MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM) Kota Makassar memperkuat distribusi air bersih gratis bagi masyarakat yang terdampak kemarau panjang. Selain mengerahkan mobil tangki, PDAM menyiapkan kendaraan berukuran lebih kecil yang dilengkapi tandon untuk menjangkau lorong-lorong permukiman.
Distribusi dilakukan hingga malam hari, terutama di kawasan yang sulit dimasuki kendaraan tangki berukuran besar. Bantuan air tersebut diberikan secara gratis, baik kepada pelanggan maupun warga yang bukan pelanggan PDAM.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PDAM Makassar, Andi Syahrum Makkuradde, mengatakan langkah tersebut merupakan respons perusahaan terhadap meningkatnya kebutuhan air bersih selama musim kemarau.
“Penyaluran secara gratis, memberikan bantuan air bersih gratis bagi pelanggan maupun nonpelanggan yang mengalami krisis air,” kata Andi Syahrum, Selasa (22/9/2026).
Saat ini, distribusi air bersih telah menjangkau sembilan wilayah kecamatan, yakni Ujung Tanah, Tallo, Bontoala, Wajo, Tamalanrea, Biringkanayya, sebagian Panakkukang, sebagian Manggala, dan sebagian Kecamatan Makassar.
Untuk memperluas jangkauan, PDAM menyiapkan armada berukuran kecil di enam wilayah pelayanan. Kendaraan tersebut membawa tandon air dan difungsikan untuk menyusuri lorong-lorong yang tidak dapat dilalui mobil tangki.
Andi Syahrum menegaskan bantuan air tidak dipungut biaya. Bagi warga yang bukan pelanggan PDAM, distribusi dilakukan berdasarkan surat permintaan sebagai bentuk pertanggungjawaban administrasi.
“Kalau tidak pelanggan, tentu ada suratnya masuk. Supaya nanti kalau diperiksa, kita ke mana kok bawa air ini,” ujarnya.
“Karena air ini kan bernilai uang. Setetes air pun itu harus kita pertanggungjawabkan ke mana,” sambungnya.
Hingga kini, PDAM telah menerbitkan 1.110 Surat Perintah Kerja (SPK) distribusi/proyek air. Total volume air yang telah disalurkan mencapai sekitar 4.560.000 liter.
Distribusi juga dilakukan melalui koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI dan Polri. Untuk penanganan kekeringan, PDAM memberikan dukungan melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
“Yang ke BPBD TNI, Polri itu gratis. Tetapi kita punya SK dalam rangka kekeringan, CSR-nya PDAM memberikan bantuan air,” jelas Andi Syahrum.
Di tengah meningkatnya kebutuhan air masyarakat, Andi Syahrum mengatakan kondisi distribusi PDAM tidak semata-mata menunjukkan adanya kekurangan sumber air. Salah satu indikator yang digunakan untuk melihat kelancaran distribusi adalah antrean mobil tangki.
Menurutnya, berkurangnya antrean kendaraan tangki menunjukkan pasokan air ke jaringan pelayanan mulai berjalan lebih lancar. Meski demikian, PDAM tetap melakukan pemantauan terhadap kualitas air, termasuk parameter Total Dissolved Solids (TDS).
“Untuk mengantisipasi kebutuhan warga di kawasan yang sulit terjangkau, enam wilayah pelayanan PDAM telah kita siapkan armada kecil yang membawa tandon air dan dapat masuk ke lorong-lorong permukiman,” terang mantan Camat Biringkanaya itu.
Terkait laporan air berwarna hitam yang sempat diterima masyarakat, Andi Syahrum menjelaskan kondisi tersebut dapat terjadi dalam proses pergantian atau pekerjaan pada jaringan pipa.
Ketika pipa dalam kondisi kosong dan kembali dialiri air, endapan atau material sisa di dalam jaringan berpotensi ikut terbawa aliran.
“Itulah, pergantian pipa, pada saat pipa kosong, kemudian air mengalir, tentu membawa beberapa ampas-ampas di situ,” jelasnya.

Ia mengakui kondisi jaringan perpipaan PDAM menjadi salah satu tantangan dalam menjaga kualitas dan kontinuitas pelayanan. Sebagian jaringan telah berkembang kompleks dan tidak seluruhnya mudah dipetakan.
Sejumlah jaringan pipa juga berada cukup dalam sehingga pekerjaan membutuhkan koordinasi dan perizinan dengan pihak terkait.
Andi Syahrum mencontohkan jaringan pipa di kawasan Jalan Urip Sumoharjo dan Jalan Perintis Kemerdekaan yang berada sekitar dua meter di bawah permukaan tanah.
Kondisi tersebut membuat penanganan jaringan membutuhkan izin, termasuk persyaratan jaminan. Namun, PDAM masih menghadapi kendala administrasi karena belum memiliki nomenklatur anggaran untuk pembayaran jaminan tersebut.
Meski menghadapi tantangan teknis dan administrasi, PDAM Makassar memastikan distribusi air bersih terus dilakukan selama kemarau panjang.
“Kami PDAM juga terus berkoordinasi dengan pimpinan Pemerintah Kota, BPBD, TNI, Polri serta unsur RT/RW agar bantuan air dapat diarahkan kepada warga yang benar-benar membutuhkan,” tukasnya.
Langkah PDAM Makassar menggunakan armada kecil bertandon untuk menjangkau lorong-lorong permukiman mendapat perhatian pemerhati publik, Dr. Nurmal Idrus.
Menurut Nurmal, pendekatan tersebut menjadi inovasi layanan yang relevan di tengah kemarau panjang yang berdampak terhadap ketersediaan air bersih bagi sebagian masyarakat.
Ia menilai pola tersebut menunjukkan perubahan pendekatan dalam pelayanan publik. Masyarakat tidak hanya menunggu mendatangi titik distribusi, tetapi layanan dihadirkan lebih dekat ke lokasi warga.
“Logikanya sederhana, kalau warga sulit mendatangi air, maka air yang harus mendatangi warga,” kata Nurmal.
Menurutnya, kondisi Kota Makassar tidak hanya ditentukan kawasan jalan protokol, gedung tinggi, dan pusat bisnis. Di balik itu terdapat lorong-lorong sempit yang menjadi ruang hidup masyarakat sekaligus menghadapi persoalan pelayanan dasar, termasuk kebutuhan air bersih.
Karena itu, penggunaan kendaraan pengangkut air berukuran kecil dinilai penting untuk menjangkau kawasan yang sulit dimasuki mobil tangki besar.
“Kendaraan ini bisa menyusuri lorong-lorong yang sulit dijangkau kendaraan besar,” ujarnya.
Nurmal mengatakan substansi inovasi tersebut bukan hanya pada kendaraan yang digunakan, tetapi pada pendekatan pelayanan yang menjadikan akses warga sebagai pertimbangan utama.
“Pelayanan publik tidak selalu harus menunggu warga datang. Sesekali pemerintah yang harus mendatangi warga,” katanya.
“Ukuran sederhana sebuah inovasi publik bukan seberapa canggih namanya, tetapi seberapa dekat manfaatnya dengan warga,” tambah Nurmal.
Ia berharap pola pelayanan tersebut terus diperkuat selama kemarau berlangsung. Menurutnya, distribusi air perlu berjalan beriringan dengan pembenahan jaringan dan penguatan sistem penyediaan air bersih secara berkelanjutan.
“Sebab kota yang baik bukan hanya kota yang punya jalan besar, tetapi juga kota yang pemerintahnya mau masuk ke jalan-jalan kecil tempat warganya hidup,” tandasnya. (*)



