Penjualan Atribut Kemerdekaan di Makassar Sepi Jelang 17 Agustus, Omzet Pedagang Merosot

Salah satu penjual bendera dan atribut kemerdekaan di Jalan Hertasning Kota Makassar, Sulawesi Selatan. (Sumber: Bisniscom/Dok: Ist-Muthmainnah Aulia Ramadita)

MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Menjelang puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia, para pedagang bendera dan ornamen kemerdekaan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, harus gigit jari. Minat pembeli yang tak kunjung memuncak membuat pendapatan para penjual musiman ini merosot tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Padahal, momen puncak perayaan kemerdekaan tinggal menghitung hari. Kondisi ini dirasakan langsung oleh Farida, salah satu pedagang atribut perayaan yang menggelar lapaknya di Jalan Hertasning. Ia mengungkapkan bahwa omzet perhitungannya anjlok hingga 50 persen.

“Sebenarnya penjualan sempat ramai sejak 1 Agustus, tetapi lama-lama permintaannya menurun, tahun ini bisa dibilang masih lebih sepi dibandingkan tahun sebelumnya,” tutur Farida pada Kamis (13/8/2026).

Farida membeberkan perbandingan hasil jualannya. Pada tahun lalu, sepekan sebelum tanggal 17 Agustus, ia sudah berhasil mengantongi omzet berkisar Rp6 juta. Namun, pada masa penjualan tahun ini, nilai yang terkumpul baru menyentuh angka sekitar Rp3 juta.

Dampak dari lesunya permintaan pasar ini memaksa pedagang mengambil langkah efisiensi stok. Bila pada tahun sebelumnya Farida berani menyiapkan persediaan hingga ratusan unit, kali ini ia memilih bersikap hati-hati dengan hanya memajang puluhan unit atribut saja.

Baca juga: Semarakkan HUT ke-81 RI, Pemkot Makassar Siapkan Upacara Karebosi hingga Lomba Tingkat RT/RW

Untuk komoditas yang dijajakan, rentang harga berada di angka Rp10.000 hingga Rp400.000, tergantung pada variasi jenis serta ukurannya. Beberapa jenis produk juga mengalami kenaikan harga dibanding tahun lalu. Bendera misalnya, kini dilepas seharga Rp30.000 dari yang sebelumnya Rp20.000, sementara pergerakan harga umbul-umbul naik dari Rp25.000 menjadi Rp30.000.

Nasib serupa membayangi Angga, pedagang atribut yang menjajakan barang dagangannya di kawasan Jalan AP Pettarani. Berbekal modal besar hingga Rp100 juta untuk memasok pernak-pernik perayaan tahun ini, angka penjualan yang masuk ke kantongnya baru menyentuh sekitar Rp30 juta.

“Modal yang disiapkan sekitar Rp100 juta, tapi yang sudah terjual baru sekitar Rp30 juta,” ungkap Angga menuturkan kondisi lapaknya.

Angga mengaku khawatir membayangkan bayang-bayang kerugian akibat tersendagnya perputaran modal. Karakteristik produk seperti bendera, umbul-umbul, spanduk, hingga ragam dekorasi perayaan merupakan komoditas musiman yang daya serap pasarnya dipastikan turun drastis begitu perayaan kemerdekaan berakhir.

Situasi penyerapan pasar yang pasif menjelang detik-detik peringatan kemerdekaan memperbesar risiko barang tak laku. Para pedagang kini harus menanggung konsekuensi berupa mengendapnya modal usaha pada sisa persediaan barang yang tidak terjual. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan