Cegah Listrik Padam Saat Kemarau, PLN Rangsang Hujan Buatan di DAS PLTA Sulselrabar

Pesawat nirawak (drone) mengudara dalam kegiatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mengoptimalkan potensi pembentukan hujan guna mendukung ketersediaan debit air bagi operasional pembangkit listrik tenaga air di Sulawesi. (Foto: Istimewa)

MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR – Musim kemarau panjang yang melanda kawasan Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah mulai mengancam debit air pendukung Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Untuk mengantisipasi penurunan pasokan daya listrik masyarakat, PT PLN (Persero) mempercepat operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di kawasan tangkapan air utama.

Langkah penyemaian awan ini memprioritaskan area vital pasokan energi, antara lain Daerah Aliran Sungai (DAS) Mamasa untuk PLTA Bakaru berkapasitas 126 Megawatt (MW) serta daerah tangkapan air Sungai Saddang untuk PLTA Malea berkapasitas 90 MW. Penurunan debit air di dua sistem tersebut berisiko mengganggu stabilitas listrik interkoneksi Sulawesi.

Khusus di PLTA Bakaru, PLN mematangkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) memanfaatkan teknologi pesawat nirawak (drone). Berdasarkan pemetaan kajian kelayakan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), peluncuran drone difokuskan pada dua titik strategis, yakni Bandara Sumarorong dan Puncak Pasir.

Petugas melakukan pemeriksaan dan persiapan pesawat nirawak (drone) sebelum pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Kegiatan ini merupakan bagian dari langkah mitigasi PLN dalam menjaga ketersediaan sumber daya air dan mendukung keandalan pasokan listrik selama musim kemarau. (Foto: Istimewa)

Gubernur Sulawesi Selatan telah mengajukan permohonan resmi kepada BMKG untuk memperluas cakupan TMC. Langkah ini diambil guna menjaga keandalan pasokan listrik, mengingat PLTA Malea dan PLTA Bakaru merupakan penopang utama sistem kelistrikan di bagian selatan Sulawesi selama periode kemarau Agustus hingga September 2026.

Selain wilayah Sulawesi Selatan dan Barat, operasi serupa digencarkan di Sulawesi Tengah. Penyemaian awan telah direalisasikan di titik Meko dan Tokilo sejak 20 September 2026 untuk mengamankan ketersediaan air operasional PLTA Poso.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah, Darma Metusela, menjelaskan bahwa keterlibatan lintas instansi dilakukan mulai dari analisis kondisi atmosfer hingga eksekusi di lapangan.

Pesawat nirawak (drone) yang dilengkapi perangkat penyemaian awan disiapkan untuk mendukung pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Tokilo, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, sebagai bagian dari upaya PLN menjaga ketersediaan air dan keandalan pasokan listrik PLTA. (Dok: Istimewa)

“Kami terus mendampingi dan terlibat langsung sejak tahapan survei, pengkajian lokasi sasaran, hingga pelaksanaan eksekusi di lapangan agar operasi TMC dapat berjalan optimal,” ujar Darma Metusela dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (23/9/2026).

Secara terpisah, General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar), Edyansyah, mengungkapkan bahwa rekayasa cuaca merupakan pilihan utama untuk memulihkan elevasi air di waduk-waduk pembangkit.

“Teknologi Modifikasi Cuaca ini adalah bentuk ikhtiar nyata dalam mitigasi yang kami lakukan bersama Pemda dan BMKG untuk menjaga dan memulihkan debit air di sejumlah lokasi strategis,” kata Edyansyah melalui rilis resmi, Rabu (23/9/2026).

Ia menambahkan, sinergi ini diharapkan dapat meminimalkan potensi gangguan pasokan listrik bagi pelanggan rumah tangga maupun industri di wilayah Sulselrabar selama puncak kemarau berlangsung. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan