MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA – Gambar hasil tangkapan wahana penjelajah milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Curiosity, kembali memicu perbincangan hangat di media sosial. Foto yang memperlihatkan bayangan mirip ubur-ubur melayang di atas permukaan Mars tersebut memancing spekulasi publik mengenai keberadaan makhluk luar angkasa maupun teknologi alien.
Foto dalam format hitam-putih (grayscale) beresolusi rendah itu menampilkan siluet gelap berukuran amat kecil melayang di atas deretan bukit berbatu Kawah Gale. Objek tersebut tampak memiliki bagian tubuh membulat dengan dua garis tipis yang menjuntai ke bawah, menyerupai ubur-ubur atau robot Tripod dalam cerita fiksi ilmiah War of the Worlds.
Baca juga: Google Luncurkan Gemini 3.5 Transcribe, Ubah Rekaman Suara Jadi Teks Rapi Secara Otomatis
Potret ini sebenarnya diabadikan oleh kamera navigasi kanan (NavCam) Curiosity pada 20 Agustus 2023 atau tepat pada sol (hari Mars) 3924. Gambar tersebut sempat lama terabaikan sebelum akhirnya kembali viral setelah diunggah ulang oleh pengguna akun X bernama Kari Sivertzen pada 12 Agustus 2026.
Keanehan objek ini makin menjadi perhatian karena sifat kemunculannya yang serba mendadak. Pada titik koordinat yang sama persis, NavCam sempat mengambil foto 13 detik dan 25 detik sebelumnya tanpa merekam objek apa pun. Saat kamera kembali memotret area tersebut 78 menit kemudian, bayangan mirip ubur-ubur itu sudah menghilang tanpa bekas.
Baca juga: Lompati Tren Global, Apple Siapkan Peluncuran iPhone Lipat Pertama pada September
Perubahan singkat ini memastikan bahwa fenomena visual tersebut bukanlah struktur permanen di lanskap Mars. Spekulasi yang mengaitkan objek tersebut dengan helikopter Ingenuity milik NASA juga langsung gugur. Pasalnya, Ingenuity beroperasi di kawah berbeda yang berjarak lebih dari 3.200 kilometer dari Kawah Gale.
Secara psikologis, kecenderungan masyarakat melihat bentuk ubur-ubur atau makhluk hidup pada pola acak dipicu oleh fenomena yang dikenal sebagai pareidolia. Otak manusia secara alami cenderung mengenali pola-pola familier seperti bentuk wajah atau hewan dari objek visual yang acak, sebagaimana pernah terjadi pada temuan “Wajah di Mars” oleh Viking 1 pada 1976 yang terbukti hanya bukit berbatu biasa.
Baca juga: Makassar Resmi Jadi Salah Satu dari 10 Hub Garuda Spark Innovation Hub 2026
Dari sudut pandang ilmiah, penjelasan paling masuk akal atas kemunculan bayangan ini adalah paparan sinar kosmik (cosmic ray). Mars tidak memiliki medan magnet global serta hanya menyimpan atmosfer setebal 0,5 persen dari milik Bumi, sehingga instrumen elektronik seperti kamera robotik sangat rentan dihantam partikel berenergi tinggi dari ruang angkasa.
Benturan sinar kosmik pada detektor silikon kamera saat proses kalibrasi (bias frame) meninggalkan muatan listrik lokal. Ketika sistem memproses gambar, muatan terang tersebut justru diubah menjadi noda gelap, sementara efek penyebaran muatan di sepanjang kolom piksel menghasilkan garis-garis tipis menjuntai yang tampak seperti tentakel.
Baca juga: Pasar Tablet Indonesia 2026 Kian Beragam, Dari Kelas Rp1 Jutaan Hingga Edisi Spesial Rp60 Juta
Gangguan teknis akibat hantaman radiasi kosmik semacam ini tergolong lazim dan tercatat muncul hampir setiap minggu pada sensor kamera Curiosity. Selain sinar kosmik, Anomali visual serupa dapat timbul dari gangguan transmisi data, fluktuasi suhu perangkat keras, kesalahan kalibrasi, hingga potensi fisik berupa pergerakan debu atau pusaran angin (dust devil).
NASA menegaskan bahwa hingga kini belum ada bukti kehidupan cerdas yang ditemukan di Mars, selain indikasi keberadaan jejak mikroba purba di masa lalu. Penampakan “ubur-ubur” melayang di Planet Merah ini hampir dipastikan merupakan artefak atau gangguan teknis kamera penjelajah akibat paparan lingkungan antariksa yang ekstrem. (*)


