Sinergi Pemkab Luwu dan MDA Kucurkan Air ke Sawah Terdampak Kekeringan

MENITNEWS.CO.ID, LUWU — Musim kemarau yang melanda Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, selama beberapa pekan terakhir mulai memicu dampak serius bagi sektor pertanian lokal. Kekeringan merata dilaporkan mengganggu fase pertumbuhan tanaman padi serta membayangi para petani dengan risiko kegagalan panen.

Guna mengantisipasi kerugian yang lebih luas, langkah cepat diambil melalui sinergi antara PT Masmindo Dwi Area (MDA), Pemerintah Kabupaten Luwu melalui Dinas Pertanian serta Dinas Sosial, dan organisasi masyarakat FORDES MATAPPA. Gabungan instansi ini bergerak menyalurkan bantuan pasokan air ke areal persawahan yang mengalami krisis air.

Skema penanganan krisis disesuaikan berdasarkan kondisi geografis serta ketersediaan sumber air di tiap titik lahan. Berbagai modalitas dikerahkan, mulai dari pengoperasian mesin pompa air, pembuatan sumur bor, hingga pengerahan armada truk tangki air (water truck). Pelaksanaan penyiraman langsung di lapangan dijalankan secara teknis bersama Dinas Sosial Kabupaten Luwu.

Secara keseluruhan, intervensi pasokan air ini menjangkau sekitar 70 hektare lahan pertanian terdampak. Wilayah distribusi bantuan terkonsentrasi di empat area utama, yakni Tampumia Radda, Balo-Balo, Kurusumanga, dan Senga Selatan. Kebutuhan vegetasi padi yang terancam mati menjadi prioritas utama penanganan selama rentang musim kering ini.

Kepala Teknik Tambang (KTT) MDA, Mustafa Ibrahim, menegaskan bahwa tanggap darurat krisis air ini merupakan bentuk respons bersama atas kondisi kritis yang dialami para petani. Pihaknya berkoordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan elemen masyarakat untuk mengoptimalkan bantuan.

Mustafa Ibrahim menjelaskan, langkah mendesak tersebut diambil demi menyokong kebutuhan dasar di lapangan. Harapannya, para petani tetap mampu mempertahankan kelangsungan hidup tanaman padi mereka sekaligus menekan potensi gagal panen seminimal mungkin.

Dampak kemarau yang terus meluas turut dibenarkan oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Luwu, Islamuddin, SP, M.Si. Menurut perhitungannya, cuaca kering yang berlangsung kurang lebih satu bulan belakangan telah memberikan tekanan cukup berat pada sektor pertanian wilayahnya.

Islamuddin membeberkan bahwa cuaca ekstrem belakangan ini mengganggu produktivitas persawahan secara signifikan, baik pada lahan persawahan yang ditopang sistem irigasi teknis maupun area sawah tadah hujan.

Pihak Pemkab Luwu pun mengapresiasi atas terjalinnya kolaborasi lintas sektor tersebut. Menurut Islamuddin, kehadiran pihak swasta seperti PT Masmindo Dwi Area dengan berbagai strategi tanggap kekeringannya, khususnya aksi penyiraman langsung ke persawahan, sangat membantu memikul beban petani di tengah keterbatasan pasokan air.

Dampak langsung bantuan air dirasakan oleh para petani di area terdampak. Adi, salah seorang petani dari Desa Senga Selatan, menuturkan bahwa kekeringan selama satu bulan telah membuat pertumbuhan tanaman padinya terhambat secara drastis.

Ia mengungkapkan bahwa kondisi tanah sawah yang mengering membuat tanaman padi tumbuh kerdil. Adi menyambut baik aksi penyiraman darurat ini karena perhatian dan intervensi yang diberikan membawa angin segar serta menjaga asa para petani agar tetap bisa melakukan panen.

Upaya kolaboratif antara MDA, Pemkab Luwu, serta FORDES MATAPPA ini diharapkan terus menjadi penopang utama bagi kawasan pertanian setempat selama periode kemarau berlangsung. Pemantauan kebutuhan lapangan akan terus diselaraskan agar pasokan air dapat menjangkau seluruh titik lahan persawahan yang membutuhkan pertolongan. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan