MENITNEWS.CO.ID, KATHMANDU — Korban jiwa akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet terus meluas. Laporan terbaru mencatat sedikitnya 543 orang meninggal dunia, sementara lebih dari 1.500 orang lainnya masih dinyatakan hilang di lokasi kejadian.
Tim penyelamat gabungan dari Nepal dan Tiongkok berpacu dengan waktu untuk melanjutkan operasi pencarian seiring membaiknya cuaca di beberapa titik terdampak. Walau demikian, proses evakuasi di lapangan menghadapi hambatan besar akibat rusaknya infrastruktur vital serta tingginya ancaman banjir susulan.
Baca juga: Runtuhan Gletser Terjang Nepal dan Tibet, Korban Tewas Tembus 472 Orang
Tragedi yang menerjang pada Rabu (26/8) tersebut meluluhlantakkan permukiman, jembatan, kendaraan, hingga akses jalan utama. Gelombang air bercampur material lumpur datang tanpa peringatan dan menyapu bersih seluruh fasilitas yang dilaluinya.
Kondisi di lapangan menunjukkan hamparan lumpur tebal menutupi bangunan dan jalur transportasi. Penumpukan material banjir ini membuat pergerakan alat berat serta tim evakuasi terhambat saat berusaha mencapai titik-titik lokasi yang diperkirakan masih menimbun korban.
Banyaknya korban meninggal menjadikan musibah ini sebagai salah satu bencana banjir paling mematikan yang pernah melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet.
Mengintai Potensi Banjir Susulan
Upaya pencarian dan penyelamatan saat ini berlangsung di bawah bayang-bayang peringatan dini banjir susulan. Pemerintah Nepal dan Tiongkok secara resmi mengimbau seluruh penduduk yang berada di kawasan rawan untuk segera melakukan pengungsian mandiri ke area aman.
Ancaman utama berpusat pada pembentukan danau bentukan baru di bagian hulu sungai pascabencana. Berdasarkan laporan CBC News, danau tersebut telah meluap dan berpotensi menerima lonjakan debit air dalam volume yang sangat besar.
Perhitungan Kementerian Sumber Daya Air Tiongkok menunjukkan danau tersebut menampung sekitar 2 juta meter kubik air. Angka penampungan air diperkirakan melonjak hingga 3 juta meter kubik dalam tiga hari mendatang.
Media pemerintah Tiongkok, CCTV, mengabarkan bahwa benteng alami penahan danau terletak lebih dari 10 kilometer dari Pelabuhan Gyirong—salah satu titik perlintasan perbatasan yang telah luluh lantak akibat terjangan banjir dan longsor.
Danau alami ini berada pada elevasi sekitar 2.950 meter di atas permukaan laut, atau lebih tinggi sekitar 1.000 meter dibandingkan posisi Pelabuhan Gyirong. Perbedaan ketinggian yang curam ini memperbesar risiko terjadinya banjir bandang susulan yang mengancam permukiman di sepanjang bantaran sungai.
Ribuan Penyintas Dievakuasi, Operasi Pencarian Diperluas
Guna mengantisipasi dampak yang lebih buruk, Tentara Nepal mengerahkan personel tambahan ke sepanjang kawasan Sungai Bhotekoshi. Langkah ini diambil untuk memantau pergerakan arus sungai sekaligus bersiap menghadapi potensi bahaya lanjutan.
Sejauh ini, Otoritas Penanggulangan Bencana Nepal telah menerbangkan 3.253 orang keluar dari area terdampak dengan memanfaatkan armada helikopter. Para penyintas beserta korban luka-luka langsung dievakuasi menuju Kathmandu dan beberapa wilayah aman lainnya untuk memperoleh perawatan.
Meski ribuan orang berhasil diselamatkan, pencarian masif belum dihentikan karena lebih dari 1.500 warga dari Nepal maupun Tiongkok belum diketahui keberadaannya. Sebagian dari daftar korban hilang diidentifikasi sebagai wisatawan mancanegara yang tengah melakukan agenda trekking maupun ziarah ke Gunung Kailash di Tibet.
Wisatawan Asing Terjebak di Area Bencana
Dampak bencana yang memakan korban dari kalangan turis asing memicu keprihatinan internasional. Lembaga Global Affairs Canada mengonfirmasi ada 30 warga negara Kanada serta pemegang izin tinggal tetap Kanada yang hingga kini hilang kontak.
Secara terpisah, perwakilan dari sebuah agen perjalanan menyebutkan bahwa 10 warga Toronto yang tergabung dalam rombongan trekking di wilayah perbatasan tersebut turut dilaporkan hilang.
Akses menuju titik-titik pengungsian sementara dan lokasi pencarian sangat terbatas. Banyak jalan terputus total, jembatan ambruk, dan bangunan yang tenggelam di bawah endapan lumpur pekat.
Visual rekaman video yang beredar memperlihatkan dahsyatnya terjangan air bercampur lumpur setinggi beberapa lantai rumah menghantam permukiman warga. Dalam rekaman tersebut, warga terlihat panik berlarian ketika jembatan, bangunan, dan kendaraan tersapu arus.
Pascasurutnya air, pemandangan tersisa di area terdampak hanyalah puing-puing beton runtuh dan ruas jalan yang tertimbun material padat. Tim penyelamat Nepal dan Tiongkok sampai saat ini masih bersiap meluaskan jangkauan evakuasi di tengah ancaman luapan air susulan. (*)


