Munafri Arifuddin Tekankan Guru Harus Adaptif, AI Jadi Tantangan Pendidikan di Makassar

MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan pentingnya profesionalitas dan kemampuan beradaptasi bagi Guru, dalam menghadapi perkembangan teknologi digital, khususnya kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).

Menurut Munafri, guru harus mampu mengikuti perkembangan teknologi agar tetap relevan dengan karakteristik peserta didik masa kini.

Meski teknologi semakin berkembang, peran guru dalam membentuk karakter, menanamkan etika, serta membangun hubungan emosional dengan siswa tetap tidak tergantikan.

Pesan tersebut disampaikan Munafri yang akrab disapa Appi saat menghadiri kegiatan Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Artifisial melalui program PGRI Power Tahun 2026, yang diselenggarakan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Makassar di Aula Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Sulawesi Selatan, Jalan Adiyaksa, Makassar, Selasa (20/10/2026).

Appi mengatakan, pendidikan merupakan fondasi utama dalam mempersiapkan masa depan generasi muda. Karena itu, peningkatan kualitas dan kompetensi tenaga pendidik harus menjadi perhatian sejak sekarang.

“Kalau kita berpikir dalam dan detail tentang pendidikan, artinya kita berpikir tentang masa depan. Masa depan yang baik, masa depan yang berhasil harus dimulai dengan kuatnya fondasi masa sekarang,” ujarnya.

Ia menilai, perkembangan teknologi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari pola komunikasi, akses terhadap informasi, hingga cara generasi muda belajar dan berinteraksi.

Kehadiran algoritma dan kecerdasan buatan juga semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut menuntut tenaga pendidik untuk terus memperbarui pengetahuan dan meningkatkan keterampilan agar mampu menjawab tantangan pendidikan di era digital.

Namun, Appi mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar proses menyampaikan materi atau mentransfer pengetahuan.

Di dalamnya terdapat nilai-nilai kemanusiaan, empati, serta kedekatan emosional antara guru dan peserta didik yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

Karena itu, menurutnya, guru tidak seharusnya menghindari perkembangan teknologi. Sebaliknya, teknologi harus dikuasai dan dimanfaatkan sebagai sarana untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan siswa.

“Kita mau, bagaimana guru-guru mampu menaklukkan teknologi dan menjadikan teknologi sebagai sarana yang tepat untuk menghasilkan proses belajar-mengajar yang baik bagi anak-anak kita,” jelasnya.

Selain penguasaan teknologi, Appi menekankan pentingnya pemahaman guru terhadap perubahan karakteristik peserta didik dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Menurutnya, pola komunikasi dan perilaku anak-anak saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Perubahan tersebut perlu dipahami secara terbuka oleh para pendidik, tanpa menjadikan pengalaman pendidikan masa lalu sebagai satu-satunya tolok ukur dalam menghadapi siswa masa kini.

Ia menggambarkan, pada masa lalu, hubungan antara guru dan murid cenderung ditandai oleh jarak dan kewibawaan guru yang kuat.

Sementara itu, peserta didik saat ini relatif lebih terbuka dalam berkomunikasi, mengajukan pertanyaan, hingga menyampaikan pendapat secara langsung.

Perubahan tersebut, kata dia, merupakan bagian dari dinamika zaman yang perlu direspons melalui pendekatan pendidikan yang tepat.

“Yang harus menjadi tugas kita adalah menjadi guru yang adaptif. Kuncinya ini, adaptif, mampu mengikuti perkembangan,” ungkapnya.

Appi menegaskan, kemampuan beradaptasi merupakan bagian penting dari profesionalitas guru.

Pendidik harus mampu memahami perkembangan bahasa, pola pikir, serta lingkungan digital yang memengaruhi kehidupan peserta didik.

Dengan demikian, metode pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik generasi saat ini, tanpa mengesampingkan pembentukan karakter, kedisiplinan, dan etika.

Menurutnya, pendekatan pendidikan yang efektif bukan berarti meninggalkan nilai-nilai lama yang positif, melainkan menyesuaikan cara penyampaiannya agar lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Dalam kesempatan tersebut, Munafri mengapresiasi inisiatif PGRI Kota Makassar melalui program PGRI Power Tahun 2026 yang mendorong peningkatan kompetensi guru dalam bidang koding dan kecerdasan artifisial.

Ia menilai, program Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Artifisial merupakan langkah strategis untuk mempersiapkan tenaga pendidik menghadapi transformasi digital.

Penguasaan teknologi di kalangan guru diharapkan dapat memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus membantu pendidik memahami lingkungan digital yang semakin akrab dengan kehidupan anak-anak.

Melalui peningkatan kompetensi tersebut, guru diharapkan tidak hanya mampu menggunakan perangkat dan aplikasi digital, tetapi juga mengarahkan pemanfaatannya untuk mendukung proses belajar yang berkualitas.

Appi berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan kegiatan tersebut secara maksimal untuk memperluas wawasan, meningkatkan keterampilan, dan memperkuat kesiapan menghadapi perubahan dalam dunia pendidikan.

Ia menegaskan, upaya mempersiapkan generasi masa depan harus dimulai dengan membangun kualitas tenaga pendidik sebagai salah satu unsur utama dalam pengembangan sumber daya manusia yang unggul.

“Artinya, kita sudah berpikir jauh ke depan, berpikir tentang masa depan, berpikir tentang persiapan landasan untuk membangun sebuah generasi masa depan. Dimulai dari kemampuan guru itu sendiri,” pungkasnya.

Melalui penguatan profesionalitas dan adaptasi teknologi, Pemerintah Kota Makassar berharap para guru mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi inti pendidikan. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan