Serangan Houthi Hantam Bandara Riyadh, Keselamatan Jemaah Umrah Jadi Sorotan

Jemaah umrah di Bandara Riyadh beberapa detik sebelum serangan terjadi, Oktober 2026. (Sumber: Kumparancom/Foto: Saudi Ministry of Media/via AlekhbariyaTV)

MENITNEWS.CO.ID, RIYADH — Eskalasi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah kembali menelan korban dari kalangan warga sipil. Rangkaian serangan udara yang dilancarkan oleh kelompok Houthi dari Yaman menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, dan berdampak langsung pada para jemaah umrah yang sedang bersiap melakukan perjalanan ibadah.

Dalam rekaman video yang beredar luas di media sosial, tampak sejumlah jemaah umrah yang mengenakan pakaian ihram berada di ruang tunggu terminal bandara sebelum hantaman serangan terjadi. Situasi di dalam terminal dilaporkan porak-poranda akibat serangan yang menjadi bagian dari eskalasi militer terbaru di kawasan tersebut.

Media lokal Saudi Gazette melaporkan bahwa bagi umat Islam di seluruh dunia, bandara-bandara di Arab Saudi memiliki arti vital sebagai gerbang menuju kota suci Makkah dan Madinah. Jalur udara ini menjadi titik krusial bagi kedatangan jemaah yang hendak menunaikan ibadah spiritual.

Rangkaian Korban Jiwa dan Respons Militer

Rentetan serangan ke Bandara Riyadh dalam sepekan terakhir telah memicu korban jiwa dari warga lokal maupun warga negara asing. Berdasarkan catatan operasional keamanan, serangan yang terjadi secara berturut-turut pada awal Oktober telah menewaskan belasan jiwa serta melukai ratusan orang lainnya.

Pada serangan gelombang 6 hingga 7 Oktober, tercatat tiga orang dilaporkan tewas. Angka korban jiwa kembali bertambah pada hari-hari berikutnya, di mana serangan pada Sabtu (10/10) merenggut 13 nyawa dan melukai 309 orang, disusul satu korban jiwa pada Minggu (11/10).

Sebagai respons atas gempuran tersebut, Koalisi Pemulihan Legitimasi di Yaman yang dipimpin oleh Arab Saudi melancarkan operasi balasan berskala besar. Otoritas koalisi mengerahkan serangan udara yang menyasar lebih dari seratus target militer milik kelompok Houthi di wilayah Yaman.

Peringatan Terbuka Kelompok Houthi

Melalui pernyataan resmi yang dirilis lewat platform media sosial X dan dikutip oleh kantor berita Reuters, kelompok Houthi mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh maskapai penerbangan, pekerja, serta wisatawan.

“Kami memperbarui peringatan kami kepada seluruh maskapai penerbangan, karyawan, pekerja, dan wisatawan agar tidak menggunakan bandara dan ruang udara Arab Saudi,” demikian pernyataan resmi kelompok Houthi. Mereka mengecualikan bandara di wilayah Makkah dan Madinah dari target operasi militernya.

Kelompok tersebut juga menyatakan bahwa wilayah udara Arab Saudi telah menjadi zona operasi militer dan meminta pihak maskapai maupun otoritas penerbangan untuk menanggapi peringatan ini secara serius.

Akar Konflik dan Dampak Regional

Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi berakar dari krisis berkepanjangan di Yaman yang memuncak sejak tahun 2014. Saat itu, kelompok Houthi berhasil merebut ibu kota Sana’a dan menggulingkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang sah.

Perkembangan politik tersebut mendorong intervensi militer dari koalisi pimpinan Arab Saudi pada Maret 2015. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai konflik berkepanjangan ini sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, yang kerap diwarnai oleh serangan lintas batas menggunakan rudal dan drone ke fasilitas vital Saudi.

Hingga saat ini, belum ada informasi resmi dari otoritas terkait mengenai kepastian jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) atau jemaah asal Indonesia yang turut menjadi korban dalam insiden di Bandara Riyadh tersebut. (*)

Saluran Whatsapp Kami

Iklan