MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Ketua Dewan Lingkungan Kota Makassar, Melinda Aksa, mengajak seluruh Ketua RT dan RW menjadi motor penggerak perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah dari rumah tangga sebagai bagian dari upaya mewujudkan Makassar Bebas Sampah 2029.
Ajakan tersebut disampaikan saat membuka rangkaian kegiatan Jelajah Sampah yang diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar di Kecamatan Panakkukang, Sabtu (27/6/2026).
Mengusung tema “Kelola Sampah dari Rumah, Wujudkan Kecamatan Bersih, Hijau, dan Produktif Menuju Makassar Bebas Sampah”, kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan kolaboratif untuk membangun budaya pengelolaan sampah dari sumbernya melalui edukasi dan aksi nyata.
Ratusan Ketua RT dan RW hadir mengenakan rompi merah sebagai simbol komitmen bersama menjaga kebersihan lingkungan. Tercatat sekitar 90 Ketua RW dan lebih dari 400 Ketua RT mengikuti kegiatan tersebut.
Dalam sambutannya, Melinda mengapresiasi tingginya partisipasi para Ketua RT dan RW yang dinilai memiliki peran strategis dalam mengubah kebiasaan masyarakat terkait pengelolaan sampah.
“Terima kasih kepada seluruh Ketua RT dan RW yang hadir hari ini. Kehadiran Bapak dan Ibu menunjukkan bahwa perubahan dimulai dari lingkungan terkecil. RT dan RW adalah motor penggerak yang akan mengajak masyarakat membiasakan memilah sampah dari rumah,” ujar Melinda.
Ia menegaskan, membangun budaya baru dalam mengelola sampah tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan konsistensi, keteladanan, dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Sebagai contoh, Melinda mengungkapkan keberhasilan Korea Selatan yang membutuhkan waktu hampir dua dekade untuk meningkatkan tingkat pengelolaan sampah dari di bawah lima persen hingga lebih dari 90 persen.
Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku membutuhkan proses panjang sehingga seluruh pihak harus memulai dari diri sendiri sebelum mengajak masyarakat.
“Sebelum mengajak warga memilah sampah, kita sebagai RT, RW maupun pemerintah harus lebih dulu melakukannya di rumah masing-masing. Keteladanan jauh lebih kuat daripada sekadar ajakan,” katanya.
Melinda juga mengungkapkan bahwa Kecamatan Panakkukang memiliki potensi besar dalam mendukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Saat ini terdapat sekitar 400 bank sampah, meski sebagian belum aktif, dengan lebih dari 8.300 nasabah.
Selain itu, tersedia 739 unit komposter, 130 titik budidaya maggot, 883 unit Teba, serta 1.583 titik biopori yang menjadi modal penting dalam pengurangan sampah dari sumbernya.

Melinda Aksa berharap, seluruh potensi tersebut dapat terus dioptimalkan sehingga setiap RW memiliki sistem pengelolaan sampah yang aktif dan mandiri.
“Saya berharap minimal setiap RW memiliki satu sistem pengelolaan sampah yang aktif. Melalui berbagai kelas pelatihan hari ini, masyarakat tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan mengolah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mengikuti berbagai aktivitas, mulai dari plogging atau jalan santai sambil memungut sampah, penimbangan sampah hasil aksi bersih, talkshow, Gerakan Pangan Murah, pameran urban farming, hingga pelatihan pembuatan biopori, eco-enzyme, komposter, dan budidaya maggot.
Melinda menambahkan, kolaborasi lintas perangkat daerah menjadi bagian penting dalam membangun ekonomi sirkular.
Sampah organik yang diolah melalui komposter maupun maggot dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung urban farming dan memperkuat ketahanan pangan keluarga.
“Ketika sampah diolah menjadi kompos, digunakan untuk menanam sayuran, lalu hasil panennya dikonsumsi masyarakat, maka kita sedang membangun siklus yang saling menguatkan. Inilah semangat ekonomi sirkular yang terus kita dorong di Makassar,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan program Jelajah Sampah akan dilaksanakan secara bergilir di seluruh 15 kecamatan di Kota Makassar, dengan Panakkukang sebagai lokasi pertama pada tahun ini.
Menurut Helmy, program yang telah berjalan sejak 2025 tersebut merupakan gerakan edukasi sekaligus aksi nyata untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengurangi timbulan sampah dari sumbernya demi mendukung target Makassar Bebas Sampah 2029.
Di sisi lain, Camat Panakkukang, Syahril, menyampaikan bahwa wilayahnya kini memiliki sekitar 50 unit urban farming dan puluhan bank sampah yang terus dikembangkan.
Ia mengungkapkan, meski baru sekitar 20 persen masyarakat yang secara mandiri memilah sampah, keterlibatan Ketua RT dan RW dalam gerakan tersebut hampir mencapai 100 persen.
Pemerintah Kecamatan Panakkukang pun menargetkan sedikitnya 50 persen masyarakat telah membiasakan pemilahan sampah dari rumah pada tahun 2027.
Melalui Gerakan Jelajah Sampah, Pemerintah Kota Makassar berharap pengelolaan sampah tidak lagi menjadi kegiatan sesaat, melainkan berkembang menjadi kebiasaan, gaya hidup, dan budaya baru masyarakat menuju kota yang bersih, hijau, produktif, dan bebas sampah secara berkelanjutan.
Mendampingi Melinda Aksa, kegiatan tersebut turut dihadiri Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Zainal Ibrahim, jajaran Dinas Lingkungan Hidup, pengurus Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Ketua TP PKK Kecamatan Panakkukang, Qalby Ahmad, para Lurah se-Kecamatan Panakkukang, serta para Ketua RT dan RW. (*)