil Lahadalia.

Sri Suparni Bahlil memberikan apresiasi terhadap semangat para pengrajin, terutama kemunculan generasi muda yang mulai mengambil bagian dalam pelestarian kerajinan tradisional.

“Kami tentu sangat bangga melihat semangat dan antusiasme para pengrajin, khususnya pengrajin muda yang terus bermunculan,” ujar Sri Suparni Bahlil saat mengunjungi booth PT Vale Indonesia di Pameran Dekranas, Trans Studio Mall, Makassar, Kamis, 9 Juli 2026.

Menurutnya, pembinaan yang dilakukan perusahaan mitra sektor energi dan sumber daya mineral, termasuk PT Vale, ikut membuka ruang bagi pengrajin untuk mengembangkan kemampuan melalui berbagai coaching.

Bagi para pengrajin, tampil di panggung nasional bukan hanya persoalan membawa produk ke kota besar.

Ada pesan yang lebih penting: kerajinan dari desa dapat memiliki tempat di pasar yang lebih luas ketika kualitas, desain, cerita budaya, dan pendampingan dibangun secara bersamaan.

Membuka Pintu Pasar, Bukan Sekadar Membuat Produk

Tantangan berikutnya adalah memastikan produk tidak berhenti setelah pameran selesai.

Head of External Relations Regional and Growth PT Vale Indonesia, Endra Kusuma, mengatakan pendampingan UMKM binaan dilakukan secara menyeluruh.

Pelatihan mencakup manajemen usaha, pemasaran, proses produksi, pengembangan kualitas produk, hingga strategi branding. PT Vale juga menghadirkan narasumber berpengalaman dari tingkat nasional untuk memperkuat kapasitas para pelaku usaha.

“Selain peningkatan kapasitas, kami di PT Vale Indonesia juga terus memperluas akses promosi bagi UMKM binaan melalui partisipasi pada berbagai pameran. Termasuk bersama Kementerian ESDM, serta menghadirkan UMKM Gallery sebagai etalase permanen produk-produk binaan di sejumlah lokasi,” ungkap Endra.

Menurut Endra, pemilihan Anyaman Teduhu dan Sampa Konao sebagai produk yang ditampilkan di berbagai pameran tidak terlepas dari kekuatan budaya yang dimilikinya.

Namun, di balik nilai budaya tersebut terdapat persoalan yang tidak bisa diabaikan: regenerasi pengrajin.

“Dulu pengrajinnya cukup banyak, tetapi sekarang mulai berkurang karena generasi muda kurang tertarik. Karena itu, kami melakukan pelatihan kepada anak-anak muda secara berkelanjutan, agar keterampilan ini tidak terputus dan tetap lestari,” imbuhnya.

Dengan demikian, regenerasi bukan ditempatkan sebagai kegiatan tambahan.

Ia menjadi bagian dari strategi keberlanjutan.

Anak Muda dan Masa Depan Anyaman

Di tengah derasnya perubahan gaya hidup, membuat anak muda tertarik pada kerajinan tradisional tentu bukan perkara mudah.

Kerajinan harus mampu berbicara dengan bahasa zaman.

Karena itu, para pengrajin muda tidak hanya belajar teknik dasar menganyam. Mereka juga mendapatkan pembekalan tentang inovasi desain, manajemen usaha, HKI, pemasaran, dan pengembangan akses pasar.

Harapannya sederhana, tetapi dampaknya panjang: tradisi tidak hanya bertahan sebagai peninggalan masa lalu, melainkan tumbuh sebagai pilihan ekonomi generasi berikutnya.

Di titik inilah program pemberdayaan masyarakat menemukan maknanya.

Ketika anak muda melihat bahwa keterampilan tradisional dapat menghasilkan pendapatan, memiliki pasar, dan bahkan tampil di panggung nasional, maka tradisi memiliki peluang untuk kembali menjadi sesuatu yang relevan.

Merajut Pasar Berkelanjutan

Senior Coordinator Media Relations PT Vale Indonesia, Suwarny Dammar, mengatakan perusahaan juga berupaya memastikan produk kriya binaan memiliki pasar yang berkelanjutan.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengintegrasikan produk tersebut ke dalam rantai pasok korporat sebagai suvenir resmi.

Produk juga didorong untuk masuk ke jaringan hotel dan galeri.

“Sinergi erat bersama Kementerian ESDM dan Dekranas juga menegaskan paradigma baru pertambangan, bahwa kejayaan industri harus berjalan selaras dengan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian alam,” ujar Suwarny.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada pelatihan.

Ada upaya membangun mata rantai ekonomi dari hulu hingga hilir.

Bahan baku berasal dari potensi lokal. Keterampilan berada di tangan masyarakat. Produk dikembangkan mengikuti kebutuhan pasar. Kemudian akses promosi dan pemasaran diperluas.

Sebuah ekosistem kecil sedang dibangun dari desa.

Hilirisasi dengan Wajah yang Berbeda

Jika hilirisasi mineral berbicara tentang bagaimana bahan mentah diolah agar menghasilkan nilai tambah yang lebih besar, maka kisah Anyaman Teduhu dan Sampa Konao menghadirkan wajah lain dari konsep tersebut.

Ini adalah hilirisasi dalam dimensi sosial dan ekonomi.

Bukan mengubah bijih menjadi logam, melainkan mengubah potensi lokal menjadi kesempatan.

Bukan hanya mengejar nilai jual produk, tetapi juga mempertahankan cerita yang melekat di baliknya.

Dan bukan sekadar menghasilkan barang, melainkan memastikan orang-orang yang membuatnya memiliki masa depan.

Di Sorowako, kisah itu berawal dari sesuatu yang tampak sederhana: pakis hutan dan pelepah aren.

Namun, ketika dipertemukan dengan pengetahuan lokal, kreativitas, pendampingan, akses pasar, serta semangat generasi muda, keduanya berubah menjadi lebih dari sekadar bahan kerajinan.

Ia menjadi simbol bahwa kekayaan alam dan budaya dapat berjalan beriringan.

Di tepian Danau Matano, simfoni itu terus dimainkan.

Nikel tetap menjadi bagian penting dari cerita industri Sorowako. Tetapi di sela gemuruh industri, ada suara lain yang tak kalah penting—suara tangan yang menganyam, suara generasi muda yang belajar, dan suara masyarakat yang perlahan membangun kemandirian.

Sebab, pada akhirnya, hilirisasi yang berkelanjutan bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai tambah yang mampu diciptakan.

Melainkan tentang siapa yang ikut tumbuh, tradisi apa yang tetap hidup, dan bumi seperti apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya. (ram)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan