Melinda Aksa Dorong Tenun Jadi Warisan Budaya Sekaligus Penggerak Ekonomi Kreatif Makassar

MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA — Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Makassar, Melinda Aksa, menghadiri Weaving Archipelago yang menjadi bagian dari rangkaian Senayan City Glorify Indonesia di Promenade Ground Floor Senayan City, Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Kegiatan yang digelar Senayan City bersama Cita Tenun Indonesia tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan keragaman tenun Nusantara sekaligus menunjukkan bahwa warisan tekstil Indonesia dapat terus berkembang dan memiliki relevansi dengan industri kreatif masa kini.

Melinda Aksa meninjau langsung berbagai karya tenun yang dipamerkan. Ia juga berdiskusi dengan sejumlah penggiat wastra mengenai karakter kain, motif, teknik pengerjaan, hingga proses pengembangan tenun dari tangan perajin menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Kegiatan tersebut dibuka Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan tenun Indonesia melalui penguatan ekosistem yang mampu mempertemukan pelestarian budaya, kreativitas, dan peluang ekonomi.

Tenun tidak hanya bernilai sebagai produk ekonomi kreatif. Di dalamnya terdapat pengetahuan, cerita, identitas, dan keterampilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Baca Juga : Evaluasi 18 Pasar di Makassar, Melinda Aksa Tegaskan Pemilahan Sampah Wajib Dimulai Dari Pedagang

Karena itu, pengembangan tenun dinilai perlu terus didorong agar para perajin memiliki ruang untuk tumbuh, sementara kekayaan budaya yang melekat pada setiap karya tetap terjaga.

Semangat tersebut sejalan dengan upaya Cita Tenun Indonesia yang berfokus pada pelestarian tenun Nusantara, pembinaan dan pengembangan perajin, serta perluasan pemasaran produk tenun.

Upaya tersebut mendorong tenun agar tidak sekadar menjadi warisan masa lalu, tetapi terus hidup melalui inovasi dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan serta gaya hidup masyarakat masa kini.

Bagi Melinda Aksa, kehadiran di Weaving Archipelago menjadi kesempatan untuk melihat berbagai pendekatan yang dapat diterapkan dalam memperkuat ekosistem kerajinan di Kota Makassar.

“Yang menarik adalah bagaimana sebuah kain tidak hanya ditampilkan sebagai produk jadi. Ada cerita tentang daerah, keterampilan perajin, proses kreatif, sampai bagaimana karya itu diperkenalkan kepada pasar. Hal-hal seperti inilah yang perlu terus kita kuatkan,” ujar Melinda Aksa.

Ia menilai Sulawesi Selatan memiliki kekayaan wastra dan tradisi kerajinan yang sangat kuat. Potensi tersebut, kata dia, perlu dijaga sekaligus dikembangkan melalui peningkatan kualitas produk, desain, regenerasi keterampilan, dan akses pasar.

Menurut Melinda, pengalaman yang diperoleh dari Weaving Archipelago dapat menjadi referensi bagi Dekranasda Kota Makassar dalam menyusun pendekatan pengembangan kerajinan yang tidak hanya berorientasi pada promosi produk.

Penguatan kapasitas perajin dan keberlanjutan pengetahuan yang berada di balik setiap karya juga menjadi bagian penting yang perlu mendapat perhatian.

Baca Juga : Kuliner Makassar Laris Manis di ASEAN Day Food Festival 2026, Melinda Aksa: Ini Membanggakan!

“Kita ingin kerajinan daerah terus bertumbuh tanpa kehilangan identitasnya. Tradisinya tetap kita jaga, tetapi perajinnya juga harus berkembang, produknya semakin kuat, dan pasarnya semakin luas. Dari ruang seperti ini kita bisa melihat banyak kemungkinan yang nantinya dapat kita adaptasi dan kembangkan di Makassar,” pungkasnya.

Ke depan, Dekranasda Kota Makassar akan terus mendorong kolaborasi dan membuka ruang pengembangan bagi pelaku kerajinan lokal, termasuk sektor wastra.

Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk kerajinan daerah sekaligus memperluas peluang ekonomi bagi para perajin.

Di sisi lain, pengembangan kerajinan juga diharapkan mampu memastikan keterampilan, cerita, dan identitas budaya yang terkandung dalam setiap karya tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dengan demikian, kata Melinda Aksa, tenun tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi kreatif dan penguatan identitas daerah di tengah perkembangan industri kreatif. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan