MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam memperkuat infrastruktur irigasi melalui program Multi Years Project (MYP).
Kepala BBWS Pompengan Jeneberang, Heriantono Waluyadi, menilai keterlibatan pemerintah daerah dalam pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi memberikan dampak positif terhadap penguatan sistem pengairan pertanian.
Menurut Heriantono, program yang dikerjakan Pemprov Sulsel juga dapat membantu meringankan beban pemerintah pusat dalam penyediaan dan pemeliharaan infrastruktur sumber daya air.
“Kalau selama ini hanya bergantung dengan nasional, tentu ini meringankan juga. Karena dengan hadirnya itu, kita akan mudah mengatasi masalah air di persawahan,” ujar Heriantono, Rabu (16/9).
Ia menjelaskan, jaringan irigasi yang direhabilitasi Pemprov Sulsel nantinya dapat dikoneksikan dengan jaringan irigasi lainnya. Integrasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat sistem pengairan, termasuk jaringan yang menjadi penopang bendungan.
Heriantono mengatakan BBWS Pompengan Jeneberang akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam pengelolaan dan pemeliharaan jaringan irigasi yang telah dibangun.
“Nanti kan akan mudah koordinasinya. Kami pasti koordinasi dengan daerah untuk perawatan dan penanganan, sama seperti penanganan sungai juga,” katanya.
Program rehabilitasi jaringan irigasi Pemprov Sulsel tersebut mencakup areal persawahan seluas sekitar 54.000 hektare yang tersebar di 16 kabupaten.
Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Maros, Gowa, Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Pangkep, Barru, Sidrap, Pinrang, Enrekang, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur.
Total anggaran program tersebut mencapai Rp780 miliar yang bersumber dari hasil efisiensi APBD Sulsel Tahun Anggaran 2025-2027.
Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman sebelumnya menjelaskan bahwa program MYP tersebut difokuskan pada rehabilitasi jaringan irigasi yang tersebar di 39 daerah irigasi.
Rehabilitasi dilakukan karena sebagian besar infrastruktur irigasi yang ada mengalami penurunan fungsi. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi kerusakan pada bendung serta penyumbatan saluran yang menyebabkan distribusi air tidak optimal hingga ke lahan persawahan di wilayah hilir dan jaringan tersier.
Perbaikan jaringan irigasi diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan air bagi lahan pertanian sekaligus mendorong peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas pertanian.
Andi Sudirman menyebut ketersediaan air yang lebih baik berpotensi meningkatkan produktivitas pertanian sekitar 20 hingga 30 persen.
“Dampaknya nanti panen akan lebih meningkat karena air tersedia, bisa meningkatkan indeks produktivitas 20 sampai 30 persen,” kata Andi Sudirman.
Dengan jaringan irigasi yang kembali berfungsi optimal, petani diharapkan dapat meningkatkan frekuensi tanam dan panen. Pola tanam dapat mencapai dua hingga tiga kali dalam setahun, bergantung pada kondisi lahan dan ketersediaan air.
“Mereka bisa lima kali dalam dua tahun, atau tiga kali setahun, atau minimal dua kali setahun untuk bercocok tanam sampai panen,” pungkasnya. (*)



