MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Universitas Hasanuddin (Unhas) mulai menjajaki penguatan kerja sama akademik dengan perguruan tinggi di Korea Selatan. Langkah ini diarahkan untuk membuka akses pertukaran mahasiswa, dosen, hingga peneliti, sekaligus memperkuat daya saing sumber daya manusia (SDM) di kawasan Indonesia Timur.
Inisiatif tersebut mengemuka dalam kuliah umum bertajuk “Unlock Your Potential: Preparing for a Successful Future” yang berlangsung di Ruang Senat Gedung Rektorat Unhas, Makassar, Senin (21/9).
Hadir sebagai pembicara utama, Chairman Busan Indonesia Center (BIC) Prof. Dr. Kim Soo-Il. Mantan Duta Besar Korea Selatan untuk Timor Leste tersebut membagikan sudut pandangnya mengenai pentingnya investasi SDM sebagai fondasi utama kemajuan sebuah negara.
Belajar dari Model Pembangunan Korea Selatan

Dalam paparannya, Prof. Kim menekankan bahwa lompatan ekonomi dan teknologi Korea Selatan tidak terlepas dari fokus pemerintah serta masyarakatnya pada sektor pendidikan. Pendidikan dinilai berhasil membentuk SDM unggul yang menjadi motor penggerak pembangunan.
Ia menilai, konsep pengembangan SDM tersebut sangat relevan diterapkan di Indonesia, khususnya kawasan timur yang memiliki potensi pemuda melimpah. Namun, potensi besar ini membutuhkan dorongan berupa akses pendidikan berkualitas, jejaring akademik global, serta keberanian menangkap peluang internasional.
“Hubungan antarmanusia merupakan salah satu unsur penting yang memperkuat relasi Indonesia dan Korea Selatan,” ujar mantan Perwakilan Kementerian Pariwisata Indonesia di Korea Selatan tersebut.
Prof. Kim juga membagikan perjalanan hidupnya saat menghadapi keterbatasan ekonomi dan ketidakpastian. Menurutnya, tantangan finansial tidak boleh menjadi penghalang bagi generasi muda untuk terus mengejar pendidikan dan menekuni bidang yang dipilih.
Jembatan Akademik Indonesia Timur dan Korea

Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, menyatakan kehadiran tokoh diplomasi seperti Prof. Kim Soo-Il menjadi momentum bagi Unhas untuk membangun jembatan akademik yang lebih solid antara Indonesia Timur dan Korea Selatan.
Pria yang akrab disapa Prof. JJ ini menjelaskan, Unhas sedang mendorong skema kerja sama perguruan tinggi yang tidak sekadar berfokus pada kesepakatan administratif kelembagaan. Fokus utama kerja sama ini diarahkan pada kegiatan substantif yang dapat dirasakan langsung oleh civitas akademika.
“Yang membangun sebuah negara adalah manusianya. Karena itu, pendidikan harus ditempatkan di tempat yang paling atas. Anak-anak muda harus mempersiapkan kemampuan mereka untuk menghadapi masa depan,” kata Prof. JJ.
Ia menambahkan, Unhas merancang program pertukaran mahasiswa, staf, dan peneliti guna memberikan pengalaman akademik internasional secara langsung. Ke depan, generasi muda diharapkan mampu berperan sebagai penghubung diplomasi antarnegara melalui riset dan kolaborasi ilmiah. (*)



