MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Para astronom mencatat pencapaian penting dalam studi astronomi modern setelah berhasil mendeteksi emisi radio yang bersumber langsung dari sebuah planet luar tata surya atau eksoplanet.
Sinyal radio yang berasal dari jarak sekitar 63 tahun cahaya tersebut terdeteksi pada planet raksasa gas bernama Beta Pictoris b.
Planet luar biasa besar ini memiliki massa sekitar 12 kali lipat massa Jupiter dan mengorbit bintang induk muda yang berukuran 1,75 kali Matahari.
Temuan ini dicapai oleh tim peneliti internasional yang memanfaatkan jaringan 64 antena teleskop radio MeerKAT di Afrika Selatan.
Melalui pengamatan tersebut, para peneliti mendapati semburan radio berulang yang sumbernya berhasil dipastikan berasal dari planet Beta Pictoris b, bukan dari bintang induknya.
Karakteristik Medan Magnet Ekstrem
Profesor astronomi dari Universitas Harvard, Edo Berger, menjelaskan bahwa emisi gelombang radio tersebut berkaitan erat dengan aktivitas medan magnet planet.
Ia membandingkan proses fisika fenomena ini dengan mekanisme pembentukan aurora yang terjadi di Bumi.
“Untuk mendeteksi gelombang radio pada frekuensi yang kami amati, diperlukan medan magnet yang sangat kuat,” ujar Berger, sebagaimana dikutip dari laporan media eksternal, Sabtu (3/10/2026).
Berdasarkan analisis data, kekuatan medan magnet Beta Pictoris b diperkirakan sedikitnya mencapai 200 kali lipat lebih kuat daripada medan magnet Jupiter.
Ketika partikel-partikel bermuatan bergerak secara spiral di dalam medan magnet berintensitas tinggi tersebut, interaksi fisik ini memicu pancaran gelombang radio sekaligus aurora.
Fenomena emisi radio aurora sebenarnya bukan hal baru dalam sains karena sebelumnya pernah diamati pada Jupiter, Saturnus, Matahari, sejumlah bintang, serta objek katai cokelat.
Namun, deteksi pada eksoplanet menyajikan tantangan ilmiah yang jauh lebih kompleks.
Tantangan Pemisahan Sumber Sinyal
Sebelum keberhasilan ini, upaya mendeteksi emisi radio dari eksoplanet kerap terkendala oleh keraguan mengenai asal-usul sinyal.
Para astronom seringkali kesulitan untuk menyingkirkan kemungkinan bahwa gelombang radio tersebut sesungguhnya dipancarkan oleh bintang induk tempat planet beredar.
Joseph Callingham dari Anton Pannekoek Institute for Astronomy, Universitas Amsterdam, yang tidak terlibat dalam riset tersebut, menyoroti keunggulan dari studi terbaru ini.
Menurut Callingham, pencapaian terbesar tim peneliti terletak pada kemampuan mereka melokalisasi emisi secara akurat langsung pada planet yang bersangkutan.
Apabila temuan ini nantinya terkonfirmasi secara menyeluruh melalui penelaahan lanjutan, metode tersebut diyakini mampu membuka babak baru dalam riset eksoplanet.
Emisi radio aurora memberi peluang bagi para ilmuwan untuk mengkaji medan magnet serta interaksi planet dengan lingkungan antariksa di sekitarnya.
Karakteristik penting semacam itu selama ini sangat sulit diungkap hanya dengan mengandalkan metode pengamatan optik atau inframerah konvensional.
Status Penelitian dan Prospek ke Depan
Kendati menawarkan prospek ilmiah yang menjanjikan, para ilmuwan sepakat bahwa hasil riset ini belum bisa dianggap sebagai kesimpulan final.
Makalah ilmiah yang merinci penemuan tersebut telah diunggah ke platform pracetak arXiv pada 15 September lalu dan saat ini masih melalui tahapan penelaahan sejawat atau peer review.
Komunitas astronom dunia pun mengimbau agar masyarakat dan pemerhati sains menafsirkan temuan tersebut secara hati-hati sampai proses verifikasi akademis rampung.
Sistem keplanetan Beta Pictoris sendiri diketahui berusia sangat muda, yakni sekitar 23 juta tahun, jauh di bawah usia tata surya kita yang mencapai 4,5 miliar tahun.
Selain planet raksasa gas, sistem bintang tersebut juga dihuni oleh planet lain, komet, serta piringan debu sisa pembentukan kosmik.
Tim peneliti kini telah mengajukan alokasi waktu penggunaan teleskop tambahan guna mendalami karakteristik Beta Pictoris b serta mencari jawaban atas sumber kekuatan magnetnya yang luar biasa. (*)



