MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA — Di tengah maraknya masyarakat yang berlomba-lomba membuka bisnis populer seperti kuliner kekinian dan perdagangan elektronik (e-commerce), tingkat persaingan pasar menjadi sangat ketat dengan margin keuntungan yang cenderung menipis. Kondisi ini mendorong sebagian pelaku usaha untuk mulai beralih memelihara peluang pada segmen niche atau jenis usaha yang jarang dilirik karena kerap dianggap sepele.
Meskipun kerap diabaikan, sektor-sektor usaha yang minim peminat tersebut sebenarnya menyimpan potensi finansial yang cukup besar. Dengan penerapan pemahaman operasional yang tepat serta strategi pemasaran yang terukur, bisnis yang jarang digeluti ini mampu menghasilkan arus pendapatan yang stabil dan berkelanjutan bagi para pengembangnya.
Baca juga: FunWalk PSMTI Sulsel Semarakkan HUT RI, Munafri Ajak Warga Bersatu Dalam Keberagaman
Perubahan tren konsumsi dan gaya hidup masyarakat pada tahun 2026 turut membuka pintu bagi lahirnya berbagai layanan praktis. Salah satu sektor yang menunjukkan pertumbuhan positif adalah industri penyediaan makanan siap masak (ready-to-cook). Berbeda dari produk makanan beku (frozen food) konvensional, kategori ini menawarkan kesegaran serta nilai tambah premium melalui paket bumbu siap pakai, sayuran terpotong, hingga lauk ter-marinasi yang menyasar konsumen dengan mobilitas tinggi.

Di sektor pelayanan jasa bisnis, kebutuhan pendampingan administrasi bagi Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi peluang terpisah. Banyak pelaku usaha yang telah naik kelas namun masih menghadapi kendala operasional seperti pembukuan keuangan, pengurusan perizinan, hingga pelaporan pajak sederhana. Layanan ini dapat dijalankan secara fleksibel tanpa memerlukan kantor fisik yang besar, serta berpotensi membangun loyalitas klien dalam jangka panjang.

Seiring meningkatnya adaptasi teknologi, konsultasi berbasis digital juga semakin diminati. Masyarakat kini membutuhkan pandangan profesional untuk sektor non-medis seperti perencanaan karier, pendidikan, pengelolaan keuangan pribadi, hingga konsultasi psikologi yang dipandu secara jarak jauh melalui media video call atau pesan berbayar. Selain itu, terdapat pula peluang jasa digitalisasi dokumen fisik yang membantu perusahaan, lembaga pendidikan, maupun individu dalam mengonversi arsip lama menjadi format digital yang terstruktur.

Pola konsumsi masyarakat di era modern juga mengalihkan fokus dari kepemilikan barang menjadi hak akses pemanfaatan. Hal ini memicu hadirnya dua model bisnis persewaan, yakni persewaan barang mewah (branded) seperti tas dan jam tangan premium, serta persewaan alat praktis harian mencakup penyedot debu, peralatan kemping, hingga perlengkapan pesta skala kecil. Kedua jenis usaha ini dinilai efisien karena modal aset dapat diputar secara berulang.

Sementara itu, untuk menjawab keterbatasan waktu masyarakat perkotaan, beberapa jenis jasa spesifik mulai berkembang di lapangan. Layanan antre tiket maupun makanan viral, jasa pemeliharaan performa (optimasi) smartphone, jasa cetak serta fotokopi dokumen keliling berbasis perangkat portabel, hingga layanan kurasi hadiah personal untuk kebutuhan individu maupun korporasi menjadi alternatif bisnis berbasis solusi yang terus dibutuhkan pasar.
Baca juga: Pelindo Group Makassar Semarakkan HUT ke-81 RI Dengan Bazar UMKM dan Fun Games
Meskipun lini-lini usaha sepi peminat ini menawarkan keunggulan berupa minimnya kompetitor langsung dan potensi pengembalian modal yang cepat, para pelaku usaha tetap diimbau untuk memperhitungkan risiko operasional. Faktor-faktor seperti penanganan masa simpan produk, risiko kerusakan aset sewa, hingga ketergantungan pada tingkat kepercayaan serta kredibilitas personal menjadi aspek penting yang wajib dikelola demi menjaga keberlanjutan bisnis. (*)

