MENITNEWS.CO.ID, LUWU TIMUR — Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Fapet Unhas) bersama PT Vale Indonesia, memperkuat hilirisasi hasil riset melalui monitoring dan pendampingan budidaya Ayam Alope Unhas 1 di Kelompok Waliko, Desa Pekaloa, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (27/9) tersebut menjadi bagian dari pendampingan teknis untuk mengevaluasi penerapan hasil riset Fapet Unhas pada tingkat peternak sekaligus memperkuat kapasitas kelompok dalam mengelola budidaya ayam secara mandiri.
Dekan Fapet Unhas, Prof. Dr. Ir. Syahdar Baba, S.Pt., M.Si., IPU, bersama Tim Alope Unhas 1 turun langsung memantau perkembangan budidaya dan berdiskusi dengan anggota Kelompok Waliko mengenai kondisi pemeliharaan ayam di lapangan.
“Monitoring ini kami lakukan untuk melihat secara langsung bagaimana Ayam Alope Unhas 1 tumbuh dan beradaptasi di tingkat peternak. Kami ingin memastikan tata laksana pemeliharaan yang diterapkan sudah tepat, sekaligus mengetahui kendala yang dihadapi kelompok,” ujar Prof. Syahdar, Rabu (30/9/2026).
Pemantauan mencakup sejumlah aspek teknis, mulai dari manajemen pakan, kondisi kandang, kesehatan ternak, perkembangan pembesaran, hingga pencatatan produksi.
Menurut Prof. Syahdar, pencatatan dan evaluasi menjadi bagian penting dalam proses hilirisasi hasil penelitian karena data yang diperoleh dari lapangan dapat menjadi bahan untuk melihat efektivitas penerapan teknologi sekaligus melakukan penyempurnaan.
“Ketika hasil riset sudah diterapkan di masyarakat, kami perlu mendapatkan data dan umpan balik dari peternak. Dari situ kami bisa melihat apa yang berjalan dengan baik dan apa yang masih perlu diperbaiki,” jelasnya.
Selain memantau kondisi ternak, Tim Alope Unhas 1 juga memberikan pendampingan teknis kepada anggota kelompok terkait tata cara pemeliharaan, pengelolaan pakan, kesehatan ternak, serta pencatatan perkembangan ayam.
Pendampingan tersebut diarahkan agar anggota Kelompok Waliko tidak hanya mendapatkan bantuan dalam pemeliharaan ternak, tetapi juga memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat mendukung keberlanjutan usaha.
“Kami ingin kelompok memiliki kemampuan untuk mengelola budidaya secara mandiri. Karena itu, yang kami berikan bukan hanya pendampingan terhadap ternaknya, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan yang dapat mereka gunakan dalam menjalankan usaha,” kata Prof. Syahdar.
Keberadaan Kelompok Waliko menjadi salah satu aspek penting dalam program pendampingan tersebut. Kelompok binaan itu beranggotakan lima orang penyandang disabilitas, dua di antaranya merupakan penyandang disabilitas fisik.
Keterlibatan anggota kelompok penyandang disabilitas menunjukkan bahwa penerapan hasil riset peternakan dapat diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas usaha, tetapi juga membuka ruang partisipasi ekonomi bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap kesempatan usaha.

“Ini juga penting bagi kami karena Kelompok Waliko memiliki karakter yang khusus. Mereka adalah penyandang disabilitas, tetapi tetap memiliki kemampuan untuk menjalankan kegiatan produktif. Tugas kita adalah memberikan akses, pengetahuan, dan pendampingan agar potensi tersebut dapat berkembang,” tutur Prof. Syahdar.
Dari perspektif Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), keterlibatan Kelompok Waliko berkaitan dengan SDG 10 tentang pengurangan kesenjangan (Reduced Inequalities).
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan prinsip No One Left Behind, yakni memastikan kelompok masyarakat dengan kondisi dan akses yang beragam tetap memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi serta mendapatkan manfaat dari proses pembangunan.
Penerapan Ayam Alope Unhas 1 di tingkat peternak merupakan bagian dari upaya Fapet Unhas memperluas pemanfaatan hasil penelitian agar memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Interaksi antara tim peneliti dan kelompok peternak juga menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi nyata di lapangan.
Hal tersebut penting karena penerapan teknologi hasil penelitian dapat menghadapi kondisi yang berbeda dibandingkan saat teknologi tersebut diuji dalam lingkungan penelitian.
“Pada saat teknologi diterapkan, situasinya tentu tidak selalu sama dengan kondisi penelitian. Karena itu, monitoring seperti ini penting untuk melihat adaptasi teknologi dan memberikan rekomendasi berdasarkan kondisi nyata yang dihadapi peternak,” ungkap Prof. Syahdar.
Kolaborasi dengan PT Vale Indonesia turut memperkuat penerapan hasil riset tersebut melalui dukungan terhadap kelompok masyarakat di wilayah operasional perusahaan.
Sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan dapat memperluas pemanfaatan inovasi di bidang peternakan sekaligus meningkatkan kapasitas usaha masyarakat lokal.
“Harapan kami, kelompok ini tidak hanya berhasil dalam satu siklus pemeliharaan, tetapi mampu terus berkembang dan mengelola usahanya dengan pengetahuan yang sudah diperoleh. Kalau kapasitas kelompok kuat, hasil riset yang kita bawa juga akan memberikan manfaat yang lebih luas,” kata Prof. Syahdar.
Pendampingan Ayam Alope Unhas 1 selanjutnya akan dilakukan secara berkala melalui monitoring perkembangan ternak, evaluasi teknis, serta penguatan kapasitas kelompok.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas penerapan hasil riset Fapet Unhas sekaligus mendukung pengembangan peternakan berbasis potensi masyarakat di Kabupaten Luwu Timur. (Adv)



