MENITNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, mengusung inovasi tata kelola bernama “Simpul Nusantara” dalam ajang penjaringan Desa dan Kelurahan Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2026.
Konsep tersebut dirancang untuk mengintegrasikan berbagai aspek pembangunan wilayah, mulai dari pelayanan publik digital, ketahanan pangan, hingga penanganan masalah sosial.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin memaparkan program unggulan tersebut secara daring di hadapan Tim Penilai Nasional dari Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa Kementerian Dalam Negeri, Kamis (8/10).
Menurut Munafri, kekuatan utama inovasi di wilayah seluas kurang lebih 1,6 kilometer persegi ini terletak pada kemampuan membangun partisipasi aktif masyarakat.
Di sektor lingkungan, Kelurahan Gunung Sari menerapkan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Sampah organik diolah menjadi kompos menggunakan sistem ember tumpuk, komposter, biopori, hingga metode TEBA yang melibatkan pengurus RT dan RW.

Kompos hasil pengolahan tersebut dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman dalam program urban farming yang dikembangkan di lahan-lahan sempit permukiman. Sementara itu, sampah anorganik dikelola melalui bank sampah dengan skema tukar pangan atau sayur.
“Program pemilahan sampah menghadirkan sirkular ekonomi di dalam wilayah kelurahan ini tentu akan memberikan dampak yang baik,” ujar Munafri melalui keterangan tertulis yang dikonfirmasi ulang, Jumat (9/10).
Lurah Gunung Sari Ahmad Abubakar menjelaskan, sistem digitalisasi turut memperkuat pelayanan kepada sekitar 18.492 jiwa penduduk di wilayah perbatasan selatan Kota Makassar tersebut.
Pemerintah kelurahan memanfaatkan aplikasi SIM Lurah untuk basis data kependudukan dan administrasi, aplikasi Lontara+ untuk pengaduan warga, serta website resmi yang terintegrasi dengan program-program Pemerintah Kota Makassar.
Pada bidang ketahanan ekonomi, pembinaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dijalankan melalui dua pilar utama. Tim Penggerak PKK berfokus pada pembentukan dan pelatihan awal, sementara Koperasi Merah Putih membantu memperluas jaringan pemasaran dan peningkatan kualitas kemasan produk.
Selain itu, aspek penanganan kesehatan masyarakat juga menjadi sorotan dalam penilaian nasional ini. Berdasarkan data Puskesmas Mangasa per 30 September 2026, tercatat adanya kasus stunting yang ditangani melalui kolaborasi kader kesehatan, Posyandu Era Baru, serta alokasi dana kelurahan untuk pemberian makanan tambahan.
Di sisi lain, penguatan ketahanan wilayah turut ditopang penjagaan tradisi budaya lokal seperti ritual adat Pasili dan kegiatan sanggar seni. Aspek keamanan dan mitigasi bencana juga dikoordinasikan melalui sinergi tiga pilar bersama TNI-Polri, Linmas, Poskamling, serta keberadaan Panggawa Bencana Kelurahan. (Adv)



