MENITNEWS.CO.ID, BONE – Penerapan pendekatan pertanian cerdas berbasis empat inovasi utama di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, berhasil mendongkrak produktivitas padi secara signifikan dari sekitar 3 ton menjadi 5,3 ton per hektare.
Selain meningkatkan volume panen, program bertajuk Mannennungeng yang diinisiasi Tim PPK Ormawa UKM KPI Universitas Hasanuddin (Unhas) tersebut memangkas penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen serta menghemat konsumsi air untuk irigasi hingga 25 persen.
Capaian terukur tersebut dipaparkan dalam lokakarya yang digelar di Baruga La Tea Ri Duni, Kompleks Rumah Jabatan Bupati Bone, Senin (28/9/2026). Forum ini menjadi bagian dari rangkaian agenda Passompe Mattana Bone pada festival Gau’ Maraja 2026.
Peningkatan hasil panen dan efisiensi lahan ini dicapai melalui integrasi empat inovasi lokal yang dikembangkan mahasiswa bersama petani setempat, yaitu Uwai Tuo, Pabbura, Warani, dan Garisi’. Keempat metode ini difokuskan pada efisiensi pemanfaatan sumber daya alam serta peningkatan kapasitas kelembagaan kelompok tani.
Sebagai tanda beralihnya pengelolaan program secara penuh ke masyarakat lokal, dilakukan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) antara Tim Unhas dengan kelompok penerima manfaat, yakni Gapoktan Sipurio Sipurennu dan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Lamellong.
Rekomendasi Kebijakan untuk Pemkab Bone

Tak hanya menyerahkan aset dan alat pendukung kepada kelompok tani, tim mahasiswa Unhas turut menyerahkan dokumen Policy Brief kepada Pemerintah Kabupaten Bone. Dokumen berisi rekomendasi kebijakan tersebut diharapkan menjadi pijakan awal Pemkab dalam mereplikasi model pertanian cerdas di wilayah lain.
Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, mengapresiasi kontribusi akademisi dan mengajak peran aktif warga perantau (Passompe) untuk berinvestasi dan membangun sektor agraris di daerah asal.
“Para Passompe adalah duta-duta Bone di perantauan. Kami berharap mereka tidak hanya sukses di tanah rantau, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perantau adalah kunci percepatan pembangunan di Kabupaten Bone,” ujar Andi Asman dalam keterangan tertulis.
Nilai pengabdian tersebut merefleksikan filosofi Bugis “Lao Sapa Deceng, Lesu Mappadeceng”—pergi menuntut ilmu dan mencari kebaikan, lalu kembali membawa kebaikan bagi tanah kelahiran.
Ujian Keberlanjutan di Tangan Petani
Dosen Pendamping Program, Muh. Adnan Kasogi, menegaskan bahwa penyerahan BAST bukanlah akhir dari pendampingan, melainkan awal ujian kemandirian bagi petani lokal.
“Lokakarya ini bukanlah akhir. Justru di sinilah ujian sesungguhnya dimulai—yaitu memastikan bahwa apa yang telah kita bangun bersama terus hidup dan berkembang. Kami dari Universitas Hasanuddin akan terus hadir mendampingi, meskipun dengan peran yang semakin kecil, karena tujuan akhir kita adalah kemandirian masyarakat,” kata Adnan.
Dukungan serupa disampaikan tokoh adat Bone, Andi Irwansyah, yang menilai pendekatan teknologi tepat guna ini selaras dengan nilai kebudayaan lokal. Menurutnya, filosofi Mannennungeng yang bermakna keberlanjutan mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan lingkungan.
“Program Mannennungeng telah mengingatkan kami bahwa pertanian bukan hanya soal bercocok tanam, tetapi juga soal menjaga warisan dan menjaga generasi. Kami sebagai tokoh adat siap bersinergi untuk memastikan warisan ini tetap hidup,” tutur Andi Irwansyah. (*)



