Tiga Kebiasaan Sepele yang Wajib Dihentikan demi Mencegah Stroke

ilustrasi(Magnific)

MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR – Spesialis jantung menyuarakan imbauan penting bagi masyarakat luas untuk mengevaluasi dan menghentikan tiga kebiasaan harian yang sering kali dianggap sepele. Langkah ini krusial mengingat tingginya angka kasus stroke, sementara mayoritas kejadiannya berkaitan erat dengan faktor risiko yang sebenarnya dapat diubah melalui perbaikan gaya hidup.

Ancaman stroke kini tidak lagi memandang umur karena dapat menyerang seseorang pada rentang usia berapa pun. Dokter spesialis jantung, Dr. Samantha Benin, menekankan bahwa pencegahan utama harus dimulai dengan memangkas kebiasaan buruk yang merusak sistem kardiovaskular dan pembuluh darah secara bertahap.

Baca juga: Dua Pekerja Bandara Frankfurt Meninggal Akibat Wabah Malaria Langka

Kebiasaan pertama yang patut diwaspadai adalah duduk terlalu lama. Banyak orang merasa aman dari risiko gangguan jantung dan stroke karena telah berolahraga di pagi hari. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa duduk terus-menerus selama lebih dari empat jam tanpa jeda tetap memicu kerusakan pembuluh darah.

Untuk mengantisipasi bahaya tersebut, para pakar menyarankan masyarakat untuk menyelingi aktivitas harian di meja kerja atau di depan layar. Berdiri atau berjalan kaki selama beberapa menit setiap satu jam sekali dinilai mampu menjaga kesehatan pembuluh darah.

Baca juga: Alur Pelayanan Rawat Jalan RSUD Daya Makassar Terbaru, Ini Enam Langkah Mudahnya!

Gaya hidup kedua yang perlu ditinggalkan adalah mengonsumsi alkohol, meskipun hanya dilakukan sesekali. Mitos mengenai manfaat alkohol bagi kesehatan jantung kini makin terbantahkan oleh studi ilmiah terbaru.

Dr. Samantha Benin dan para pakar menggarisbawahi bahwa pola minum berlebihan di akhir pekan sekalipun terbukti memicu tekanan darah tinggi serta gangguan irama jantung atau atrial fibrilasi. Kebiasaan mengonsumsi alkohol ini mencatatkan lonjakan risiko stroke hingga lebih dari 200 persen dibandingkan dengan mereka yang tidak meminumnya sama sekali.

Selain itu, kebiasaan sering menyantap makanan tinggi garam menjadi ancaman serius berikutnya. Sajian di restoran maupun kedai cepat saji kerap mengandung natrium dalam jumlah sangat tinggi yang berpotensi melampaui batas anjuran harian 2.300 miligram dalam sekali makan.

Baca juga: Makassar Resmi Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Rakernas ASKLIN 2026, Siap Sambut 500 Peserta se-Indonesia

Asupan garam berlebih tersebut dapat memicu lonjakan tekanan darah secara mendadak. Jika pola ini terjadi berulang, tekanan darah tinggi yang tidak terdeteksi atau silent killer akan merusak dinding arteri hingga meningkatkan risiko serangan stroke.

Di luar upaya memangkas tiga kebiasaan di atas, para kardiolog merekomendasikan masyarakat untuk menerapkan langkah pencegahan tambahan. Peningkatan asupan serat harian yang bersumber dari buah, sayuran, dan biji-bijian sangat disarankan guna menekan tingkat peradangan serta mengontrol kadar kolesterol tubuh.

Pengelolaan tingkat stres psikologis juga menjadi faktor kunci yang tidak boleh diabaikan. Manajemen stres yang baik dapat mencegah pecahnya plak pada dinding pembuluh darah, yang selama ini menjadi penyebab utama penyumbatan aliran darah ke otak. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan