MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA – Penemuan langka dari masa lalu kembali membuka tabir kehidupan era prasejarah. Para ilmuwan berhasil mengidentifikasi sisa-sisa bulu burung purba di dalam fosil kotoran dinosaurus yang diperkirakan berusia jutaan tahun. Temuan ini menjadi bukti langsung pertama mengenai pola konsumsi dinosaurus pemakan daging terhadap spesies bersayap pada era tersebut.
Laporan Phys.org pada Selasa (15/9/2026) menyebutkan bahwa fosil sisa pencernaan yang telah membatu itu ditemukan di lapisan tanah yang berasal dari Zaman Kapur. Saat melakukan pengamatan melalui mikroskop, tim peneliti menemukan struktur serat halus yang sangat jelas. Hasil analisis mengonfirmasi bahwa bentuk serta susunan jaringan tersebut memiliki ciri khas bulu burung, bukan sisik reptil biasa.
Selama ini, kalangan akademisi dan peneliti hanya sebatas menduga bahwa sebagian jenis dinosaurus karnivora menjadikan hewan bersayap sebagai bagian dari menu makanannya. Namun, bukti fisik yang mendukung hipotesis tersebut belum pernah ditemukan secara sahih di lapangan.
Keberadaan bulu yang mengendap di dalam fosil kotoran ini menjadi bukti empiris yang mengakhiri spekulasi panjang tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa dinosaurus darat masa itu secara aktif berburu dan mengonsumsi burung purba yang hidup sezaman dengan mereka.
Selain mengungkap rantai makanan, kondisi fisik bulu yang masih relatif utuh memberikan petunjuk penting mengenai mekanisme pencernaan dinosaurus. Predator prasejarah ini diduga kuat tidak melumat makanan mereka hingga halus, melainkan menelan potongan daging mangsa dalam ukuran besar. Alhasil, bagian tubuh yang keras atau sulit dicerna seperti bulu dapat melewati saluran pencernaan dan mengkristal menjadi fosil jutaan tahun kemudian.
Temuan ini turut memperkuat teori sains yang menyatakan bahwa burung telah hidup berdampingan dengan dinosaurus dalam rentang waktu yang sangat panjang. Pada era Kapur, spesies burung belum mendominasi ruang udara secara penuh dan masih berada dalam posisi rentan terhadap ancaman predator darat.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa interaksi antara burung dan hewan pemangsa telah terbangun sejak ratusan juta tahun lalu. Burung purba harus selalu bersiap menghadapi ancaman dari berbagai penjuru, baik di udara maupun daratan, sebagaimana terekam dalam jejak bulu di dalam fosil sisa pencernaan sang pemangsa. (*)



