MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Makassar, Andi Makmur Burhanuddin, mengajak generasi muda menjadikan momentum Hari Sumpah Pemuda sebagai titik balik untuk menghentikan perang kelompok dan memperkuat persatuan di Kota Makassar.
Ia menegaskan, semangat Sumpah Pemuda yang lahir pada 28 Oktober 1928 harus diwujudkan melalui tindakan nyata, terutama dengan menjaga keamanan lingkungan, menghindari provokasi, serta membangun solidaritas yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurut Andi Makmur, generasi muda Makassar memiliki energi, keberanian, dan solidaritas yang besar. Potensi tersebut semestinya menjadi kekuatan untuk mendorong kemajuan kota, bukan justru terseret dalam konflik antarkelompok yang berisiko merugikan diri sendiri maupun orang lain.
“Momentum Sumpah Pemuda ini harus menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kekuatan anak muda terletak pada kemampuan membangun persatuan. Kita tentu bangga melihat generasi muda yang memiliki solidaritas tinggi dan keberanian dalam memperjuangkan sesuatu. Tetapi, keberanian itu harus diarahkan ke hal-hal positif, seperti berkarya, berprestasi, membantu sesama, dan memberikan kontribusi bagi lingkungannya,” ujar Andi Makmur, Kamis (29/10/2026)
Legislator PKB tersebut menilai, persoalan perang kelompok tidak dapat diselesaikan hanya melalui imbauan atau tindakan setelah bentrokan terjadi. Diperlukan upaya pencegahan yang melibatkan pemerintah, keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, dan aparat keamanan.
Menurutnya, konflik yang berawal dari persoalan kecil dapat berkembang menjadi pertikaian berkepanjangan ketika emosi dan gengsi kelompok lebih diutamakan daripada keselamatan bersama.
Dampak perang kelompok, lanjutnya, tidak hanya dirasakan oleh pihak yang terlibat langsung, tetapi juga keluarga dan masyarakat yang menginginkan lingkungan aman dan kondusif.
“Jangan sampai anak-anak muda kita kehilangan masa depan hanya karena persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan komunikasi. Tidak ada kebanggaan dari sebuah pertikaian jika akhirnya menimbulkan korban, merugikan keluarga, atau membuat seseorang harus berhadapan dengan persoalan hukum,” tegasnya.
Ia berharap generasi muda Makassar ke depan lebih dikenal melalui prestasi, kreativitas, dan kontribusi sosial dibandingkan dengan konflik yang terus berulang.
Andi Makmur juga menekankan bahwa penanganan kekerasan harus tetap berjalan sesuai hukum yang berlaku. Namun, langkah penegakan hukum perlu diimbangi dengan pembinaan dan pendekatan persuasif agar konflik serupa tidak terus terjadi.
“Kalau kita hanya bergerak setelah terjadi bentrokan, berarti kita selalu berada pada tahap penanganan, bukan pencegahan. Karena itu, perlu ada komunikasi yang baik di tingkat lingkungan, peran aktif tokoh masyarakat, serta keterlibatan anak muda sendiri untuk meredam persoalan sebelum membesar,” jelasnya.
Ia menilai, keterlibatan langsung generasi muda dalam penyelesaian konflik menjadi hal penting. Mereka tidak cukup hanya menjadi sasaran imbauan, tetapi juga perlu diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi dan mengambil bagian dalam menjaga keamanan lingkungan.
Selain memperkuat pencegahan konflik, Andi Makmur mendorong Pemerintah Kota Makassar memperluas ruang aktivitas dan pengembangan potensi generasi muda.
Menurutnya, penyediaan fasilitas olahraga, kegiatan seni dan budaya, pelatihan keterampilan, pengembangan kewirausahaan, serta ruang kreativitas dapat menjadi alternatif positif untuk menyalurkan energi dan bakat anak muda.
Ia menegaskan, membangun generasi muda tidak cukup hanya dengan meminta mereka menjauhi tindakan negatif. Pemerintah juga perlu membuka akses terhadap pendidikan, keterampilan, peluang usaha, dan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan daerah.
“Anak muda membutuhkan ruang untuk menunjukkan kemampuan dan membuktikan bahwa mereka bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat. Pemerintah perlu menghadirkan program yang sesuai dengan kebutuhan mereka, mulai dari olahraga, seni, pelatihan kerja, sampai pendampingan usaha,” ungkapnya.
Dengan tersedianya ruang pengembangan diri yang memadai, ia berharap generasi muda memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membangun masa depan yang lebih baik.
Andi Makmur menambahkan, persatuan sebagaimana terkandung dalam Sumpah Pemuda bukan berarti menghilangkan identitas kelompok atau lingkungan masing-masing. Setiap komunitas tetap dapat memiliki kebanggaan, tetapi kebanggaan tersebut harus diwujudkan melalui prestasi dan kontribusi positif, bukan dengan merendahkan atau memusuhi kelompok lain.
Andi Makmur juga mengingatkan bahwa keberanian sejati tidak selalu ditunjukkan dengan membalas tantangan. Kemampuan menahan diri, menolak ajakan melakukan kekerasan, menghentikan provokasi, dan mengajak teman menyelesaikan persoalan secara damai merupakan bentuk kedewasaan yang perlu ditanamkan kepada generasi muda.
“Menurut saya, orang yang berani menghentikan pertikaian justru menunjukkan kedewasaan dan kepemimpinan. Tidak semua tantangan harus dijawab dengan perlawanan, dan tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan kekerasan,” tuturnya.
Ia menilai, keberanian mengendalikan emosi dan mencegah bentrokan merupakan langkah penting untuk melindungi keselamatan banyak orang sekaligus menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat.
Di sisi lain, Andi Makmur menegaskan bahwa generasi muda yang pernah terlibat konflik tetap perlu mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Pembinaan dan pendampingan harus dibuka tanpa menghilangkan tanggung jawab atas tindakan yang telah dilakukan.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar upaya menjaga keamanan dapat berjalan beriringan dengan pemulihan hubungan sosial di tengah masyarakat.
Andi Makmur berharap peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan Makassar yang aman, harmonis, dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkembang.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak berhenti pada seremonial tahunan, tetapi menerjemahkan semangat persatuan ke dalam tindakan nyata di lingkungan masing-masing.
“Makassar membutuhkan anak muda yang berani mengambil tanggung jawab, bukan sekadar mempertahankan gengsi kelompok. Kita ingin melihat mereka berlomba menciptakan karya, mengembangkan usaha, meraih prestasi, dan membantu masyarakat,” katanya.
Ia optimistis, energi, solidaritas, dan keberanian generasi muda dapat menjadi kekuatan besar dalam pembangunan Kota Makassar apabila diarahkan pada kegiatan yang produktif dan bermanfaat.
Andi Makmur juga mengajak pemerintah dan masyarakat untuk lebih terbuka mendengarkan aspirasi anak muda serta melibatkan mereka dalam berbagai program pembangunan.
Menurutnya, semangat Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan. Sebaliknya, keberagaman harus menjadi landasan untuk memperkuat persaudaraan dan membangun kehidupan sosial yang lebih baik.
“Pada akhirnya, masa depan Makassar juga berada di tangan anak-anak muda kita. Mari kita beri mereka kesempatan, dengarkan aspirasi mereka, dan libatkan dalam pembangunan. Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan. Saatnya kita membuktikan bahwa generasi muda Makassar mampu menjaga persaudaraan, menghentikan kekerasan, dan membawa kota ini menuju masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. (red)



