MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA — Sebuah temuan artefak berusia lebih dari dua ribu tahun dari dasar laut Pulau Antikythera, Yunani, terus memicu diskusi luas di kalangan peneliti. Benda berupa susunan roda gigi perunggu tersebut membuktikan bahwa masyarakat kuno telah mampu menciptakan perangkat mekanis rumit untuk menerjemahkan gerak benda langit tanpa bantuan listrik maupun komputer.
Mekanisme Antikythera, yang pertama kali ditemukan oleh penyelam spons pada 1901, kini menjadi salah satu simbol tingginya kapasitas ilmu pengetahuan peradaban masa lalu. Meskipun fisik benda tersebut telah rusak dan hanya tersisa 82 fragmen, analisis sinar-X berhasil mengidentifikasi sedikitnya 30 roda gigi yang berfungsi memodelkan pergerakan Matahari, Bulan, hingga prediksi gerhana.

Riset yang dirilis University College London (UCL) pada 2021 bahkan mengindikasikan bahwa sistem mekanis tersebut sanggup menampilkan pergerakan planet-planet yang dikenal pada era Yunani kuno. Penemuan ini sekaligus mendobrak pandangan konvensional mengenai alur perkembangan teknologi manusia yang kerap dianggap bergerak secara lurus.
Selain Mekanisme Antikythera, catatan sejarah juga merekam keunggulan rekayasa material dan mekanika pada masa lalu melalui senjata misterius Bizantium yang dikenal sebagai Api Yunani (Greek fire). Senjata pembakar berbasis petroleum ini pertama kali dikerahkan saat pengepungan Konstantinopel pada abad ke-7 dan ditembakkan menggunakan sistem siphon khusus di atas kapal.

Museum Byzantine Culture di Thessaloniki serta Royal Museums Greenwich mengonfirmasi bahwa formulasi pasti cairan kimia tersebut tetap tidak terpecahkan hingga kini. Keunggulan inovasi Bizantium tidak hanya terletak pada komposisi bahan bakar yang sanggup menyala di atas air, melainkan juga pada keandalan sistem penyimpanan dan pengalirannya.
Penerapan prinsip mekanis untuk membaca fenomena alam turut berkembang di kawasan Asia, seperti terlihat pada alat pendeteksi gempa karya ilmuwan China, Zhang Heng, sekitar abad ke-2 Masehi. Perangkat bernama Houfeng Didong Yi tersebut memanfaatkan mekanisme internal berupa bola perunggu yang jatuh dari mulut naga ke katak di bawahnya guna menunjukkan arah titik getaran.

Inovasi fisik masa lalu juga tercermin dalam ketahanan material bangunan bangsa Romawi, salah satunya pada struktur kubah tanpa tulangan di bangunan Pantheon yang didedikasikan pada 128 Masehi. Studi yang dipublikasikan pada jurnal Science Advances edisi 2023 mengungkapkan bahwa teknik pencampuran panas (hot mixing) menggunakan kapur tohor menghasilkan gumpalan kapur (lime clasts) yang mampu memicu proses rekat mandiri ketika terendam air.
Di sisi lain, tidak semua benda peninggalan masa lalu dapat disimpulkan sebagai perangkat canggih secara terburu-buru. Keberadaan Baghdad Battery, yaitu wadah keramik berisi silinder tembaga dan batang besi dari era 1900-an sebelum masehi di Irak, hingga kini masih memicu perdebatan di kalangan arkeolog mengenai fungsi ilmiah sebenarnya.
Laporan History menyebutkan bahwa anggapan instrumen tersebut sebagai sel galvanik atau baterai pertama di dunia masih berstatus hipotesis belaka. Hal ini menjadi pengingat bagi para peneliti agar lebih cermat dan tidak tergesa-gesa menyimpulkan fungsi sebuah peninggalan sejarah hanya berdasarkan pengujian laboratorium modern.
Seluruh pencapaian teknologi kuno tersebut menegaskan bahwa istilah “melampaui zaman” tidak mengindikasikan keberadaan teknologi modern yang misterius pada masa lalu. Sebaliknya, artefak-artefak sejarah tersebut menunjukkan kapasitas manusia ribuan tahun lalu dalam mengamati alam, merumuskan matematika, serta memecahkan persoalan kompleks memanfaatkan pengetahuan yang tersedia pada zamannya. (*)



