MENITNEWS.CO.ID, BULUKUMBA — Pemerintah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, meresmikan Museum Tenun Bira di Desa Bira, Kecamatan Bontobahari, Minggu (25/10/2026).
Kehadiran museum ini menjadi langkah strategis untuk melestarikan warisan tenun tradisional sekaligus memperkuat daya tarik wisata budaya di kawasan Bira.
Museum yang berada di Sentra Industri Kecil Menengah (IKM) Tenun Bira tersebut merupakan hasil kolaborasi Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bulukumba dengan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran Institut Teknologi Bandung (DPMK ITB).
Museum Tenun Bira diharapkan menjadi pusat dokumentasi, edukasi, dan promosi kerajinan tenun tradisional yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Peresmian museum dihadiri Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bulukumba Alfian Mallihungan yang mewakili pemerintah daerah, Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Tenun Bira Tamrin, Deputi Direktur Bidang Pengabdian Masyarakat DPMK ITB David Prambudi Sahara, serta Ketua Tim Pengabdian Masyarakat ITB di Bira Ira Adriati.
Turut hadir Dandim 1411 Bulukumba Letkol Inf. Heraldo Tabasonda, Kapolsek Bontobahari AKP H. Kasman, Camat Bontobahari Andi Arfan Syukri, Kepala Desa Bira Murlawa, perwakilan Kantor Urusan Agama Kecamatan Bontobahari, para penenun, kepala sekolah, budayawan, dan sastrawan Bulukumba.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bulukumba Alfian Mallihungan mengatakan, peresmian Museum Tenun Bira merupakan langkah penting untuk menjaga, merawat, dan mewariskan kekayaan budaya daerah kepada generasi mendatang.
Ia mengapresiasi DPMK ITB atas kolaborasi dan komitmennya dalam mewujudkan museum yang diharapkan memberikan manfaat bagi pelestarian budaya sekaligus pengembangan ekonomi kreatif masyarakat.
Menurut Alfian, museum tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer koleksi budaya, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat identitas daerah, menumbuhkan kebanggaan masyarakat, dan memperluas peluang pengembangan usaha berbasis kearifan lokal.
“Museum ini diharapkan menjadi ruang edukasi bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, wisatawan, dan masyarakat luas yang ingin mengenal lebih dekat keunikan tenun Bira. Pemerintah Kabupaten Bulukumba terus mendorong agar potensi budaya dan kearifan lokal dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan museum berpotensi memperkaya destinasi wisata Bira yang selama ini dikenal dengan keindahan pantai dan wisata baharinya.
Dengan adanya Museum Tenun Bira, wisatawan diharapkan tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga mengenal tradisi, kreativitas, dan keterampilan masyarakat yang menjadi bagian penting dari identitas daerah tersebut.
“Kita ingin wisatawan yang datang ke Bira tidak hanya menikmati keindahan pantai dan laut, tetapi juga mengenal kehidupan, kreativitas, serta warisan budaya masyarakatnya. Dengan demikian, pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pengembangan ekonomi masyarakat, dan produk tenun Bira semakin dikenal serta memiliki pasar yang lebih luas,” ungkapnya.
Alfian menegaskan, pengembangan museum perlu diiringi dengan upaya meningkatkan nilai tambah produk tenun. Dengan begitu, para perajin memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan usaha, memperluas pemasaran, dan meningkatkan kesejahteraan.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat ITB di Bira, Ira Adriati, menjelaskan bahwa pendirian Museum Tenun Bira merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan tradisi menenun yang menghadapi tantangan regenerasi.
Menurut Ira, jumlah perempuan di Bira yang masih menekuni keterampilan menenun semakin berkurang. Bahkan, penenun termuda dalam kelompok penenun Bira yang ditemui timnya berusia 39 tahun.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena keterampilan menenun merupakan warisan budaya yang membutuhkan penerus agar tidak terputus di tengah perubahan zaman.
“Keterampilan menenun perempuan Bira harus terus dipertahankan. Tradisi ini tidak boleh terputus dan harus ada generasi penerus. Salah satu caranya adalah memperkenalkan tenun kepada generasi muda melalui Museum Tenun Bira yang kita resmikan ini,” ujar Ira saat dikonfirmasi, Selasa (27/10/2026).

Ia berharap kehadiran museum dapat mendorong sekolah-sekolah di Bulukumba menjadikan Museum Tenun Bira sebagai salah satu tujuan kunjungan edukatif bagi peserta didik.
Melalui kunjungan tersebut, generasi muda diharapkan dapat mengenal lebih dekat kekayaan budaya Bira, mulai dari tradisi menenun, kemegahan perahu Pinisi, hingga rumah adat dan berbagai warisan budaya masyarakat setempat.
Dengan cara tersebut, museum diharapkan tidak hanya menjadi tempat untuk melihat koleksi, tetapi juga ruang pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga warisan budaya daerah.
Ira menjelaskan, keterlibatan ITB dalam kegiatan pengabdian masyarakat di Bira telah berlangsung sejak 2016 melalui penelitian mengenai perahu Pinisi.
Program tersebut kemudian berkembang melalui sejumlah kegiatan yang menghubungkan penelitian, pengembangan pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat.
Pada 2020, tim ITB melaksanakan pelatihan pembuatan cendera mata di Pulau Liukang Loe. Dua tahun kemudian, tim kembali ke Bira untuk mengembangkan situs web wisata Bira.
Pada 2025, ITB melakukan penelitian mengenai persebaran perahu Pinisi di Indonesia dengan Bira sebagai salah satu pusat penting dalam tradisi pembuatan perahu tersebut.
Rangkaian kegiatan itu berlanjut pada 2026 melalui pendirian Museum Tenun Bira sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian kerajinan tradisional masyarakat setempat.
“Alhamdulillah, melalui kolaborasi Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bulukumba bersama Tim DPMK ITB, Museum Tenun Bira akhirnya diresmikan pada 25 Oktober 2026. Museum ini dimaksudkan untuk mendokumentasikan, melestarikan, dan mengenalkan tenun Bira kepada masyarakat agar keberlangsungan warisan budaya yang tak ternilai harganya ini dapat terjaga,” jelasnya.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa upaya pelestarian budaya dapat dilakukan melalui sinergi pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Selain mendokumentasikan warisan budaya, kerja sama ini juga diharapkan membuka ruang bagi pengembangan potensi lokal secara berkelanjutan.
Kepala Desa Bira Murlawa menyambut baik peresmian Museum Tenun Bira. Ia menyampaikan apresiasi kepada Tim DPMK ITB dan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bulukumba atas kerja sama dalam menghadirkan fasilitas edukasi budaya tersebut.
Menurutnya, museum menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Desa Bira sekaligus menambah pilihan destinasi bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan tersebut.
“Tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Desa Bira dengan hadirnya Museum Tenun Bira. Semoga ke depan museum ini dapat berfungsi secara maksimal dan menjadi sarana edukasi bagi para pengunjung, terutama pelajar, mahasiswa, dan wisatawan,” harapnya.
Ke depan, Museum Tenun Bira diharapkan berkembang sebagai pusat pembelajaran budaya, dokumentasi tradisi menenun, dan promosi produk kerajinan lokal.
Pengelolaan yang berkelanjutan juga menjadi faktor penting agar museum dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Selain menjaga keberlangsungan tradisi menenun, keberadaan museum diharapkan memperkuat posisi Bira sebagai destinasi wisata yang menawarkan perpaduan antara keindahan alam, kekayaan sejarah, dan budaya lokal.
Dengan dukungan pemerintah daerah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan masyarakat, Museum Tenun Bira diharapkan mampu memperluas pengenalan tenun tradisional Bulukumba, membuka peluang ekonomi kreatif, serta memastikan warisan budaya tersebut tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Peresmian museum ini menjadi wujud sinergi antara Pemerintah Kabupaten Bulukumba, Tim Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, serta masyarakat setempat dalam menjaga kekayaan budaya daerah sekaligus mengembangkan potensi wisata budaya di Sulawesi Selatan. (red)



