Alasan Mario Gila Tolak Pinangan Inter Milan Demi Berlabuh di AC Milan

Mario Gila (kiri) lebih memilih pindah ke AC Milan kendati juga diincar oleh Inter Milan. (Foto: ISABELLA BONOTTO/AFP)

MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Bek asal Spanyol, Mario Gila, mengungkapkan cerita di balik kepindahannya ke AC Milan pada bursa transfer musim panas lalu.

Pemain yang dibeli dari Lazio pada 10 Juli tersebut mengaku sempat didekati oleh sejumlah klub besar, termasuk rival sekota mereka, Inter Milan.

Meski Inter memiliki catatan prestasi yang lebih stabil dalam beberapa tahun terakhir, Gila memantapkan hati memilih berseragam Rossoneri.

“Betul, ada beberapa klub yang mendekati saya. Saya memilih Milan karena mereka adalah klub dengan sejarah yang sangat kuat, klub yang ketika mereka memanggil, sulit untuk mengatakan tidak,” ujar Gila, dilansir dari BolaSport.com.

Pernyataan tersebut disampaikan Gila dalam acara Trento Sports Festival yang berlangsung pada Sabtu, 3 Oktober 2026.

Ia menyadari bahwa Milan tertinggal secara level kompetitif dari Inter dan Napoli dalam beberapa musim kebelakang.

Kendati demikian, tantangan untuk mengembalikan kejayaan klub peraih tujuh gelar Liga Champions itu memberikan daya tarik tersendiri baginya.

“Bermain untuk tim seperti itu dan mencoba membantu mereka menang akan memberikan kepuasan lebih besar daripada bermain untuk tim yang sudah mendapatkan kemenangan,” kata pemain kelahiran 29 September 2000 ini.

Performa Awal dan Penilaian untuk Ruben Amorim

Sejak didatangkan dengan mahar 25 juta euro plus bonus 5 juta euro, mantan pemain didikan akademi Real Madrid dan Espanyol ini langsung menjadi andalan di lini belakang.

Hingga jeda internasional periode September-Oktober, Gila menjadi rekrutan anyar Milan dengan catatan penampilan paling konsisten di bawah arahan pelatih Ruben Amorim.

Berbeda dengan beberapa pemain baru lain yang masih beradaptasi atau mencari ketajaman, Gila selalu dipercaya menempati posisi starting XI.

Ia pun memberikan pandangannya terhadap karakter kepelatihan Ruben Amorim yang sempat disorot publik menyusul hasil kurang maksimal musim lalu.

“Amorim adalah pelatih yang memancarkan daya juang dan agresif saat berada dalam tekanan,” ungkap eks pemain Timnas U-21 Spanyol tersebut.

Menurutnya, juru taktik asal Portugal itu merupakan figur pelatih modern yang menuntut kelengkapan pemain dalam fase bertahan maupun menyerang.

Gila menilai skuad saat ini masih berada di tahap awal sebuah proyek jangka panjang yang membutuhkan proses adaptasi serta kesabaran.

“Kami berada dalam awalan sebuah proyek. Ini butuh waktu, tetapi hasilnya akan datang,” pungkasnya. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan