Ultimatum Houthi ke Arab Saudi Usai Serangan Mematikan Bandara Riyadh

Ledakan yang sangat kuat hingga menimbulkan api. (Sumber: IDN Times)

MENITNEWS.CO.ID, JAKARTA — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah kelompok Houthi di Yaman melayangkan ultimatum keras kepada Arab Saudi. Kelompok tersebut mengancam akan melancarkan serangan yang jauh lebih destruktif jika Riyadh tidak segera menghentikan agresi militer dan dukungannya di Yaman.

Ancaman terbuka ini disampaikan melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Yaman yang berada di bawah kendali Houthi dan disiarkan oleh stasiun televisi Al-Masirah pada Minggu (11/10/2026), sebagaimana dikutip dari Jerusalem Post.

“Kecuali musuh (Arab) Saudi menghentikan agresi dan campur tangannya di Yaman, yang lebih buruk akan terjadi, Insya Allah,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Ultimatum ini dikeluarkan hanya berselang sehari setelah Houthi menggempur Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu (10/10/2026). Berdasarkan laporan SBS News yang dilansir IDN Times, serangan rudal tersebut menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya, serta memicu kebakaran hebat di sejumlah area fasilitas publik vital tersebut.

Rekaman video yang dirilis NBC News memperlihatkan detik-detik kepanikan saat serangan terjadi secara mendadak di area bandara yang dipadati oleh warga yang sedang mengantre maupun duduk santai. Hantaman rudal membuat sejumlah bagian bangunan runtuh seketika, mengubah suasana menjadi tegang di tengah gelombang kepanikan penumpang.

Korban Multinasional dan Reaksi Washington

Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) mengonfirmasi bahwa 12 korban jiwa dalam insiden tersebut berasal dari berbagai negara, mencerminkan keragaman multinasional di ibu kota Saudi. Korban tewas meliputi 4 warga Arab Saudi, 2 warga Bangladesh, serta masing-masing 1 warga dari Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.

Serangan mematikan ini langsung memicu reaksi keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam keterangannya kepada awak media yang dilansir NBC News, Trump menyatakan ketidaksukaannya atas eskalasi serangan yang menyasar fasilitas sipil di Riyadh.

Ia mengungkapkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan opsi untuk membantu Arab Saudi menghadapi ancaman Houthi, seraya menjanjikan keputusan cepat dalam waktu dekat.

“Mungkin saja (membantu Arab Saudi memerangi Houthi). Kami akan mempertimbangkannya. Kami baru saja mengetahui tentang serangan baru-baru ini. Jadi, kami akan mengambil keputusan. Kami bergerak sangat cepat,” ujar Trump kepada wartawan.

Kecaman Global

Gelombang kecaman internasional turut mengalir deras mengutuk aksi militer Houthi yang menargetkan infrastruktur sipil. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menegaskan bahwa serangan terhadap Bandara King Khalid merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional karena menyasar fasilitas publik di negara berdaulat.

Kecaman serupa juga datang dari berbagai negara di belahan dunia, termasuk Mesir, Qatar, Yordania, Suriah, Oman, Malaysia, Jepang, Kanada, hingga Palestina. Masyarakat internasional mendesak agar Houthi segera menghentikan aksi agresifnya demi meredakan konflik dan mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa dari berbagai latar belakang kewarganegaraan. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan