MENITNEWS.CO.ID, WASHINGTON — Sejumlah pesawat tempur milik Amerika Serikat mengalami kerusakan setelah rudal Iran menghantam Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania pada Selasa (8/9/2026) hingga Rabu (9/9/2026). Laporan CBS News yang dikutip Anadolu mengungkapkan setidaknya delapan unit F-15 mengalami kerusakan ringan, sementara satu unit A-10 Thunderbolt kehilangan salah satu sayapnya akibat hantaman rudal tersebut.
Meski demikian, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden serangan militer Iran ke fasilitas pertahanan militer AS tersebut.
Insiden ini terjadi tak lama setelah pihak Amerika Serikat mengonfirmasi penargetan terhadap lima kapal tanker Iran pada Selasa. Langkah tersebut diambil militer AS sebagai respons atas serangan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap kapal Angkatan Laut AS. IRGC kemudian mengklaim serangan balasan mereka telah menyasar delapan kapal tanker, dua kapal perang, serta pangkalan militer AS di Yordania.
Pasukan militer AS di Yordania dilaporkan melepaskan sedikitnya 30 rudal Patriot untuk menghalau rentetan tembakan rudal Iran. Namun, serangan ke Pangkalan Muwaffaq Salti terjadi di tengah laporan bahwa stok rudal Patriot serta persediaan munisi presisi milik AS kian menipis.
Media The New York Post mengabarkan bahwa gempuran terbaru ini menandai eskalasi konflik yang kian mematikan. Dalam serangan ke Pangkalan Muwaffaq Salti, militer Iran menggunakan rudal berteknologi elektro-optik. Laporan tersebut juga menggambarkan gelombang serangan masif IRGC yang membidik fasilitas militer AS di Yordania dan kapal perang AS di Selat Hormuz.
Sementara itu, The Daily Telegraph melaporkan bahwa sistem pelacak elektro-optik pada rudal Iran dilengkapi sensor dan kamera khusus. Teknologi ini dirancang untuk melacak serta menghancurkan sasaran dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.
Perkembangan ini sejalan dengan pengumuman media pemerintah Iran pada Senin (7/9/2026) mengenai uji coba rudal balistik berteknologi mutakhir. Peluncuran ini sekaligus mendemonstrasikan doktrin pertahanan baru Teheran, yaitu mengambil tindakan tegas terhadap potensi ancaman sebelum ancaman tersebut benar-benar dilancarkan.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh komentar Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei, yang mengeklaim bahwa rudal terbaru milik Iran sukses diuji coba terhadap kapal induk militer AS. Kendati demikian, laporan tersebut belum mengonfirmasi apakah rudal yang dimaksud Rezaei merupakan rudal berbahan bakar padat jenis Qasem Basir.
Di sisi lain, otoritas Amerika Serikat pada Sabtu pekan lalu menyatakan bahwa rudal balistik Iran sempat diarahkan ke kapal-kapal perang mereka, yang kemudian direspons AS dengan mengebom tiga kapal tanker milik Iran.
Mengutip laporan Gulf News, para pengamat militer menilai serangan rudal ke kapal induk AS sebagai bentuk eskalasi yang sangat berbahaya. Pasalnya, fokus serangan militer Iran di wilayah perairan sebelumnya hanya menyasar kapal-kapal komersial.
Pesan politik dan militer dari Teheran dinilai kian tegas. Kehadiran rudal Qasem Basir dilaporkan menjadi titik balik penting dalam strategi pertahanan nasional Iran.
Rudal Qasem Basir dikenal memiliki daya jangkau lebih jauh serta tingkat presisi yang lebih tinggi dengan kapasitas hulu ledak mencapai setengah ton. Rudal yang pertama kali diperkenalkan ke publik pada tahun lalu ini tercatat mampu menjangkau target hingga jarak 1.200 kilometer.
Rezaei menjelaskan bahwa uji coba rudal jenis baru tersebut dilakukan langsung dalam sebuah operasi militer laut dengan sasaran kapal perang milik AS. Ia menggambarkan uji coba munisi khusus tersebut berhasil menciptakan kepanikan bagi pihak Amerika Serikat hingga memaksa kapal-kapal Angkatan Laut AS mundur dari kawasan Teluk Persia.
Peluncuran rudal tingkat tinggi tersebut diselenggarakan secara simultan oleh Angkatan Udara IRGC. Serangkaian rudal ditembakkan dengan mengincar kapal induk dan kapal perusak AS yang selama ini menerapkan blokade maritim terhadap kapal-kapal tanker Iran. (*)



