MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA — Serangan bersenjata berdarah guncang rangkaian Pemilihan Regional dan Municipal 2026 di Peru. Jurnalis digital sekaligus calon Gubernur Regional Áncash, Susy Isabel Aponte Polo, tewas diterjang timah panas saat menggelar kegiatan kampanye di kawasan pasar Kota Caraz, Provinsi Huaylas, Sabtu, 19 September 2026.
Perempuan berusia 43 tahun yang akrab disapa “La China Polo” tersebut diserang secara mendadak di tengah kerumunan tim sukses dan pendukungnya. Selain menewaskan Susy, penembakan brutal itu dilaporkan melukai sejumlah warga yang berada di lokasi kejadian.
Sebelum insiden maut ini terjadi, Susy sempat mengumumkan kepada publik bahwa dirinya kerap menerima ancaman pembunuhan. Berdasarkan pemberitaan Tribunnews, korban mengaku pernah mendapatkan panggilan telepon bernada intimidasi yang ditengarai berasal dari dalam lembaga pemasyarakatan.
Sebelum terjun ke dunia politik praktis lewat gerakan Socios por Áncash, Susy dikenal vokal sebagai jurnalis investigasi digital melalui kanal China Polo Dominical. Ia aktif membongkar berbagai kasus sensitif di Áncash, mulai dari dugaan korupsi pejabat publik, proyek pemerintah, pertambangan ilegal, hingga jejaring kejahatan terorganisasi.
Hanya beberapa hari sebelum tewas, Susy masih sempat menghadiri debat resmi antar-kandidat untuk memaparkan visinya jelang pemungutan suara yang dijadwalkan berlangsung pada 4 Oktober 2026 mendatang.
Pihak Kepolisian Nasional Peru (PNP) langsung bergerak cepat merespons tragedi ini. Kementerian Dalam Negeri Peru mengonfirmasi bahwa Komandan Jenderal PNP Fredy López Mendoza turun langsung memimpin operasi perburuan dan penyidikan di Kota Caraz.
Perkembangan terbaru pada Senin, 21 September 2026, menunjukkan aparat kepolisian telah mengantongi bukti-bukti kuat yang mengarah pada keterlibatan seorang warga negara asing (WNA) sebagai eksekutor penembakan. Pihak pengadilan setempat juga resmi memperpanjang masa penahanan terhadap dua orang yang diduga kuat terlibat dalam perencanaannya.
Tragedi tewasnya Susy Aponte Polo menjadi pemicu alarm bahaya bagi perlindungan jurnalis serta keselamatan aktor politik di tingkat regional. Kasus ini sekaligus menunjukkan betapa besarnya risiko yang dihadapi oleh insan pers saat berhadapan dengan kekuatan korupsi dan kejahatan terorganisasi.
Hingga saat ini, proses hukum dan penyidikan oleh aparat Peru masih terus berjalan. Pihak berwenang mengimbau publik untuk tidak berspekulasi mengenai motif utama penembakan maupun aktor intelektual di balik serangan tersebut sebelum seluruh bukti sah teruji di pengadilan. (*)



