Pernyataan Kontroversial Trump Soal Nama Mohammad Picu Kritik Kelompok Muslim

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Sumber: Republika/Dok: EPA/Annabelle Gordon)

MENITNEWS.CO.ID, WASHINGTON — Pernyataan kontroversial kembali dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menyampaikan pidato politik dalam acara kampanye di Dalton, Georgia.

Dalam kesempatan tersebut, Trump melontarkan lelucon yang mengaitkan popularitas nama ‘Mohammad’ di dunia Muslim dengan jabatan kepresidenan Iran.

Komentar ini langsung memicu reaksi dingin dari massa yang hadir serta menuai kecaman keras dari berbagai kelompok advokasi Muslim dan pegiat hak asasi manusia.

Kelompok-kelompok tersebut menilai retorika yang disampaikan Trump kerap mendemonisasi serta mengejek umat Muslim, imigran, dan kelompok minoritas etnis di Amerika Serikat.

Peningkatan Retorika Jelang Pemilu Sela

Pernyataan bernada sindiran ini disampaikan di hadapan pendukung Partai Republik menjelang pemilihan umum sela yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November.

Selama masa kampanye paruh waktu ini, peningkatan retorika yang menyasar warga Amerika keturunan Somalia dan komunitas Muslim terpantau semakin sering disuarakan.

Beberapa figur publik yang kerap menjadi sasaran retorika politik serupa di antaranya kandidat Senat AS dari Partai Demokrat, Abdul El-Sayed, serta anggota DPR Ilhan Omar.

Di tengah jalurnya berkampanye, Trump juga menyinggung dinamika politik di Iran dengan menyebut negara tersebut sebagai kawasan di mana tidak ada seorang pun yang ingin menjadi presiden.

Ia kemudian melontarkan candaan dengan bertanya kepada audiens mengenai kemungkinan orang bernama Mohammad menduduki jabatan tersebut.

Untuk diketahui, Masoud Pezeshkian telah memegang tampuk kepresidenan Iran sejak tahun 2024.

Latar Belakang Hubongan AS-Iran dan Isu Domestik

Pernyataan mengenai Iran ini disampaikan tidak lama setelah tensi geopolitik antara Washington dan Teheran meningkat.

Tujuh bulan sebelumnya, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan operasi militer yang bertujuan melumpuhkan program nuklir negara tersebut.

Dalam pidatonya, Trump kembali menegaskan janji politiknya bahwa Iran tidak akan pernah diizinkan memiliki senjata nuklir.

Sementara itu, di ranah domestik Amerika Serikat, tensi sosial terkait isu keagamaan turut menjadi sorotan.

Sebuah laporan tahunan dari Council on American-Islamic Relations (Dewan Hubungan Amerika-Islam) yang dipublikasikan awal tahun ini mencatat adanya lonjakan kasus Islamofobia.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa peningkatan sentimen negatif tersebut sebagian didorong oleh kebijakan keras imigrasi serta respons terhadap aksi protes pro-Palestina selama masa jabatan kedua Trump.

Bagi masyarakat Indonesia, dinamika politik domestik Amerika Serikat dan isu diskriminasi terhadap kelompok minoritas kerap menjadi perhatian dalam diskursus global mengenai kebebasan beragama dan hak asasi manusia. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan