Unhas Gaet Akademisi Afrika Selatan Bahas Ancaman Mikroplastik dan Limbah Farmasi di Perairan

Guest lecture yang berlangsung secara daring pada Senin, 21 September 2026 ini memperkuat komitmen Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin dalam memperluas jejaring akademik internasional sekaligus menghadirkan pembelajaran lintas disiplin yang relevan dengan tantangan lingkungan global (Dok: Istimewa)

MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Residu obat-obatan antibiotik, bahan kimia farmasi, hingga mikroplastik makin mengancam kualitas sumber daya air di berbagai negara. Penggunaan pemodelan kualitas air dan hidrologi dinilai menjadi langkah krusial untuk mengidentifikasi sebaran polutan tersebut secara akurat demi mencegah krisis air bersih.

Isu lingkungan tersebut menjadi pokok pembahasan dalam kuliah umum daring bertema Water and Environmental Engineering and Science yang digelar Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas), Senin (21/9/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Head of Civil Engineering Discipline University of KwaZulu-Natal (UKZN) Afrika Selatan, Prof. Dr. Muthukrishna Vellaisamy Kumarasamy.

Dalam keterangannya, Prof. Kumarasamy memaparkan bahwa pemantauan air di lapangan saat ini tidak lagi cukup tanpa bantuan model matematis. Model hidrologi dibutuhkan untuk memprediksi risiko banjir sekaligus merancang pengendalian pencemaran air secara presisi.

(Dok: Istimewa)

Ia mencontohkan riset kualitas air pada daerah aliran sungai (DAS) di Afrika Selatan yang memanfaatkan sampel dari 18 lokasi berbeda. Data pengujian laboratorium tersebut diolah menggunakan model matematis untuk mengukur konsentrasi dan pergerakan limbah.

“Penilaian kondisi badan air harus memadukan aspek kuantitatif, seperti debit sungai, ketersediaan air, dan muka air tanah, dengan aspek kualitatif yang meliputi indikator fisik, kimia, dan biologis,” ujar Prof. Kumarasamy dalam pemaparannya.

Menurutnya, tekanan terhadap sumber air bersih makin berat akibat laju urbanisasi, alih fungsi lahan pertanian, limpasan air hujan, serta pembuangan limbah industri. Kebutuhan pengelolaan air terpadu pun wajib menyelaraskan efisiensi ekonomi, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan.

Melalui simulasi dan pemodelan yang telah divalidasi, pemerintah atau pengambil kebijakan dapat menentukan titik-titik DAS yang memiliki tingkat pencemaran tertinggi secara lebih cepat.

Menanggapi paparan tersebut, Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas, Prof. Sukri Palutturi, menekankan pentingnya menindaklanjuti pertemuan ini ke dalam program akademis yang berkelanjutan antara Indonesia dan Afrika Selatan.

“Kami memandang pentingnya kerja sama akademik jangka panjang antara Indonesia dan Afrika Selatan melalui penelitian bersama, pertukaran mahasiswa dan staf, serta program visiting professor,” kata Prof. Sukri.

Kuliah umum yang dipandu oleh Dr. Ir. Darhamsyah ini diakhiri dengan penjajakan kerja sama lintas disiplin. Pihak UKZN membuka peluang publikasi riset bersama, pengujian tesis dan disertasi, pengembangan kurikulum, hingga penyelenggaraan konferensi internasional bersama Unhas. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan