MENITNEWS.CO.ID, FAKFAK – Tim 14 Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin mendorong percepatan hilirisasi komoditas pala di Kampung Weri dan Saharey, Distrik Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Langkah ini berfokus pada diversifikasi produk turunan dengan memanfaatkan daging buah dan cangkang pala yang selama ini terbuang sebagai limbah.
Upaya pengembangan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Validasi Data Potensi Pala, Limbah Pala, dan Permasalahan Hilirisasi yang diselenggarakan pada Jumat, 4 September 2026, di SMP Negeri Fakfak Timur. Agenda ini dihadiri 38 peserta dari kalangan petani, pemerintah kampung, hingga perwakilan instansi pemerintah daerah.
Komoditas Pala Tomandin Fakfak sendiri telah mengantongi sertifikasi Indikasi Geografis dan menjadi tumpuan ekonomi warga setempat. Di dua kampung tersebut, setiap petani rata-rata mengelola lahan seluas dua hektare dengan hasil panen berkisar antara 1.000 hingga 40.000 buah per musim.

Meskipun memiliki potensi panen yang tinggi, mayoritas warga masih memfokuskan penjualan pada biji dan fuli saja. Padahal, kalkulasi awal menunjukkan setiap 10.000 buah pala menyisakan sekitar 0,79 ton hasil sampingan dan limbah berupa daging serta cangkang buah.
Ketua Tim 14 Ekspedisi Patriot Unhas, Ira Taskirawati, S.Hut., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa data lapangan menjadi pijakan utama dalam merumuskan strategi pendampingan warga. Pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah diyakini mampu meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat pendulang pala.
Ira menegaskan bahwa pemanfaatan daging dan cangkang buah pala membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Hilirisasi harus ditopang oleh peningkatan kapasitas SDM, penggunaan teknologi tepat guna, penguatan struktur kelembagaan, serta pembukaan akses pemasaran.
Proses budidaya dan tata kelola kebun pala di Distrik Fakfak Timur saat ini masih menghadapi berbagai rintangan. Para petani lokal masih mengandalkan teknik tradisional, berhadapan dengan cuaca yang tak menentu, ancaman hama, serta kendala aksesibilitas menuju lokasi perkebunan.
Rantai pengolahan pascapanen juga terkendala oleh minimnya penguasaan teknologi, keterbatasan alat, serta ketidaktahuan jaringan pasar. Faktor-faktor inilah yang membuat limbah buah pala belum tergarap menjadi produk komersial secara berkelanjutan.
Terkait kendala tersebut, perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Fakfak menekankan perlunya pelatihan bagi warga. Pemerintah daerah mendorong penciptaan olahan pangan baru berbahan dasar daging pala, seperti sirup, manisan, maupun selai.
Sebagai bentuk tindak lanjut, Tim 14 Ekspedisi Patriot Unhas bersama pihak terkait siap memfasilitasi program pendampingan secara konsisten. Fokus kegiatan mencakup pengelolaan budidaya, pemetaan rantai distribusi, pembentukan kelompok usaha, hingga diversifikasi produk turunan limbah pala demi memperkuat kemandirian ekonomi warga.
Kegiatan diskusi tersebut menghadirkan narasumber dari Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Syaiful Bahri Alkatiri, S.Hut., serta perwakilan Bapperida Kabupaten Fakfak, Hasan Jasir Iha, S.STP., M.Sc. Paparan hasil observasi disampaikan oleh Koordinator Lapangan Linderto Amunauw, S.PWK., dengan jalannya sesi diskusi dipandu oleh Helen Natalia Kasang, S.Hut. (*)



